Tadatodays


Wartawan Tadatodays.com | 2021-11-23 12:45:36

MTsN Kota Probolinggo Borong Medali Kejurnas Silat

JUARA: Para pesilat pelajar MTsN Kota Probolinggo di bawah binaan pelatih Endhofari (kiri) yang berhasil memborong medali dari dua kejurnas.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kota Probolinggo memborong medali dari Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pencak Silat. Tak tanggung-tanggung, madrasah tsanawiyah ini langsung mengikuti dua kompetisi dengan tingkat yang sama dengan waktu yang berdekatan.

Baca Juga : MTsN Kota Probolinggo Borong Medali di Kejurnas Silat

Dua kejuaraan tersebut adalah Kejurnas Pelajar Live Virtual Competition II Tahun 2021 dan Kejurnas Pencak Silat Remaja Unesa (Universitas Negeri Surabaya) Tahun 2021. Endhofari (28) selaku pembina dan pelatih ekstrakurikuler pencak silat MTsN Kota Probolinggo adalah pihak yang berinisiatif mengajak siswanya mengikuti dua kejuaraan pada Oktober 2021 itu.

Baca Juga : Lailatul Qomariyah, Jawara Silat yang Pantang Patah Semangat

“Anak-anak sudah aktif mengikuti ekstrakulikuler pencak silat. Kami selalu memantau siapa yang mempunyai potensi untuk mengikuti lomba ini,” kata Endhofari saat ditemui Rabu (10/11/21) pagi. Delapan orang siswa MTsN Kota Probolinggo dipilih untuk mengikuti kejuaraan itu, karena setiap individu memiliki potensi tersendiri. Sehingga mereka yang terpilih dinilai memang layak untuk berkompetisi di ajang nasional.

Sesuai namanya, Kejurnas Pelajar Live Virtual Competition II diadakan secara virtual melalui platform Zoom Video Communications dan YouTube. Perlombaan ini diikuti oleh sekitar 400 peserta dari kalangan umum. Meskipun begitu, MTsN Kota Probolinggo mampu meraih 3 medali emas dan 2 medali perak. MTsN Kota Probolinggo bahkan juga membawa pulang predikat Juara Umum 3 dalam kompetisi ini.

Menurut Endhofari, Live Virtual Competition II memiliki prestise tinggi. Ia merasa bangga bahwa anak didiknya mampu memiliki prestasi di ajang seperti ini. Ada Tiara (14) yang membawa pulang medali emas Kategori Jurus Tunggal Putri. Berliani (13) dan Wulan (14) di kategori yang sama juga meraih medali perak. Astridia (14) dan Zahwa (12) memenangkan medali emas Kategori Jurus Ganda Putri. Serta Leandra (15), Zarindi (14), dan Najma (14) yang tergabung dalam Kategori Jurus Beregu juga membawa medali emas.

Sedangkan dalam Kejurnas Pencak Silat Remaja Unesa, peserta mengunggah video pada platform YouTube masing-masing. Menurut Endhofari, kebanyakan anak didiknya tidak memasuki kriteria usia dalam lomba ini. Tapi, karena salah satunya sudah cukup umur, maka ia nekat. “Sebenarnya, kalau tingkat remaja usia kategorinya SMA/SMK,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai guru BK itu.

Namun nyatanya, madrasah tsanawiyah yang terletak di Kecamatan Kanigaran ini mendapat 1 medali emas, 1 medali perak, dan 2 medali perunggu dalam Kejurnas Unesa. Enam siswi MTsN ini mampu meraih prestasi gemilang dengan mengalahkan tak kurang dari 400 peserta kalangan umum.

Perlombaan pencak silat yang diikuti MTsN hampir memiliki kategori sama. Tapi Kejurnas Unesa tak ada Kategori Jurus Ganda. Padahal jejak Astridia dan Zahwa di kompetisi sebelumnya sudah tak perlu diragukan.

