Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Masjid Baitul Atiq Winongan Pasuruan: Saksi Bisu Dakwah Mbah Semendi

Amal Taufik
Monday, 23 Mar 2026 14:34 WIB

JEJAK PERADABAN: Masjid Baitul Atiq atau Masjid Serambi di Winongan Pasuruan.
PASURUAN, TADATODAYS.COM - Langit mendung menyelimuti wilayah Winongan, Kabupaten Pasuruan, Senin (16/3/2026) sore. Sebuah masjid tua di Dusun Serambi, Desa Winongan Kidul sudah bersiap menyambut jamaahnya. Masjid Jamik Baitul Atiq, begitulah nama yang tersemat pada masjid ini.
Dilihat dari kejauhan, arsitektur masjid ini menyajikan perpaduan unik antara gaya tradisional Jawa dan sentuhan modern. Atapnya yang berbentuk limasan tumpang tiga menunjukkan ciri khas masjid nusantara kuno, namun balutan cat hijau toska yang dominan pada pilar-pilarnya memberikan kesan segar yang tak lekang oleh zaman.
Memasuki area halaman, pengunjung akan disambut oleh hamparan lantai paving block yang tertata rapi. Sebuah menara tinggi menjulang di sisi kanan, dengan cat putih dan hijau yang senada dengan bangunan utama, seolah siap mengumandangkan syiar ke seluruh penjuru Winongan.
Di bagian teras atau serambi masjid, nampak lengkungan-lengkungan atap pelindung transparan berwarna hijau yang ditopang oleh kerangka besi kuning kusam. Penambahan ini memberikan perlindungan bagi jemaah dari tempias hujan tanpa menutupi kemegahan struktur asli di belakangnya.
Abdul Rochim, sang takmir yang kini menginjak usia 68 tahun, duduk santai sembari memandangi pilar-pilar besar berlapis keramik cokelat motif marmer di area dalam. Baginya, setiap sudut masjid ini adalah kitab sejarah yang terbuka bagi siapa saja yang mau membacanya.
"Warga sini sering menyebutnya Masjid Tiban. Bukan karena tiba-tiba ada, tapi karena saking lamanya usia masjid ini sampai-sampai sejarah awalnya terasa seperti keajaiban bagi generasi sekarang," tutur Rochim mengawali cerita.
Catatan sejarah yang paling kuat tertanam pada sebuah ukiran kaligrafi kayu yang berada tepat di atas mihrab imam. Di sana, goresan tangan seniman masa lampau menuliskan angka 1216 Hijriah. Jika saat ini memasuki tahun 1447 Hijriah, maka bisa dikatakan masjid ini, setidaknya, berdiri 231 tahun.
Rochim memiliki pandangan menarik terkait penanggalan tersebut. Ia meyakini bahwa tahun 1216 Hijriah bukanlah saat pertama kali batu fondasi diletakkan, melainkan tanda rampungnya renovasi besar-besaran yang dilakukan oleh para pendahulu.
"Logika saya, kalau kaligrafi itu dibuat tahun 1216 H sebagai penanda renovasi, berarti bentuk aslinya sudah ada jauh sebelum itu. Ini benar-benar pusat peradaban awal di Winongan," ujarnya.
Kaitan historis masjid ini memang tidak bisa dilepaskan dari sosok kiai besar yang kini akrab disebut Mbah Sholeh Semendi. Makam sang penyebar Islam yang tersohor dengan sebutan Mbah Semendi terletak tak jauh dari lokasi masjid, seolah mengonfirmasi bahwa Baitul Atiq adalah pangkalan dakwah beliau di masa silam.


Dalam sejarah lisan yang berkembang, Mbah Semendi dikenal sebagai pelopor yang membawa cahaya Islam ke wilayah timur Pasuruan. Sudah menjadi tradisi bagi para wali dan ulama besar zaman dahulu untuk membangun masjid sebagai langkah pertama sebelum memulai syiar kepada masyarakat.
Dahulu, masjid ini menjadi satu-satunya tempat pelaksanaan salat Jumat bagi seluruh penduduk di wilayah Kecamatan Winongan. Rochim menceritakan betapa luasnya jangkauan pengaruh masjid ini pada masa itu, di mana jemaah dari desa-desa terpencil rela berjalan jauh demi menuju Baitul Atiq.
"Ukuran aslinya dulu hanya 18 x 25 meter. Tapi seiring bertambahnya jemaah, sekarang luasnya sudah mencapai 25 x 25 meter setelah melewati beberapa kali tahap perluasan dan renovasi," jelas Rochim.
Meski wajah masjid kini tampak modern, para pengurus tetap menjaga benda-benda pusaka asli. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah sebuah gentong atau kendi keramik yang memiliki nilai sejarah luar biasa.
Gentong tersebut bukan sekadar hiasan. Menurut penuturan turun-temurun, benda itu dulunya diletakkan di bagian paling atas kubah masjid sebagai mahkota. Sebuah praktik arsitektur yang cukup langka di tanah Jawa pada masa itu.
Yang membuat gentong ini semakin istimewa adalah adanya guratan huruf China di permukaannya. Moh Rois (31), salah satu pemuda setempat menyebut, hasil penelusuran para pemuda Remaja Masjid (Remas) mengungkap bahwa keramik tersebut diyakini merupakan peninggalan dari zaman Dinasti Qing yang berkuasa di Tiongkok antara tahun 1636 hingga 1911.
"Anak-anak Remas sempat bertanya ke kerabat dari etnis Tionghoa dan mencocokkan dengan beberapa sumber sejarah. Kesimpulannya memang dari era Dinasti Qing. Ini bukti bahwa Winongan sejak dulu sudah menjadi titik pertemuan budaya," kata Rois.
Selain gentong, masjid ini juga masih menyimpan mimbar kayu kuno tempat khatib berkhotbah. Ukiran-ukiran kaligrafinya masih terlihat tegas meski kayu jatinya sudah mulai menghitam dimakan usia.
Keberadaan Masjid Jamik Baitul Atiq kini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi yang menenangkan. Setiap sudutnya, mulai dari tembok putih yang bersih hingga pilar-pilar hijau toska yang kokoh, seolah bercerita tentang keteguhan iman yang telah dijaga selama dua abad lebih. (pik/why)



Share to
 (lp).jpg)