Mendikdasmen Minta Inovasi Pendidikan Banyuwangi Dipaparkan di Forum Nasional

Mohamad Abdul Aziz
Mohamad Abdul Aziz

Sabtu, 02 May 2026 17:24 WIB

Mendikdasmen Minta Inovasi Pendidikan Banyuwangi Dipaparkan di Forum Nasional

KUNJUNGAN: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu'ti saat berada di Taman Blambangan, Banyuwangi, Sabtu (2/5/2026).

BANYUWANGI, TADATODAYS.COM - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI   Abdul Mu'ti, meminta Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, memaparkan berbagai inovasi pendidikan daerah tersebut di forum nasional. Permintaan itu disampaikan saat peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Banyuwangi, Sabtu (2/5/2026).

Menteri Abdul Mu’ti mengatakan, program-program pendidikan di Banyuwangi inovatif dan berpotensi direplikasi sebagai kebijakan nasional untuk pemerataan pendidikan. Sejumlah program unggulan yang mendapat perhatian antara lain Garda Ampuh, yang membantu anak putus sekolah kembali belajar, serta Gerakan Rindu Bulan yang mendorong penuntasan wajib belajar 12 tahun.

Selain itu, program Agage Pinter memperkuat pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus, sementara Siswa Asuh Sebaya (SAS) dan pengembangannya, Sekolah Asuh Sekolah, mendorong gotong royong antar siswa dan sekolah.

MASAL: Ribuan Penari tampil dalam memperingati Hari Pendidikan di Banyuwangi, Sabtu (2/5/2026).

Pemkab Banyuwangi juga memiliki program Akselerasi Sekolah Masyarakat (AKSARA) yang menyasar warga dewasa agar menuntaskan pendidikan setara SMA. “Inovasi-inovasi ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam memberikan layanan pendidikan yang merata dan berkualitas,” ujar Mu’ti.

Sementara, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Banyuwangi berlangsung meriah. Lebih dari seribu pelajar dari jenjang SD hingga SMA menampilkan atraksi seni kolosal “Kuntulan Ewon” di Taman Blambangan.

Sebanyak 1.060 pelajar terlibat dalam pertunjukan Kuntulan Ewon, terdiri atas 560 penabuh rebana dan 500 penari. Mereka berkolaborasi dengan seniman dan budayawan, menghadirkan pertunjukan yang memadukan gerak tari, tabuhan musik, serta syair religi yang sarat makna.

Menteri Abdul Mu'ti yang hadir dalam acara itu mengaku takjub dengan penampilan para pelajar. Ia bahkan menyebut peringatan Hardiknas di Banyuwangi sebagai yang terbaik di Indonesia. “Ini peringatan Hari Pendidikan Nasional terbaik se-Indonesia. Semangat ini harus terus kita tingkatkan,” ujarnya.

Kuntulan merupakan kesenian tradisional khas Banyuwangi yang berakar dari hadrah. Dahulu digunakan sebagai media dakwah Islam. Dalam perkembangannya, kesenian ini berakulturasi dengan budaya lokal dan menjadi pertunjukan yang khas dengan perpaduan tari, rebana, dan lantunan shalawat.

Para pelajar tampil kompak dengan gerakan dinamis mengikuti irama. Penabuh hadrah mengenakan busana adat Osing bernuansa hitam dengan udeng serta aksen merah putih, sementara para penari bergerak lincah menciptakan harmoni yang memukau penonton.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya membangun generasi yang unggul tanpa meninggalkan akar budaya. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden untuk mencetak generasi yang berwawasan global namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai lokal.

Sementara itu, Bupati Ipuk menyampaikan bahwa momentum Hardiknas tidak hanya menjadi refleksi capaian pendidikan, tetapi juga sarana menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan di Banyuwangi tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kreativitas, dan identitas budaya. (azi/why)


Share to