Muhammad Musleh


Wartawan Tadatodays.com | 2020-08-29 21:13:00

Menikmati Alam Sekaligus Berburu Kuliner di Warung Apung Ranu Klakah Lumajang

TEMPAT FOTO: Ketua TP PKK Lumajang Musfarinah Thoriq menikmati alam sekaligus menjajal berfoto di Ranu Klakah.

Hawa sejuk dan panorama alam yang masih lestari menjadi daya tarik utama Ranu Klakah, Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang. Karenanya, meski tengah hari, ketika Tadatodays.com berkunjung, tak sedikit wisatawan yang turut menikmati damainya suasana Ranu Klakah. Ada yang datang untuk menikmati kuliner khas Ranu Klakah hingga sekadar memancing.

MUHAMMAD MUSLEH, Wartawan tadatodays.com

Baca Juga : Bukit Watu Geligir 99, Kotanyar Probolinggo, Suguhkan Pemandangan Bukit Hijau Sejauh Mata Memandang

DI sekitar ranu, nuansa kehijauan datang dari rimbunan pohon yang keliling memagari Ranu Klakah. Sejumlah nelayan perahu getek sibuk melepas jaringnya di tengah-tengah ranu. Mereka adalah warga lokal yang memang menjadikan pekerjaan mencari ikan sebagai rutinitas sehari-hari.

Baca Juga : Bukit Watu Geligir 99, Kotanyar Kabupaten Probolinggo, Suguhkan Pemandangan Bukit Hijau Sejauh Mata Memandang

Di ujung paling selatan, berderet tiga warung apung yang menjadi daya tarik tersendiri. Sajian ikan bakar nila menjadi kuliner khas di sana. Warung-warung ini dibangun setahun yang lalu untuk menambah kenyamanan bagi pengunjung. Selain memang warungnya yang mengapung dan menjulur ke tengah ranu, makan di tempat ini terasa bebeda dari biasanya.

Tidak hanya sajian yang khas, warung juga dilengkapi dengan wifi menambah pengunjung makin betah disini. “Ya, enak hawanya enak, makananya juga enak,” terang Asmat dari Surabaya.

Asmat menyempatkan datang ke Ranu Klakah karena sudah langganan setiap pergi ke Lumajang. Pekerjaan sebagai juragan kelapa muda membuat Asmat sering datang ke tempat ini. “Kalau pas lagi santai, saya biasa pergi ke ranu ini,” ujarnya.

KULINER: Warung Apung di Ranu Klakah menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk menikmat kuliner khas.

Ketiga warung apung itu sebagian dikelola masayarakat secara mandiri. Sebagian lagi dikelola Pokdarwis. Kalau warung Lemongan dibuat secara mandiri oleh warga. “Habisnya sekitar 200 juta. Atap terbuat dari galvanis, termasuk kerangka samping kiri dan kanan semuanya berbahan galvanis,” ujar Ketua Pokdarwis Ranu Klakah Ahmad Ihya Sandi Prasastiawan

Andi-panggilannya mengatakan, dulu sebelum ada warung apung ini bibir ranu terlihat kumuh. Tapi, sekarang sudah bersih. “Sebab, pemilik warung ikut menjaga kebersihan di sini. Kotoran-kotoran di bibir ranu sudah rutin dibersihkan,” terang pria kelahiran 1989 itu.

Selain ketiga warung itu, ada tempat foto selfie yang dikelola Pokdarwis. Karcis masuknya hanya Rp 2.000. Pengunjung bisa mengabadikan momen dengan penorama alam ranu. Spot ini juga dimanfaatkan Ketua TP PKK Lumajang Musfarinah Thoriq untuk mengambil angle foto bersama pejabat Pemkab Lumajang. Ning Farina tampak begitu menikmati tempat tersebut, saat wartawan Tadatodays.com berkunjung.

Beberapa kali Istri dari Bupati Lumajang Thoriqul Haq mengambil foto dengan latar belakang ranu di belakangnya. “Iya ini sering dipakai untuk foto Selfie, termasuk Wakil Bupati Lumajang, Bundah Indah juga pernah ke sini,” tegasnya.

