Alvi Warda


Wartawan Tadatodays.com | 2022-08-29 12:48:25

Mahasiswa KKN UPM di Randuputih bersama Dosen dan Warga Menanam Mangrove

KKN UPM: Mahasiswa KKN UPM di Desa Randuputih, Dringu, bersama dosen dan warga setempat melakukan aksi penanaman mangrove di Pantai Kampung Pelangi Randuputih (PKPR).

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo di Desa Randuputih, Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo, melakukan kegiatan konservasi. Mereka menanam 200 bibit mangrove di Pantai Kampung Pelangi Randuputih (PKPR). Kegiatan itu dilakukan Bersama dosen dan lebih dari 20 warga setempat.

Penanaman mangrove yang dilakukan pada Minggu (28/8/2022) sore itu sebagai program kerja (proker) bantu oleh mahasiswa KKN UPM di Desa Randuputih. Mereka yang sebelumnya sudah satu bulan menetap di Desa Randuputih, memilih proker dengan melakukan observasi yang tepat. PKPR sering kali mengalami banjir rob atau banjir oleh luapan air laut pasang. Oleh karenanya, penanaman mangrove ini sebagai antisipasi, agar akar mangrove dapat menahan abrasi.

Baca Juga : Mahasiswa KKN UPM di Randuputih bersama Dosen dan Warga Menanam Mangrove

Perangkat Desa Randuputih Misnadi yang juga ikut menanam, mengaku sangat senang dengan adanya program penanaman mangrove ini. Pria 47 tahun itu mengatakan, PKPR ini memang tidak dibawahi oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Maka, begitu mendengar mahasiswa KKN ingin menanam mangrove, ia langsung menyetujuinya.

Baca Juga : Universitas Panca Marga Terjunkan 442 Mahasiswa dalam Program KKN; Survei Langsung ke Masyarakat, Baru Laksanakan Program

Misnadi langsung mengajak warga lainnya ikut serta menanam mangrove. Ia berharap, bertambahnya mangrove bisa mengurangi terjadinya banjir rob. “Alhamdulilah kompak, dan kami sangat senang,” tutur Misnadi di sela kegiatan menanam mangrove, Minggu sore.

AKSI LINGKUNGAN: Mahasiswa KKN UPM di Desa Randuputih bersama dosen dan masyarakat. Menanam mangrove dengan tujuan utama melindungi lingkungan dari abrasi dan banjir rob. 

PKPR dari waktu ke waktu memang sudah tidak seindah dulu. Ekosistem pasirnya sudah menurun. Adelia Anggreni Lestari selaku mahasiswa UPM Probolinggo seksi proker mengatakan, saat melakukan observasi, ia melihat harus ada gebrakan untuk membangun kembali minat pariwisata PKPR. “Pantai ini harus bisa hidup terus pariwisatanya. Waktu observasi, masalah desa itu memang terletak di pariwisatanya,” ujarnya.

Sampah yang berserakan di pantai PKPR ini adalah bawaan dari banjir rob. Padahal, setiap akhir bulan selalu diadakan bersih-bersih akbar. Namun, tetap saja, sampah selalu berserakan. Ditambah, ekosistem tanah atau pasir PKPR juga tidak bagus.

Setiap desa menanam mangrove, tak sampai lama mangrove itu akan rusak. Berdasarkan observasi mahasiswa KKN ini, tanah sudah bercampur dengan sampah, akibatnya penanaman mangrove sebelumnya sering kali gagal. Selain itu, hewan laut juga menggerogoti akar muda mangrove.

LINDUNGI AKAR: Agar akar mangrove tidak mudah rusak dan gagal tumbuh, akar bibit mangrove dimasukkan dalam botol.

Untuk mengantisipasinya, Adelia bersama rekannya KKN UPM menanam bibit mangrove yang dilindungi dengan botol bekas dan bambu sebagai penyanggah, sebelum dimasukkan dalam tanah. Mereka mendapat botol bekas dengan membeli pada pengepul. Selain itu, ia juga memunguti botol bekas di jalan. “Kami memakai botol untuk melindungi tumbuhnya mangrove,” ucapnya.

Prosesnya sama dengan penanaman mangrove pada umumnya. Yang membedakan hanyalah penambahan botol bekas untuk melindungi akar. Mereka membeli bibit pohon mangrove dengan iuran pribadi. Sebanyak 200 mangrove itu dimasukkan ke dalam botol yang sudah dilubangi. Kemudian mengrove itu dimasukkan ke tanah menggunakan alat sekop khusus. Lalu diikat pada bambu, sebagai penahan.

Adelia berharap, penanaman ini bisa berhasil. Ia meminta warga supaya menjaga dan memantau mangrove ini dengan rutin. Ia juga berharap, adanya penambahan dan penamanan mangrove ini bisa mengurangi banjir rob sehingga sampah bawaan juga bisa berkurang. “Semoga bisa tumbuh dan sesuai harapan,”ujarnya

Selanjutnya, dosen pendamping lapangan mahasiswa KKN UPM di Desa Randuputih Titin Krisnawati menyatakan sangat setuju mendengar mahasiswanya ingin menanam mangrove di PKPR. Selain penanaman mangrove, mahasiswanya sudah melakukan proker sesuai jurusan masing-masing. Seperti pemberdayaan UMKM, sosialisasi dan pendampingan pengurusan ijin usaha bagi UMKM, pemanfaatan teknologi digital, bimbingan teknis pembuatan pupuk organik, pembuatan papan nama jalan, dan pengembangan sektor pendidikan.

Proker bantunya adalah penanaman mangrove. Bahkan, selain penanaman mangrove, mereka membuat tempat sampah dari timba bekas cat yang dimasukkan dalam rak yang terbuat dari bambu. Tempat sampah itu, kemudian ditempatkan di beberapa titik di Desa Randuputih. “Anak-anak juga membuat tempat sampah di beberapa titik,” kata Titin.

Sesuai dengan permintaan desa, Titin melihat mahasiswanya sudah melakukan proker dengan tepat. Ia berharap, dengan adanya KKN ini bisa membentuk karakter mahasiswa yang bisa bermanfaat untuk masyarakat. “Semoga bisa menjadi mahasiswa yang bermanfaat bagi masyarakat, dan membawa nama kampus dengan baik,” ujarnya. (*/alv/why)