Manisnya Duku Rejoso Pasuruan: Si Mungil Berbiji Tipis Andalan Petani

Amal Taufik
Amal Taufik

Tuesday, 24 Mar 2026 06:01 WIB

Manisnya Duku Rejoso Pasuruan: Si Mungil Berbiji Tipis Andalan Petani

DUKU: Seorang pemuda memetik duku.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Aroma manis yang khas menyeruak di antara rimbunnya dedaunan hijau di Dusun Petahunan, Desa Ketegan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Pertengahan bulan Maret menjadi momen yang istimewa bagi para petani setempat. Musim panen duku yang dinanti-nanti akhirnya tiba, membawa berkah manis bagi ekonomi warga.

Duku Rejoso bukanlah sekadar buah musiman biasa. Di kalangan pencinta buah, namanya sudah melegenda sebagai kompetitor berat duku Palembang.

Keistimewaannya terletak pada perpaduan rasa manis yang konsisten, daging buah yang tebal, biji yang cenderung kecil, serta daya simpan yang lebih lama dibandingkan duku dari daerah lain.

Seorang pemuda berbaju hitam nampak cekatan memilah butiran duku langsung dari dahan pohonnya. Dengan penuh kehati-hatian, ia memetik rangkaian duku yang sudah matang sempurna.

Pemandangan ini menjadi bukti bahwa regenerasi petani duku di Rejoso masih terjaga, di tengah tantangan zaman yang kian dinamis.

Abdul Karim, salah satu petani duku di Ketegan, menceritakan garis waktu panjang keterikatannya dengan komoditas ini. Ia tercatat sudah merawat pohon duku sejak tahun 1970. Meski jumlah pohonnya kini menyusut dari 50 menjadi sekitar 25 pohon karena faktor usia, semangatnya tak pernah padam.

"Dulu waktu pohonnya masih banyak, saya masih belajar bagaimana membungkus duku yang benar agar tidak diserang hama. Sekarang tantangannya berbeda, banyak pohon yang mati dimakan usia," ujar Karim, Selasa (17/3/2026).

Secara teknis, satu pohon duku berukuran besar di Rejoso mampu menghasilkan hingga 1 kuintal buah dalam sekali panen. Namun, rata-rata produksi per pohon berada di kisaran 60 hingga 70 kilogram.

Menariknya, petani duku Rejoso hampir tidak bingung mencari pembeli. Jika masuk panen, langsung ada pembeli yang datang dan siap memborong semuanya. Buah ini membuat para tengkulak dan pembeli borongan langsung mendatangi kebun-kebun warga. Harga di tingkat petani pun cukup menjanjikan, berkisar antara Rp 27 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram.

Camat Rejoso, Arfian Fakhrudin Kurdiamsyah, mencatat setidaknya masih ada sekitar 1.000 pohon duku yang berdiri kokoh di wilayahnya. Pohon-pohon ini tersebar di empat desa utama, yakni Desa Ketegan, Kawisrejo, Pandanrejo, dan Rejoso Kidul.

"Meskipun secara kuantitas berkurang dibandingkan dekade lalu, masyarakat tetap mempertahankan pohon duku sebagai pendapatan utama saat musimnya tiba. Kawisrejo dan Pandanrejo adalah pusatnya, tapi Ketegan selalu menjadi yang paling awal memulai panen," jelas Arfian.

Secara ilmiah, duku (Lansium domesticum) memang memiliki segudang manfaat yang belum banyak diketahui publik. Selain rasanya yang menyegarkan, duku kaya akan vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan alami. Kandungan seratnya yang tinggi juga sangat baik untuk melancarkan sistem pencernaan manusia.

Tak hanya itu, duku mengandung kompleks vitamin B seperti riboflavin dan thiamine yang berperan penting dalam proses metabolisme energi tubuh. Bagi mereka yang sedang menjalani diet, duku bisa menjadi pilihan camilan sehat karena memiliki kandungan lemak yang rendah namun tetap memberikan rasa kenyang yang cukup.

Pemerintah setempat pun tak tinggal diam dalam menjaga kelestarian ikon daerah ini. Upaya memperbanyak bibit melalui teknik cangkok antara duku dengan langsep lokal terus digalakkan, baik melalui bantuan Dinas Pertanian maupun program CSR dari perusahaan-perusahaan sekitar.

"Harapan kami, warga terus menjaga kelestarian pohon duku ini. Ini bukan sekadar buah, tapi identitas dan ikon Kabupaten Pasuruan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Kami ingin Rejoso tetap menjadi surga bagi para pemburu duku kualitas premium," kata Arfian. (pik/why)


Share to