Alvi Warda


Wartawan Tadatodays.com | 2022-05-03 21:12:33

Masjid Tiban dan Perjalanan Syekh Maulana Ishak

IBADAH: Bangunan Masjid Tiban ditambah di bagian depan untuk menampung banyaknya jumlah jamaah, terutama saat ibadah salat Jumat. Masjid Tiban banyak disinggahi pengendara yang melintas di ruas Jalan Soekarno Hatta Kota Probolinggo.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Di Probolinggo ada sejumlah masjid yang menarik dari aspek cerita pendiriannya, atau arsitekturnya. Salah satunya adalah Masjid Tiban Babussalam yang terletak di Jl. Soekarno-Hatta No. 53, Kelurahan Pilang, Kec. Kademangan, Kota Probolinggo.

Masjid Tiban terletak di sisi utara Jl. Nasional jurusan Surabaya-Bali. Lokasi Masjid Tiban dihimpit sawah sisi utara dan timur. Lalu di sisi barat ada rumah warga.

Baca Juga : Masjid Tiban dan Kisah Perjalanan Syekh Maulana Ishak

Beny Hidayat, anggota takmir Masjid Tiban, merupakan keturunan dari pendiri Masjid Tiban Babussalam. Saat ditemui pada Rabu (6/04/2022), Beny menuturkan bahwa dulu banyak sekali simpang siur riwayat berdirinya Masjid Tiban. Akhirnya, ia melakukan meditasi untuk menelusuri kebenaran cerita berdirinya Masjid Tiban.

Beny menceritakan, ada dua orang santri yang mendirikan Masjid Tiban. Mulanya bukan disebut masjid, namun surau. Karena kondisi bangunan yang tidak besar.

Dua santri tersebut namanya, Mbah Bujuk Pandan Songo atau Rahmat dan Mbah Bujuk Laut. Keduanya merupakan santri dari Syekh Maulana Ishak dan putranya, Sunan Giri.

Beny memperkiran, di tahun 1400 masehi, atau sekitar 600 tahun silam, Masjid Tiban sudah berdiri.

Dalam sejarahnya, Syekh Maulana Ishak melakukan napak tilas dari Surabaya ke Blambangan atau sekarang bernama Banyuwangi.

Syekh Maualana Ishak mengunjungi Putri Blambangan, untuk menyembuhkan penyakitnya. Ada sayembara, barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit Putri Blambangan, jika ia laki-laki maka akan dijadikan suami untuk Putri Blambangan.

Tenyata, Syekh Maulana Ishak mampu menyembuhkan penyakit tersebut. Akhirnya ia menikah dengan Putri Blambangan, dan dikaruniai seorang putra, yakni Sunan Giri.

Sunan giri mendapat wasiat dari ayahnya untuk membangun surau, di lokasi tempat Syekh Maualana Ishak singgah saat melakukan perjalanan ke Banyuwangi. Salah satunya di Kota Probolinggo, tempat Masjid Tiban berdiri.

Sunan Giri menyuruh kedua santrinya itu. Ajaibnya, kedua santri itu mampu mendirikan pilar, yang sekarang menjadi penopang di bangunan pertama masjid. Ada empat pilar di Masjid Tiban. Beny mengatakan pilar-pilar tersebut diangkut dari Madura. Padahal jaman dulu belum adanya kendaraan angkut barang berat.

Beny berfikir, mungkin hal itu yang menjadikan masjid ini disebut tiban atau ketiban, atau berdiri secara tiba-tiba. “Dulu ndak ada alat berat. Mungkin pakai magic, karena kayunya besar. (Mungkin) dari situ dikatakan tiban,” ucapnya.

PENINGGALAN: Batu yang bentuknya memanjang disebut-sebut sebagai tempat Syekh Maulana Ishak bersemedi saat singgah di kawasan tersebut. Ada cekungan di tengah-tengah batu tersebut.

