Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2020-10-22 21:45:49

Mohammad Furqon Dekan Fakultas Teknik Universitas Nurul Jadid, Baru Nyantri Saat Kuliah, Kini Jadi Dekan di Fakultas Teknik

SAMBUTAN: Furqon memberikan sambutan dalam rangka pengenalan dan sosialisasi visi misi fakultas dan prodi di naungan Fakultas Teknik UNUJA.

Mohammad Furqon kini dikenal sebagai Dekan Fakultas Teknik Universitas Nurul Jadid. Jauh sebelum memimpin institusi besar seperti sekarang, ia hanyalah seorang anak dari Pamekasan yang di masa kecilnya tak pernah mondok. Furqon justru baru berkesempatan untuk nyantri setelah masuk kuliah.

ZAINUL RIFAN, Wartawan Tadatodays.com

Baca Juga : Bersihkan 11 Kawasan Wisata, Gaul Wis Kota Probolinggo Melibatkan Santri

LELAKI kelahiran Pamekasan, 07 Agustus 1983 ini lahir dan besar di Pulau Garam. Tepatnya di Desa Kadur, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan. Ia mulai mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kadur pada tahun 1990-1996. Mulai dari kelas satu hingga kelas tiga ia pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh 2 km. Pada saat itulah, Furqon mengenangnya sebagai saat dirinya belajar bersabar. Naik ke kelas 4 hingga lulus, Furqon diberi sepeda onthel untuk berangkat sekolah.

Baca Juga : Bersihkan 11 Kawasan Wisata, Gaul Wis Kota Probolinggo Libatkan Santri

Setelah lulus ia melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Falah, Sumber Gayam, Pamekasan. Sekolah di bawah naungan pesantren ini membuat dirinya mendapatkan pelajaran mengenai budaya santri dari teman-teman sekolahnya. Meski saat itu ia tidak nyantri di pesantren tersebut. Kemudian pada tahun 1999 setelah lulus dari SMP, ia melanjutkan ke Madrasah Aliyah (MA) di yayasan yang sama.

"Waktu SMP dan MA saat itu saya seringnya berinteraksi dengan teman-teman santri lainnya. Sehingga ada sedikit pengalaman bagaimana budayanya seorang santri," tuturnya pada Tadatodays.com.

DEKAN: Mohammad Furqon, Dekan Fakuktas Teknik di Universitas Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Ketika lulus aliyah, ia memilih untuk hijrah kepulau Jawa, dan mondok di Pesantren Nurul Jadid sekaligus menlanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Teknologi Nurul Jadid (STTNJ). Ketika itu, ia masuk tahun 2002 di jurusan Teknik Informatika (TI) Fakultas Teknik.

"Awalnya saya mendapat informasi saudara bahwa di Nurul Jadid ada perguruan tinggi. Mondoknya di Gang Sunan Gunung Jati, di sana santrinya mayoritas MTs," kenang dosen yang suka berkopyah hitam ini.

Di pesantren, meski belum pernah mondok sebelumnya, dia dijadikan pengurus pondok. Mengingat usianya yang lebih dewasa dari teman-temannya satu komplek yang kebanyakan masih SMP atau SMA. Tak ada kesulitan yang berarti bagi Furqon untuk membantu mengurus teman-temannya di pesantren. Karena ia sudah mengenal budayanya.

Pada saat kuliah ia juga berpengalam menjadi Ketua BEM pada periode 2005-2006. Tak cukup di organisasi intra, ia mencari pengalaman di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bahkan sampai menjadi pengurus cabang HMI Probolinggo kala itu. Setelah lulus tahun 2006, dan tahun 2007 ia pun langsung mengamalkan ilmunya dengan menjadi guru di Sekolah Menengah Kejuruan Nurul Jadid (SMKNJ) hingga 2017.

Lalu pada tahun 2009 ia menikah dengan Ema Fauziatin wanita asal Kabupaten Jember. Pada tahun 2008 ia mulai mengajar di STTNJ tempat ia menimba ilmu dulu.

Tak puas dengan gelar Strata 1, tahun 2011 ia melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana di Fakultas Teknik, Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Jawa Tengah. Di sana ia punya pengalaman tersendiri, ia bersama teman-temannya yang berasal dari Ponpes Nurul Jadid selalu tidur di area kampus. Kadang tidur di masjid kampus tanpa menyewa penginapan atau ngontrak rumah di sana. Selama satu tahun rutinitas itu dilakukan.

"Saya awal semester kuliah pascasarjana di Nurul Jadid. Karena ada kerjasama, satu tahun berikutnya kita rombongan sekitar 30 dosen, disekolahkan ke Semarang. Menginap di area kampus, dulu kami itu di kenal dengan kelas santri," akunya.

KELUARGA: M. Furqon bersama keluarga yang mendukung karirnya hingga dia sukses   seperti sekarang. Bersama istrinya, Ema Fauziatin, Furqon memiliki dua orang puteri dan satu putera.

Setelah lulus, ia tetap berkiprah sebagai Dosen STTNJ, lalu dipecaya menjadi Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). Kinerjanya moncer dan ia pun diangkat sebagai Kepala Prodi Informatika dan pada tahun 2018 dipercaya menjadi Dekan Fakultas Teknik Universitas Nurul Jadid (UNUJA) hingga sekarang. Kesuksesannya sebagai santri yang kemudian menjadi pejabat kampus, menurutnya bukan hanya faktor pribadi. Namun juga lingkungan yang mendukung.

Ia pun berpesan kepada para santri untuk tetap semangat dalam menjalani tugasnya sebagai santri. Tetap taat pada aturan guru, kiai dan mengikuti aturan pesantren. Jika diberi peran oleh pesantren maka diterima dan jalani sebaik mungkin. Sami'na wa "atho'na. Karena dari peran tersebut dapat dijadikan pengalaman," pesannya.

Ia pun berharap pada masa saat ini, santri juga mempelajari teknologi digital, karena sudah zamannya. "Santri itu tidak harus bergelut dengan amalan pesantren saja. Karena santri tidak harus jadi kiai. Saya pikir pesantren tidak membatasi santrinya mau belajar apapun dan jangan lupa sambungan silaturohim dengan pesantren," tutupnya dalam perbicangan sore hari itu. (zr/hvn)