Menjaga Permainan Tradisional Kitiran Pronojiwo di Tengah Hembusan Angin Pegunungan

Amal Taufik
Tuesday, 24 Mar 2026 09:49 WIB

KITIRAN: Suasana warga bermain permainan tradisional Kitiran di Bukit Ungkapan, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.
PASURUAN, TADATODAYS.COM - Di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Bukit Ungkapan, Dusun Pronojiwo, Desa Blarang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, terdengar bunyi mirip helikopter. Bunyi itu berasal dari putaran kincir angin kayu yang oleh warga setempat akrab disebut Kitiran.
Bukit Ungkapan kini bukan sekadar hamparan hijau di kaki pegunungan. Tempat ini telah bertransformasi menjadi panggung bagi belasan kitiran milik warga. Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan. Posisinya yang strategis, membuat hembusan angin tertangkap sempurna, memutar bilah-bilah kayu hingga menghasilkan suara yang unik.
Selasa (17/3/2026), suasana di atas bukit tampak begitu hidup. Meski langit nampak sedikit mendung, semangat warga tidak luntur. Terlihat sekelompok pria dewasa dan pemuda sedang bahu-membahu memancangkan tiang-tiang bambu yang menjulang tinggi ke angkasa.

PANGGUNG: Bukit Ungkapan telah bertransformasi menjadi panggung bagi belasan kitiran milik warga.
Sebilah batang bambu utuh dipanggul oleh dua orang pria, bergerak menanjak di atas tanah perbukitan yang padat. Mereka bukan tampak senang menyambut datangnya musim angin.
Pemandangan menarik terlihat pada salah satu bilah kitiran yang sedang dipersiapkan. Seorang wanita berhijab biru juga tampak turut bermain. Hal ini membuktikan bahwa tradisi kitiran tidak hanya didominasi kaum pria, namun menjadi kebanggaan kolektif warga Pronojiwo.
Henus, Kepala Dusun Pronojiwo, menjelaskan bahwa kitiran adalah warisan leluhur yang tak lekang oleh zaman. "Ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Kami hanya menjaga agar tidak hilang. Menariknya, dari anak kecil sampai orang tua, semuanya suka bermain ini," ujarnya dengan bangga.
Ia menambahkan bahwa semangat warga tetap konsisten meski zaman telah berubah menjadi serba digital. "Bagi kami, kitiran itu bukan cuma kayu berputar, tapi lebih pada menjaga dan melestarikan warisan," imbuh Henus.
Ukuran kitiran sangat bervariasi, mulai dari diameter kecil sekitar 20 centimeter, hingga yang raksasa mencapai panjang lima meter. Panjang tiang penyangganya pun harus disesuaikan agar bilah kitiran tidak menghantam tanah saat berputar.
Material pembuatnya pun dipilih dari kayu-kayu khusus. Warga biasanya menggunakan kayu mahoni, bawangan, waru wangkit, hingga kayu gendis. Pemilihan jenis kayu ini sangat krusial agar kitiran kuat menahan terpaan angin kencang namun tetap ringan untuk berputar.


Kitiran tersebut juga perlu diberi hiasan tambahan berupa "gombyok" atau buntutan. Gombyok ini terbuat dari daun pijih atau pelepah kelapa yang diikatkan pada ujung bilah kayu. Tujuannya adalah untuk menambah stabilitas dan nilai estetika saat kitiran berputar di udara.
Wahyu, salah satu tokoh pemuda setempat, menyebutkan bahwa bulan kedua dan ketiga adalah waktu terbaik bagi pencinta kitiran. Di bulan-bulan inilah angin bertiup paling kencang, menciptakan momentum yang pas untuk menaikkan kitiran-kitiran koleksi mereka.
“Apalagi sekarang bertepatan dengan bulan Ramadan. Bermain kitiran di Bukit Ungkapan ini menjadi cara paling ampuh buat ngabuburit. Sambil menunggu waktu berbuka, kami menikmati suara kitiran dan pemandangan Gunung Arjuno yang megah dari sini,” kata Wahyu.
Wahyu juga membeberkan detail teknis yang membuat kitiran bisa bersuara nyaring. "Sudut kemiringan bilahnya harus pas. Kalau terlalu miring dia berat, kalau terlalu datar suaranya kurang 'pecah'. Kita setting pelan-pelan sampai ketemu deru yang mirip helikopter itu," paparnya.
Ada sensasi tersendiri saat angin kencang menerpa bilah kayu yang sudah dirancang sedemikian rupa. Saat berputar kencang, kitiran ini menghasilkan suara menderu yang sangat khas. "Seneng kalau pas bunyi, seperti suara helikopter. Kalau sudah bunyi begitu, capeknya memanggul tiang ke atas bukit langsung hilang," ujarnya sambil tertawa.
Proses membawa kitiran ke puncak bukit pun membutuhkan perjuangan. Warga harus memanggul tiang dan bilah kayu tersebut dari rumah. Ada yang dipanggul sembari berjalan kaki, ada pula yang diikat dengan hati-hati di atas jok sepeda motor melewati jalanan setapak yang menanjak.
"Tantangannya itu pas bawa naik motor. Harus seimbang, apalagi jalanannya paving dan tanah. Kalau kena angin di tengah jalan, motor bisa ikut goyang. Tapi ya itulah seninya," kenang Wahyu sembari mengikat tali penguat pada tiang bambunya.
Setibanya di rumah, kitiran-kitiran ini tidak diletakkan sembarangan. Warga memiliki kebiasaan unik dengan menaruh bilah kitiran di atas "pawon" atau dapur tradisional. Tujuannya agar kayu kitiran terkena asap pembakaran sehingga menjadi lebih kering dan awet.
"Tujuannya biar kering kena asap api. Makanya, banyak yang terlihat sampai hitam-hitam kitirannya. Tapi justru yang hitam itu yang paling awet dan suaranya lebih garing kalau kena angin," jelas Wahyu.
Keramaian di Bukit Ungkapan tidak hanya mengundang warga lokal. Penduduk dari dusun tetangga seperti Dukutan, Ngendro, hingga Cemoro kerap berdatangan hanya untuk melihat parade kincir angin raksasa ini atau sekadar menikmati pemandangan alam dari ketinggian. (pik/why)



Share to
 (lp).jpg)