Mengunjungi Toko Unik di Kanigaran Kota Probolinggo: Pembeli Boleh Ambil Gratis atau Bayar Suka-Suka

Mochammad Angga
Sunday, 12 Jul 2020 21:28 WIB

BERBAGI: Eviana Irawati saat ditemui Tadatodays.com di depan tokonya yang terletak di Jalan Slamet Riyadi, Kanigaran, Kota Probolinggo. Perempuan yang akrab dipanggil opi ini membuka toko gratis dan boleh bayar suka-suka.
Pandemi covid-19 memukul perekonomian banyak kalangan. Usaha jasa yang mendatangkan orang banyak lumpuh akibat ada larangan jaga jarak. Menyadari kesulitan ekonomi aibat pandemi ini, Eviana Irawati dan keluarganya menggagas “Toko Gratis dan Bayar Suka-suka”.
MOCHAMMAD ANGGA, Wartawan Tadatodays.com
BAGI Eviana Irawati, kegiatan berbagi dan bersedakah bukanlah hal asing. Sejak sebelum pandemi, perempuan yang akrab dipanggil Bu Opi ini kerap mengadakan acara sosial. Biasanya ia bekerjasama dengan suami dan anak-anaknya untuk mengeksekusi ide berbai bagi yang membutuhan. Pun ketika pandemi covid-19 mulai datang ke Kota Probolinggo.
Guru SMP Negeri 7 Kota Probolinggo ini membuka Toko Gratis dan Bayar Suka-Suka di depan rumahnya. Berbekal dana swadaya, ia membuka toko bagi yang membutuhkan. Langkah ini kemudian ia umumkan di media sosial miliknya. Tak dinyana, inisiatif sosialnya memicu teman-temannya sesama guru ikut serta. Mereka turut menyumbangkan barang untuk mengisi toko gratis milik Bu Opi untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan.
Beralamatkan di Jl. Slamet Riyadi no 159, Keluruhan Kanigaran, Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo di minggu terakhir Bulan Juni tahun 2020 ini ia membuka toko tersebut. Sejumlah barang berupa sembako, aksesoris, jam tangan, seragam, makanan, minuman dan perabotan rumah tangga dapat dibeli dengan cara membayar seikhlasnya. Pembeli kemudian dapat meletakkan uang itu di celengan berbentung tabung elpiji berwarna hijau. Di celengan yang sama pula, pengunjung yang datang bisa ikut menyumbang dengan memasukkan uang. Nantinya, uang di celengan tersebut dibelikan sembako atau kebutuhan lain oleh Opi dan dijual kembali di tokonya.

Ditemui tadatodays.com di rumahnya, Bu Opi menjamu kami dengan baik. Kepada Todatodays.com Opi menceritakan kebiasaannya bersedekah ditularkan oleh suaminya, Abaha Bayu, 43 suaminya sejak di Banyuwangi dulu. Ketika itu, melihat keadaan masyarakat sekitar, Opi berniat memberikan sedekah kepada sesamanya. “Kalau langsung diberi kan sudah biasa. Tapi biar program ini terus berjalan, jadi pakaian layak itu kami jual paling murah senilai Rp 1.000 dan yang paling mahal Rp 15.000 di poskamling sana. Dari uang yang dikumpulkan itu, kemudian saya belikan sembako yang nantinya diberikan kembali kepada orang,” ujar alumni Sekolah Tinggi Bahasa Dan Sastra (STIBA) tahun 1999 itu.
Ketika itu, “barang dagangan” Bu Opi habis dalam dua hari. Ia tidak menghitung berapa jumlah pendapatannya. Langsung saja dibelikan sembako untuk disumbangkan kembali. Hal itu berlangsung setiap kali ia mudik untuk bertemu suaminya di Banyuwangi. Namun kegiatan rutin perempuan yang telah negajar selama 21 tahun itu terhenti ketika corona melanda. Sebab ada larangan mudik. “Ada teman sejawat saya sesama guru di SMA Negeri 1 Dringu, Erna Sridamayanti. Dia menyarankan agar membuka toko yang sama di sini. Saya pikir, kenapa tidak?” jelasnya.
Akhirnya rumah yang dulunya dibuat sebagai usaha souvenir disulap. Di sisi timur tetap untuk usaha souvenirnya sedang di sisi barat dibuat untuk toko gratis. "Jadi saya buka toko atas saran Bu Erna, karena kata Bu Erna dirinya juga ingin ikut andil membantu sesama. Sehingga saya bukalah toko itu sekaligus mencari waktu luang selama senggang di rumah," ucapnya.
Selepas membuka toko di minggu pertama, ada empat orang temannya sesama guru menyumbangkan sejumlah barang layak pakai. Seperti tas, jilbab, peralatan rumah tangga, sepatu dan barang lainnya. Toko yang buka setiap hari mulai pukul 08.00-16.00 WIB ia niatkan untuk menunggu curhatan dan sambatan orang sebagai bentuk silaturahmi dan menambah saudara.
Dirinya bersyukur, banyak orang yang membantu. Apalagi ketika ada orang yang mengatakan kemarin, banyak kawan difabel sampai santri pondok membutuhkan baju. Mereka kemudian merasa bersyukur saat menemukan toko yang digagasnya. "Pudar sedikit, ada cacat sedikit saya sisihkan, sebagian besar koleksi saya sendri. Kondisi yang sangat bagus, atau pudar nantinya dipilah. Dan yang membuat saya senang itu ketika ada orang yang datang kemudian curhat dan mengatakan kegembiraan karena bisa mendapat barang sesuai kebutuhannya. Rasa menyenangkan bisa berbagi," imbuhnya. (ang/hvn)
.jpg)


Share to
 (lp).jpg)