Mengintip Produksi Madu Randu, Komoditas Unggulan Lumbang Pasuruan

Amal Taufik
Amal Taufik

Monday, 02 Mar 2026 08:32 WIB

Mengintip Produksi Madu Randu, Komoditas Unggulan Lumbang Pasuruan

MADU: Proses produksi madu randu di Lumbang, Kabupaten Pasuruan.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Di bawah rimbun pepohonan yang menjulang di Desa Welulang, Kecamatan Lumbang, deretan kotak-kotak koloni berwarna putih dan hijau tersusun rapi di sela rerumputan, menghadap lahan perkebunan. Di sanalah, hidup ratusan ribu lebah yang menghidupi warga setempat.

Seorang pria berkaus hijau dan topi lusuh berdiri di samping alat pemutar madu berbahan logam. Tangannya cekatan mengangkat bingkai sarang lebah yang dipenuhi sel-sel heksagonal berwarna cokelat keemasan.

Beberapa lebah masih menempel, tak terusik oleh aktivitas panen pagi itu. Wajahnya serius, matanya teliti memeriksa tiap sudut sarang sebelum memasukkannya ke dalam tabung ekstraktor.

Dialah Tiagus (45), warga Desa Welulang yang sudah dua dekade bersahabat dengan lebah. Sejak 20 tahun lalu, ia memilih menekuni budidaya madu randu—madu yang dihasilkan dari nektar bunga pohon randu. “Rasanya itu ada khasnya. Lebih segar. Begitu diminum, hangatnya langsung terasa di tenggorokan,” ujarnya, Minggu (01/03/2026).

Bagi Agus—begitu ia biasa disapa—madu randu punya tempat tersendiri di hati konsumen. Warna yang lebih jernih, aroma lembut, serta efek hangat yang cepat terasa membuatnya menjadi primadona di antara jenis madu lain.

Untuk menjaga kualitas dan kuantitas produksi, ia membudidayakan lebah jenis Apis mellifera. Dari sekitar 100 kotak koloni dalam satu reet, panen raya bisa menghasilkan hingga 4–5 kuintal madu segar.

Dalam kondisi cuaca bersahabat dan bunga randu mekar sempurna, panen bisa dilakukan setiap 15 hari. “Kalau hujan sering turun, bunga banyak yang rontok sebelum nektarnya maksimal. Itu bisa bikin hasilnya turun,” katanya.

Selain bunga randu, lebah-lebahnya juga menyerap nektar dari vernonia, mangga, karet, kopi hingga kesambi. Variasi vegetasi inilah yang memengaruhi rasa dan kekentalan madu. Setiap musim, karakter madu bisa berubah, mengikuti lanskap yang sedang berbunga.

Di balik manisnya madu, ada risiko yang tak sedikit. Cuaca ekstrem, gagal panen, hingga potensi pencurian menjadi bagian dari keseharian peternak lebah. “Kalau belum dapat, ya belum rezekinya. Tapi kalau lagi bagus, 15 hari bisa panen sampai lima kuintal,” ucapnya.

Madu hasil panennya dijual dalam dua skema. Untuk pembelian partai, harga dipatok Rp65 ribu per kilogram. Sedangkan eceran dibanderol Rp80 ribu per kilogram. Permintaan datang dari berbagai daerah, bahkan pembeli kerap datang langsung ke Lumbang.

Camat Lumbang, Didik Surianto, menyebut Desa Welulang sebagai sentra terbesar budidaya lebah madu di wilayahnya. Selain Welulang, aktivitas serupa juga berkembang di Banjarimbo, Panditan, dan Watulumbung.

Menurutnya, madu telah menjadi komoditas yang terbukti menopang ekonomi warga. Terutama saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020–2021 lalu, permintaan madu meningkat tajam. Banyak masyarakat mencari alternatif peningkat daya tahan tubuh, dan madu menjadi salah satu pilihan utama.

“Waktu itu stok sampai kurang. Peternak kewalahan mengejar musim bunga. Bahkan juragan dari luar daerah datang sendiri untuk ambil barang,” jelasnya. (pik/why)


Share to