Andi yang menjabat sebagai ketua Pokdarwis Ranu Klakah tersebut sejak tiga bulan lalu bercerita tentang Ranu Klakah. Luas Ranu Klakah skitar 30 hektar dengan kedalaman 30 meter. Sekarang sudah ada pendangkalan sekitar 5 meter. “Penyebabnya karena curah hujan dan banjir,” ujarnya.

Ranu Klakah mulai dibangun tahun 1989, tahun itu sama seperti dirinya saat dilahirkan. “Ayah saya memberikan nama pembangunan Ranu Klakah pada nama akhir saya Prasastiawan yang punya arti para wisatawan,” tegasnya.

Awal pembangunan hanya berupa bangunan teras di bibir Ranu bagian selatan. Tapi tidak lama dibangun, kena banjir. Akhirnya dinaikkan terasnya. Ranu Klakah baru mulai maju tahun 2015 di zaman Bupati Asad menjabat. “Kebetulan waktu itu ada program satu kecamatan satu wisata. Ranu Klakah dipilih karena punya potensi dan menjadi aset yang harus diselamatnya,” urainya.

Pada saat itu, untuk mempercantik Ranu Klakah, mulai dibangun Warung Apung dan satu pusat oleh-oleh. “Kebetulan sejak pandemi Covid-19, pusat oleh-oleh tidak jalan, termasuk warungnya,” terangnya.

Sejak tahun itu, pengunjung mulai ramai berdatangan sembari menikmati alam mereka juga berburu kuliner masakan khas Ranu Klakah berupa ikan bakar nila. “Ikan Nila di sini berbeda dengan ikan Nila daerah lain, rasanya khas tidak berbau tanah,” ucapnya.

MANCING: Tidak hanya menikmati alam, warga juga memanfaatkan Ranu Klakah untuk mancing.

6 dari 30 Hektar Ranu, untuk Budidaya Nila

Ranu Klakah juga memiliki potensi ekonomi yang bagus, terutama di sektor budidaya ikan Nila. Dari 30 hektar Ranu, sebanyak 20 persen atau sekitar 6 hektar dibuat budidaya ikan Nila oleh warga sekitar. “Konsepnya para peternak pakai keramba, yang dikota-kotak menggunakan bambu di bawahnya ada jaring,” ungkap Andi.

Saat ini, budidaya ikan Nila masih dipeliraha karena memang menghasilkan uang buat warga. Tapi, meski baik dari sisi ekonomi, dampaknya juga ada. “Salah satunya pakan ikan yang menjadi limbah bagi air ranu,” tuturnya.

Dulu, sebelum dipakai budidaya Ikan Nila, airnya bagus dan jernih. Dan sering dibuat mandi wisatawan. “Saat ini tidak, air menjadi agak coklat, dan gatel kalau dibuat mandi. Kecuali warga sekitar masih ada yang dipakai buat mandi,” ungkapnya.

Maka dari itu, Pokdarwis terus melakukan sosialiasi pada masyarakat tetang konservsi ranu. “Peternak sering kami beri wawasan. Caranya, penambahan budidaya Nila dihentikan, kembangkan budidaya ikan koi untuk mengembalikan Ranu Klakah lestari,” terangnya.

Ranu Klakah tidak hanya memiiki alam yang mempesona, tapi juga potensi ikan. Banyak warga yang datang untuk memancing. Saifullah warga Desa Mlawang Kecamatan setempat datang bersama empat kawannya.  “Saya setiap semiggu dua kali mancing bersama teman teman," ujarnya.

Sembari menikmati alam Ranu, Saifullah duduk di bibir Ranu sebelah selatan. Di atas ayaman bambu di atas Ranu, Saiful menikmati aktivitas mancing itu. “Kadang kalau rezeki, banyak dapatnya mas, kadang ikannya juga besar,” terangnya.

Bagi pemancing, tidak ada biaya untuk masuk. Pemancing menjadi pengunjung paling istimewa. “Gratis tidak bayar kalau pemancing, walau dari luar kota,” kata Saiful.

Sementara itu, akses jalan menuju Ranu Klakah cukup mudah. Pengunjung kalau dari arah Surabaya-Probolinggo bisa melewati pertigaan Kecamatan Klakah. Tepatnya belok kiri sebelum rel kereta api ke timur. Pengunjung bisa terus mengikuti jalan tersebut sampai 1,5 kilometer sudah terlihat gerbang menuju ranu. Jalan pun mulus tidak berlubang. (mm/hvn)