BATU SEPATU DAN SUMUR

Namun Beny sangat menyayangkan, tidak ada bukti atau prasasti yang menjelaskan tahun berdirinya Masjid Tiban. Hanya pernah ada pohon kemuning yang sudah tidak ada. Kini yang tersisa tinggal batu sepatu dan sumur.

Batu sepatu tersebut diyakini sebagai tempat duduknya Syekh Maulana Ishak untuk berwirid. Ada lubang di batu tersebut yang pas ketika diduduki oleh seseorang.

Sedangkan sumurnya dipercaya sebagai sumur pembawa berkah. Hingga saat ini, banyak masyarakat yang meminumnya atau melempar koin dan bunga. Namun hal itu dilarang oleh Beny. Koin dan bunga bisa menyebabkan berkurangnya kualitas air.

MITOS: Bagi sebagian orang, air sumur tua yang ada di utara Masjid Tiban dipercaya mampu menyembuhkan penyakit. Hingga saat ini air sumur tersebut tak pernah kering.

MASJIDNYA PARA MUSAFIR

Beny menuturkan, sekitar tahun 1980-an pernah ada rencana dibangunnya madrasah atau TPQ di sekitar Masjid Tiban. Namun usaha itu tak pernah tercapai. Jadi kegiatan di Masjid Tiban hanya dipakai untuk salat, dan khataman al-quran.

Jamaahnya pun jarang dari masyarakat sekitar masjid. Beny akhirnya menyimpulkan, Masjid Tiban mungkin hanya untuk persinggahan musafir, atau orang yang melakukan perjalanan jauh. Ia melihat, banyak sekali tamu yang berkunjung ke masjid, hanya untuk singgah melaksanakan ibadah salat. “Masjid ini tidak pernah mendukung untuk dijadikan TP atau tempat ngaji. Kayaknya memang untuk masjid wisata,” ujarnya.

Beny berharap, jika pemerintah ingin menjadikan masjid sebagai ikon untuk Kota Probolinggo, ia sangat terbuka untuk diajak diskusi. Karena selama ini, ia hanya bisa menunggu. Ada pembicaraan, namun tak ada realisasi.

“Ada omongan dari pemerintah (untuk dijadikan wisata religi), tapi tak pernah terealisasi. Kita nunggu mau diapakan saja masjid ini, monggo,” ujarnya.

KHAS: Arsitektur Masjid Tiban merupakan gabungan unsur Jawa dan Cina. Hal itu ditunjukkan dengan adanya empat pilar kayu di bagian dalam masjid yang merupakan ciri khas bangunan China.

ADA UNSUR CINA DAN JAWA PADA KONSEP BANGUNAN MASJID

Agung Baskara, anak Beny yang sehari-harinya tinggal di masjid, juga turut menceritakan konsep bangunan atau arsitektur Masjid Tiban.

Agung yang lebih dulu ditemui tadatodays.com pada (4/04/2022) mengatakan, arsitektur Masjid Tiban terlihat seperti menggabungkan unsur Jawa dan Cina. Ia mencontohkan adanya pilar kayu dan kusen dari kayu yang terlihat seperti bangunan cina. “Konsep bangunan model cina dan jawa,” tuturnya.

Menurut Agung, Masjid Tiban terhitung 2 kali mengalami perbaikan. Tetapi hanya meliputi tindakan pengecatan dan pergantian genteng yang sudah pecah.

Sampai saat ini, Masjid Tiban Babussalam buka 24 jam. Menurut Agung, selepas salat isya atau sholat tarawih, gerbang utama samping masjid ditutup. Masyarakat bisa masuk melalui gerbang depan masjid, dan memarkir kendaraannya di depan rumah tempat Agung berjaga. Itu agar kendaraan terhindar dari pencurian.

“Setelah isya itu gerbang itu ditutup. Jadinya orang lewat gerbang yang didepan,” ucapnya. (alv/don)