Hilal Lahan Amrullah


Wartawan Tadatodays.com | 2021-01-16 15:58:12

Majukan Kraksaan, Tingkatkan Perekonomian Melalui Koperasi dan UMKM

BANGGA: Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari saat mencoba produk batik hasil karya pebatik lokal. Saat ini pemkab terus melakukan pembinaan serta promosi produk batik lokal ke pasar nasional maupun luar negeri. (Foto diambil sebelum pandemi)

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Kesenjangan ekonomi di masa lalu, menjadi salah satu alasan kenapa Kota Kraksaan kemudian diusulkan menjadi ibukota kabupaten. Kini, meski mengakui masih belum sempurna, perlahan tapi pasti Kraksaan tumbuh dan berkembang sesuai cita-cita di masa lalu.

Sudah 11 tahun Kraksaan menyandang status sebagai ibukota. Perekonomian warga pun meningkat, seiring dengan tumbuhnya koperasi dan dibinanya ribuan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) oleh pemkab setempat.

Baca Juga : Jabatan Kades Jadi Rebutan, Balon 16 Desa di Kabupaten Probolinggo Lebih 5 Orang

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) Anung Widiarto mengatakan, arah pembangunaan Kabupaten Probolinggo pada umumnya maupun Kota Kraksaan pada khususnya, berada di rel yang benar.

Baca Juga : Pastikan Aman dan Halal, Tokoh Masyarakat Kabupaten Probolinggo Divaksin Covid-19

“Namun demikian, di sana sini masih perlu penataan lebih baik lagi. Tentunya perkembangan di sisi ekonomi, seperti penataan pasar yang belum sempurna. Sudah bagus,” terang pria yang akrab disapa Anung tersebut.

Pembentukan koperasi sebagai soko guru ekonomi, digenjot untuk memfasilitasi masyarakat berusaha. “Koperasi itu bukan milik si A dan si B, tetapi milik sebuah komunitas,” jelasnya.

BINAAN: Salah satu pelaku UKM dengan hasil produksi batiknya. Pemkab juga memberikan peluang perusahaan membina UKM lokal sebagai bagian dari sinergisitas membangun perekonomian.

Dinkop UKM sendiri, berperan memfasilitasi pembinaan agar koperasi tersebut berkembang. Anung menyebut, Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari juga memberi perhatian pada koperasi. Termasuk membentuk generasi milenial berkoperasi, dan pembangunan koperasi batik.

Tak kurang, ratusan koperasi dengan berbagai macam fokus kegiatan terbentuk. Koperasi-koperasi inilah yang juga menyokong aktivitas pelaku UMKM dari sisi permodalan. Selain melalui bantuan stimulus pemkab maupun fasilitas yang disediakan perbankan.

Sedikitnya, sudah ada 5.355 unit UMKM di Kraksaan yang berdiri. Dinkop UKM pun kemudian memperkuat sistem marketing. Seperti pembangunan marketplace. Sehingga para pelaku usaha dapat merubah cara penjualan offline menjadi online.

“Konsumen tidak perlu bertatap muka lagi untuk mendapatkan atau memilih produk-produk UMKM kita. Dengan sarana digital melalui aplikasi android, bisa mencari produk-produk UKM yang disukai,” ungkapnya.

Targetnya nanti, UMKM bisa mandiri. Saat ini menurut Anung, pemkab sudah membangun rumah UMKM yang di dalamnya juga ada Klinik Konsultasi Bisnis (KKB). Mereka yang mau atau sudah punya usaha dan membutuhkan advice, bisa memanfaatkan fasilitas tersebut.

KKB yang sudah berjalan sejak 2018 memfasilitasi pelaku UMKM untuk mendapatkan informasi tentang administrasi. Baik meliputi Online Single Submission (OSS) dan sebagainya. “Perizinannya sudah menjadi satu di OSS,” kata mantan Kepala Disbudpar tersebut.

“Selain dalam bentuk pembinaan yang masih tetap berjalan, kita juga menghubungkan para pelaku UKM dengan asosiasi selevel Provinsi Jawa Timur dan level nasional. Akhirnya produk-produk kita dapat terjual ke luar pulau, dan luar Indonesia,” katanya.

BELA BELI: Dinkop UKM juga melakukan program Bela Beli untuk meningkatkan perekonomian UMKM lokal. Warga kabupaten diarahkan untuk belanja produk lokal daripada produk luar kabupaten.

Di masa pandemi covid-19, Dinkop UKM juga mendorong pelaku usaha membidik peluang bisnis baru. Seperti UKM batik yang dulunya membuat batik, kini beralih memproduksi masker. Hal ini dilakukan agar perekonomian tetap tumbuh.

Produk batik Probolinggo kini bermitra dengan seorang desainer bernama Ulya Afif yang telah ditunjuk Bupati Probolinggo. Sehingga, karya batik tersebut bisa dipasarkan ketika even-evet nasional.

“Ke depan kita lebih aktif lagi melaksanakan pembinaan, baik secara mandiri maupun kedinasan. Agar UKM-UKM khususnya di lingkungan Kota Kraksaan lebih bergairah,” beber mantan Asisten Administrasi, Perekonomian, dan Pembangunan Kabupaten Probolinggo tersebut.

Selama pandemi, Anung menyadari adanya penurunan omset bagi para pelaku UKM. Namun, hal itu teratasi dengan penjualan secara online. Pemasaran pun dilakukan secara maksimal melalui media sosial maupun marketplace.

“Kita buat grup media sosial, kita beri nama grup UKM Let’s Go yang anggotanya adalah komunitas UKM. Kita dapat bantuan dari OJK terkait digital marketing, cara membranding produk, dari penampilan dan kualitas, sekaligus pendampingannya. Sehingga produk kita dapat lebih dikenal,” jelasnya.

Konsep Bela Beli juga digencarkan pada warga lokal. Masyarakat Kabupaten Probolinggo diarahkan membeli produk lokal agar perputaran uang tidak perlu keluar. (hla/sp)