Mahkota Surga

Syarif Hidayatullah
Sabtu, 11 May 2019 15:25 WIB

ilustrasi
.png)
TIDAK biasanya, baginda Raja Harun Al-Rasyid tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat jelata. Raja Harun punya keinginan untuk menjadi rakyat jelata dan ingin hidup leluasa tanpa ada yang mengawasinya.
Dengan berpakaian sederhana seperti rakyat pada umumnya, Raja pun keluar istana. Di tengah-tengah perkampungan, raja melihat ada orang berkumpul. Lalu, Raja mendekat, ternyata ada seorang ulama sedang bertausiah.
Dalam tausiahnya ulama itu bercerita tentang kisah alam barzah atau alam akhirat. Di saat sedang mendengarkan tausiah, tiba-tiba ada orang datang dan langsung bergabung. Ia lalu bertanya pada ulama itu.
“Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya. Namun, kami tidak mendengar mereka berteriak dan tidak pula mendengar penyiksaan-penyiksaan yang dialaminya. Pertanyaannya, bagaimana melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dilihat dengan mata?” ujarnya.
Seorang ulama itu, lantas terdiam. Dan kemudian ia berkata, “Untuk mngetahui yang begitu harus memakai panca indra yang lain,” jawab sang ulama.
Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tertidur? Dalam tidurnya ia kadang bermimpi digigit ular, diganggu dan lainnya. Ia merasa ketakutan dan kesakitan. Lalu ia memekik dan keringat bercucuran di keningnya.
Sedangkan, engkau yang duduk di sebelahnya seolah-olah tidak merasakan apa-apa. Padahal, apa yang dilihat dan dialami orang tersebut adalah ular di sekelilingnya.
"Jika masalah mimpi yang remeh saja tidak mampu mata lahir melihatnya, mungkinkah engkau mampu melihat apa yang terjadi di alam barzah?," ujar ulama itu.
Dengan penjelasan ulama itu, Baginda Raja Harun sangat terkesan. Dan terus mengikuti tausiahnya. Setelah itu, ulama tadi melajutkan cerita tentang alam akhirat. Katanya, di surga tersedia hal-hal yang disukai nafsu. Termasuk benda-benda.
Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yang luar biasa indahnya. Tak ada barang-barang yang lebih indah di surga karena mahkota itu terbuat dari cahaya. Saking indahnya, satu mahkota itu lebih indah dari dunia dan isinya.
Dengan penjelasan itu Raja Harun makin terkesan dan ingin cepat pulang ke istana. Setelah sampai istana Raja langsung memanggil Abu Nawas dan ingin menguji kemampuannya.


Aku menginginkan mahkota surga yang katanya terbuat dari cahaya itu. Apakah engkau sanggup Abu Nawas. “Sanggup paduka,” jawab Abu Nawas yang sebenarnya berpendpaat bahwa tugas itu mustahil dikerjakan.
“Namun paduka harus menyanggupi satu syarat yang hamba ajukan,” pintanya.
“Sebutkan syarat itu wahai Abu Nawas,” ujar Baginda
“Hamba minta paduka menyediakan pintunya agar hamba bisa mamasukinya,” katanya tenang.
“Pintu apa,” tanya Raja Harun yang belum mengerti maksud Abu Nawas.
“Pintu alam akhirat,” jawabnya.
“Apa maksudmu itu,” jawab Raja Harun yang masih belum paham.
“Kiamat wahai paduka yang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu. Pintu alam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah kematian. Dan pintu alam kiamat adalah kematian. Surga berada di alam akhirat. Bila paduka masih berkenan hamba mengembil mahkota di surga maka dunia harus kiamat lebih dahulu,” ujarnya.
Melihat jawaban Abu Nawas, Baginda Raja Harun terdiam. Di sela-sela kebingunan Raja Harun Abu Nawas kembali bertanya “Masihkah Paduka menginginkan hamba mengambil mahkota di Surga?’” tanyanya lagi.
Mendapatkan pertanyaan itu, Baginda Raja Harun diam seribu bahasa. Sejenak kemudian Abu Nawas Pamit undur diri karena Raja Harun sudah tahu jawabannya. (*)
(*/dinukil dari cerita dan dongeng rakyat).



Share to
 (lp).jpg)