Meskipun tak dapat berkompetisi di kategori tersebut, Astridia mendapat ganti. Ia mengikuti Kejurnas Unesa dalam Kategori Jurus Tunggal Putri dan menyabet medali emas. Sedangkan Tiara dan Wulan sama-sama mendapat medali perunggu. Kemudian, Leandra (15), Zarindi (14), dan Najma (14) berhasil mendapat medali perak di Kategori Jurus Beregu.

Persiapan untuk Kejurnas Live Virtual sudah disiapkan sejak akhir September 2021. Karena persiapan yang mepet, pembina mengarahkan anak didiknya untuk latihan setiap hari sampai hari H perlombaan agar dapat tampil dengan maksimal. Mereka berlatih setiap hari pada pagi dan sore hari.

Hambatan juga terjadi di kala mencoba latihan melalui zoom meeting. Endhofari mengatakan bahwa mereka harus mencoba latihan melalui zoom beberapa hari sebelum lomba. Hal ini dilakukan untuk menampilkan gambar terbaik untuk perlombaan Live Virtual itu.

Untuk latihan kategori individu, Wulan mengatakan bahwa ia harus berlatih sendiri untuk menghafal gerakan pencak silat yang sudah diajarkan. “Persiapannya itu latihan sendiri soalnya kan tunggal. Latihan pagi dan sore, menghafal jurusnya, dan gerak patah-patahnya,” ujar Wulan. Berli juga menambahkan bahwa ia merasa latihan disekolah itu tidak cukup, jadi ia menghafalkan gerakan di rumah agar di sekolah bisa tahu harus apa selanjutnya.

Untuk kategori ganda putri,  Astridia dan Zahwa mengatakan bahwa mereka berlatih berdua setiap hari  untuk mendapatkan chemistry yang baik. “Latihan berdua setiap hari, membangun chemistry bersama, dan kemana-mana berdua untuk melatih kekompakan juga,” ujar Astridia mewakili.

Untuk kategori beregu, Indi, Najma dan Leandra mengatakan bahwa mereka juga menghafalkan gerakan di rumah. Agar saat di sekolah mereka bisa langsung latihan bersama, menjalin chemistry dan menyamakan gerakan. “Awal latihan masih tidak tahu gerakan, jadi di rumah kita menghafal gerakan dulu. Baru di sekolah tinggal kita latihan bareng-bareng. Membangun chemistry juga biar gerakan kita sama,” ujar Indi.  Latihan yang dilakukan untuk Kejurnas yang diadan Unesa juga menggunakan metode yang sama meskipun tidak ada kategori ganda.

Hampir sebagian dari pesilat MTsN Kota Probolinggo ini memang sudah menyukai silat dari kecil. Bahkan ada yang sedari TK sudah mulai latihan pencak silat. Ada juga anak yang baru mulai latihan di kelas 7 tapi sudah bisa mendapatkan juara di Kejurnas lalu.

Sebagai pelatih, Endhofari tentu saja bangga terhadap prestasi anak asuhnya. Kendati demikian ia berpesan kepada mereka agar tidak boleh sombong dan takabur. “Selalu rendah hati, karena di atas langit, masih ada langit,” katanya.  

Sementara, Kepala MTs Negeri Kota Probolinggo Tawin mengaku bangga terhadap pencapaian anak didiknya tersebut. Ia bersyukur bahwa dengan latihan yang sungguh-sungguh, telah mendapatkan hasil yang memuaskan juga.

 “Dengan berlatih bersungguh-sungguh, pasti ada buah yang diperoleh. Intinya buahnya itu hanya sebagai motivasi saja. Siapa yang tidak bangga bisa menjadi seorang juara,” ujar Tawin sambil memandang para pemenang Kejurnas pencak silat. Lalu Tawin berpesan kepada para siswa-siswinya itu agar tidak hanya berusaha di ektrakurikuler, tetapi juga berusaha semaksimal mungkin dalam pembelajaran akademik. (yua/ata/sal/ian/why)