Marak Kasus Remaja Bunuh Diri, Psikolog Sebut Pengaruh Lingkungan dan Media Sosial

Amelia Subandi
Thursday, 08 Jan 2026 05:48 WIB

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Maraknya kasus remaja bunuh diri, patut menjadi perhatian serius. Psikolog Aries Dirgayunita menyebut pengaruh lingkungan dan media sosial, termasuk menjadi faktor penyebabnya.
Aries Dirgayunita merupakan dosen psikologi di Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo. Ia juga psikolog di UPTD PPA Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Anak Kota Probolinggo.
Menurut Aries, remaja mudah melakukan tindakan mengakhiri hidup dengan bunuh diri, karena berada pada fase usia perkembangan. Di fase tersebut, pengakuan teman sebaya menjadi segalanya.
“Ketika mereka merasa diabaikan (tidak disapa), otak mereka memprosesnya sebagai penolakan sosial yang menyakitkan secara fisik. Jika mereka merasa tidak lagi memiliki tempat di lingkungan sosialnya, muncul perasaan ‘tidak memiliki keterikatan’ yang merupakan salah satu pemicu kuat ide bunuh diri,” terang Aries dalam percakapan dengan tadatodays.com, Rabu (7/1/2026).
Aries menjelaskan, bagian otak remaja yang mengatur kontrol diri (prefrontal cortex) belum matang sempurna. Sedangkan emosi mereka sangat meluap-luap. Hal ini membuat mereka cenderung mengambil keputusan impulsif saat merasa terdesak.
Lalu menurut Aries, penyebab lainnya juga datang dari pengaruh media sosial. Distorsi kognitif akibat media sosial juga mempengaruhi kehidupan. Di media sosial yang tampak "selalu bahagia", membuat remaja merasa masalah mereka adalah yang paling berat. Mereka kehilangan perspektif bahwa kegagalan sosial adalah hal yang wajar.
Resiliensi atau kemampuan seseorang dalam mempertahankan diri, beradaptasi dan kembali bangkit secara positif, yang rendah. Kurangnya pelatihan keterampilan koping (coping mechanism) membuat mereka tidak tahu cara mengolah rasa kecewa. Ujungnya, kematian dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menghentikan rasa sakit emosional (emotional pain).
Di sisi lain, dukungan emosional orang terdekat dengan mengajak berbicara atau bercerita tentang masalah yang dihadapi sangat penting dalam membantu melepaskan beban emosional orang yang ingin bunuh diri.

Maka, tambah Aries, apabila orang tua mendapati putra putrinya sedang dalam fase putus asa atau bahkan bercerita tentang ketidaknyamanannya terhadap lingkungan sekolah, dengarkan, dan jangan menghakimi.
“Tunjukkan rasa perhatian, bukan menghakimi. Jangan pernah berkata, ‘cuma nggak disapa aja kok sedih?’ Kalimat ini menutup pintu komunikasi. Gunakan kalimat "Mama/ibu/ayah/bunda/bapak lihat kamu sedih sekali hari ini, apa karena kejadian di sekolah tadi? Cerita yuk, Mama dengerin,” kata Aries.
Berikutnya, orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku anak. Tanda bahaya bukan hanya tangisan. Perhatikan jika anak tiba-tiba menarik diri, nafsu makan berubah, atau memberikan barang-barang kesayangannya kepada orang lain.
Jangan meremehkan keinginan pindah sekolah. Jika anak meminta pindah, itu adalah "teriakan minta tolong" (cry for help). Evaluasi mendalam bersama profesional apakah lingkungan tersebut memang sudah toksik bagi mentalnya atau hanya alasan biasa saja.
Namun, tidak hanya orang tua yang punya perang penting. Sekolah juga perlu memberikan perhatian lebih dengan kondisi siswa yang mengalami rasa tidak nyaman dengan lingkungannya. Bagi lingkungan sekolah, sistem deteksi dini hal yang paling utama dilakukan adalah guru harus peka terhadap dinamika sosial di kelas (siapa yang dikucilkan, siapa yang sering sendirian).
“Protokol anti-bullying yang tegas. Sekolah tidak boleh menganggap remeh perundungan verbal atau relasional (seperti mendiamkan/mengucilkan teman, red),” terang Aries.
Selanjutnya, sekolah bisa menyediakan layanan konseling yang aman. Pastikan guru BK adalah sosok yang dianggap sahabat oleh siswa, bukan polisi sekolah yang menakutkan.
Sementara, berikut ini statistik kasus bunuh diri anak usia pelajar merujuk data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Ada tren angka yang cukup tinggi dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2023 terjadi 46 kasus. Tahun 2024 terjadi 43 kasus. Tahun 2025 (Januari - Oktober) terjadi 25 kasus. (mel/why)

Share to
 (lp).jpg)