Alvi Warda


Wartawan Tadatodays.com | 2022-04-27 13:15:03

Mbah Syamsul, Tukang Pijat Keliling Probolinggo

SEMANGAT: Mbah Syamsul tak pernah berpangku tangan di usianya yang sudah senja. Menjadi tukang pijat keliling menjadi pilihannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Walau sudah berusia senja, ia tetap bekerja mengais nafkah. Inilah Mbah Syamsul, tukang pijat keliling di Kota Probolinggo.

Mbah Syamsul tinggal di permukiman belakang Bank Panin, Kelurahan Jati, Kec. Mayangan, Kota Probolinggo. Setiap hari mulai pukul tujuh pagi ia sudah keluar rumah, berkeliling menggunakan sepeda motornya. 

Ia menjadi tukang pijat sejak berumur 25 tahun. Kini usianya 76 tahun. Setiap harinya, Mbah Syamsul setia mangkal di depan Hotel Ratna, Jl. Soekarno-Hatta, Kota Probolinggo.

Namun pada minggu sore (10/04/2022), tadatodays.com menemui Mbah Syamsul sedang mangkal di Jl.  Suroyo.

Mbah Syamsul bercerita, biasanya saat mangkal di depan Hotel Ratna, satpam hotel akan memanggilnya untuk jasa memijat pengunjung hotel. Tetapi, belakangan ini order memijat semakin jarang ia dapatkan. “Saya biasanya di Hotel Ratna itu. Kalau sepi keliling saya,” ucapnya.

Akhirnya Mbah Syamsul memilih berkeliling di sekitaran jalan Probolinggo. Mulai dari Jl. Suroyo, Jl. Mastrip, Ketapang, Wonoasih, bahkan Muneng Sumberasih.

Jika sudah pukul tujuh malam, Mbah Syamsul pulang ke rumahnya. Perhari ada sekitar dua sampai tiga orang yang menggunakan jasanya. Namun, tidak setiap hari Mbah Syamsul mendapatkan order memijat. Untuk melancarkan usahanya, pada sepeda motor Mbah Samsyul diberi papan bertuliskan nomor ponselnya. 

Pengguna jasa pijat Mbah Syamsul sangat beragam. Mulai dari laki-laki, perempuan, anak kecil sampai dewasa. Mbah Syamsul menuturkan, biasanya, sampai empat kali ia akan mengunjungi pasien. Itu jika pasien kembali menghubunginya.

Menurutnya, keluhan pasiennya masih tingkat ringan, seperti kecapekan, pegal linu, bahkan kolesterol. Tetapi, Mbah Syamsul menerangkan, sumber penyakit itu asalnya dari urat yang sudah mengeras. Itu harus diregangkan dengan memijatnya.  “Banyak, kayak kecapean, linu, sakit pinggang, ada juga kolesterol. Tapi itu uratnya tegang, mbak. Jadi dilancarkan dengan pijat,” tuturnya.

Untuk memijat, Mbah Syamsul menggunakan minyak dan dioleskan pada bagian tubuh yang akan dipijat. Sebenarnya Mbah Syamsul memiliki mesin alternatif untuk membantunya memijat. Hanya, hari itu mesin tersebut sedang tidak dia bawa.

Jemari Mbah Syamsul yang digunakan untuk memijat sebenarnya sudah tampak keriput. Namun, semangatnya tak pernah mengerucut. Meski hidup sebatang kara sepeninggal sang istri, Mbah Syamsul tetap bersemangat melanjutkan hidup sebagai tukang pijat.

Mbah Syamsul bercerita, awal mula menjadi tukang pijat karena ajaran dari kakeknya di Surabaya. Di umur 21 sampai 24 ia tinggal bersama kakeknya. Setelah kakeknya meninggal, tepat saat berumur 25 tahun, Syamsul kembali ke Probolinggo, dan meneruskan jasa kakeknya sebagai tukang pijat. 

Sejatinya, cita-cita Mbah Syamsul di masa muda ialah menjadi seorang pedagang yang sukses. Tetapi keinginannya itu tidak tercapai. Mbah Syamsul merasa menjadi tukang pijat adalah jalan takdirnya.

Ia tak mengharapkan apapun yang bukan menjadi garis hidupnya. Ia hanya menginginkan kesehatan, agar dapat terus mencari rejeki, demi melanjutkan hidup. “Cuma mau kesehatan, supaya cari rejeki bisa lancar,” ujarnya. (alv/don)