Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2022-03-20 17:39:45

Migor Curah Sulit Didapat, Pendapatan Penjual Gorengan Anjlok

DAMPAK: Erlin terpaksa tetap menggunakan minyak goreng kemasan dengan harga mahal, karena ia kesulitan untuk mendapatkan minyak goreng curah dengan harga murah. Akibatnya, pendapatannya menurun hingga 50 persen.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Pencabutan subsidi minyak goreng (migor) kemasan membuat pedagang gorengan meradang. Pasalnya, pendapatan pedagang menurun dengan tingginya harga migor.

Seperti yang dialami oleh Erlinda Wati, 36, pedagang gorengan di Desa Jabungsisir, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Saat tadatodays.com mengunjungi lapak dagangannya di pinggir Jalan Raya masuk Desa Jabungsisir, Minggu (20/3/2022), Erlin -sapaannya- terlihat sedang menggoreng tahu berontak.

Baca Juga : Migor Curah di Atas HET, Disperindag Operasi Pasar

Erlin mengatakan harga migor kemasan di pasaran berada di kisaran Rp 24-25 ribu setiap satu liternya. Karena mahalnya harga migor kemasan itu, Erlin sebenarnya ingin beralih ke migor curah yang disubsidi pemerintah seharga Rp 14 ribu per liter. Akan tetapi, beberapa toko yang ia datangi hanya melayani dalam jumlah kilogram. "Kalau yang (migor) curah dijual literan, tidak ada sekarang," terangnya.

Baca Juga : Bulog Banyuwangi Pastikan Stok Beras, Migor dan Gula Aman Hingga Lebaran

Karena ingin mendapatkan migor harga murah, Erlin sampai mengunjungi pasar di Kecamatan Paiton. Namun setiap kali datang, dirinya sudah tidak kebagian. Kebanyakan migor curah sudah ada pemesannya, yang dikemas menggunakan botol air mineral.

Karena kesulitan mendapatkan migor curah, ia terpaksa menggunakan migor kemasan dengan harga selangit. Tapi risikonya, pendapatannya menurun drastis. Saban harinya, ia bisa menghabiskan migor kemasan antara 10-15 liter. "Karena modal saat ini besar, tetapi (harga) penjualan (gorengan) tetap," ucapnya.

Erlin mengaku tidak berani menaikan harga atau mengecilkan ukuran gorengannya. Karena jika itu dilakukan akan berdampak pada kepercayaan pelanggannya, yang berdampak semakin berkurangnya pendapatannya dari usaha yang sudah ia lakoni sejak 6 tahun silam.

Erlin berharap agar pemerintah dapat memberikan terobosan agar harga migor tidak mahal. Ini agar pedagang yang setiap harinya bergantung pada migor dapat terus berjalan, dan tidak mengalami kerugian. "Kalau ini pekerjaan saya satu-satunya," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo Moh Natsir mengatakan, mahalnya harga tersebut dikarenakan subsidi minyak goreng untuk kemasan dicabut.

Sedangkan migor curah yang dijual Rp 14 ribu setiap liternya mengalami kelangkaan karena minimnya pasokan. Sebelumnya, masing-masing 34 pasar tradisional di Kabupaten Probolinggo biasanya hanya mendapatkan pengiriman migor curah dua hari sekali, dengan sekali kirim sekitar 100 liter. “Kini, jumlah 100 liter migor curah itu dikirim seminggu sekali,” ujarnya.

Dengan kondisi itu, Disperindag melakukan koordinasi dengan pihak perusahaan minyak goreng untuk menggelar operasi pasar migor curah dengan harga Rp 14 ribu per liternya. (zr/don)