Museum Probolinggo Bakal Digelontor Pemerintah Pusat Rp 2,3 M untuk Pengembangan, Pemerhati Seni-Budaya Ingatkan Ini

Alvi Warda
Alvi Warda

Tuesday, 07 Apr 2026 13:37 WIB

Museum Probolinggo Bakal Digelontor Pemerintah Pusat Rp 2,3 M untuk Pengembangan, Pemerhati Seni-Budaya Ingatkan Ini

MUSEUM: Kondisi Museum Probolinggo yang bakal dikembangkan.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Museum Probolinggo bakal dikembangkan dengan anggaran Rp 2,3 miliar dari pemerintah pusat. Pemerhati seni-budaya menyoroti agar tidak hanya fokus pada bangunan, namun juga penguatan nilai sejarah.

Konsep rencana pengembangan dan pembangunan Museum Probolinggo ini, masih diajukan ke Kementerian Kebudayaan. Diketahui, pengembangan akan dilakukan pada sisi taman museum.

Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo Sardi mengatkan, museum yang berada di Jalan Suroyo itu menjadi salah satu calon penerima anggaran (lokus) dari pemerintah pusat. Seluruh proses nantinya akan ditangani oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, meski hingga kini masih menunggu hasil verifikasi.

"Alhamdulillah Museum Probolinggo menjadi salah satu calon penerima (sebagai lokus) anggaran dari Kementrian Kebudayaan, anggaran dan semua proses nanti dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI. Itupun kepastianya masih menunggu verifikasi dari BPK wilayah XI....begitu," kata Sardi melalui pesan singkat, Senin (6/4/2026).

Rencana ini mendapat perhatian dari pemerhati budaya sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Dewan Kesenian Kota Probolinggo (DKKPro) Budi Krisyanto. Ia mengingatkan agar rencana pengembangan tidak sekadar berfokus pada fisik bangunan, tetapi juga memperhatikan aspek pelestarian nilai sejarah dan budaya. "Sungguh menggembirakan jika ada perhatian kepada Museum Probolinggo sekaligus sebagai Pusat Kesenian dan Kebudayaan Probolinggo," katanya, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, renovasi harus tetap mengacu pada kaidah bangunan cagar budaya. Ia menegaskan bahwa tampilan depan museum tidak boleh diubah secara sembarangan karena merupakan bagian penting dari identitas sejarah. “Tampak depan harus tetap dipertahankan. Jangan sampai renovasi justru menghilangkan nilai historis bangunan,” tegasnya.

Selain itu, Budi Kris juga mengkritisi pentingnya kajian revitalisasi yang komprehensif sebelum pembangunan dilakukan. Tanpa perencanaan yang matang, ia khawatir pengembangan museum hanya bersifat kosmetik dan tidak menyentuh substansi.

"Menurut saya perlu dilengkapi kajian Revitalisasi Museum Probolinggo. Pengkayaan benda museum perlu dilakukan secara serius. Demikian pula penataan ruang yang memungkinkan pengunjung lebih terasa nyaman dan berkesan," ucapnya.

Ia menyoroti perlunya pengkayaan koleksi benda museum secara serius. Menurutnya, daya tarik museum tidak hanya ditentukan oleh bangunan, tetapi juga isi dan narasi yang disajikan kepada pengunjung.

Tak hanya itu, penataan ruang dinilai harus lebih diperhatikan agar pengunjung merasa nyaman dan mendapatkan pengalaman yang berkesan. Ia juga menilai selama ini aspek tersebut masih belum optimal. "Nah, tanpa strategi promosi yang kuat, pengembangan museum tidak akan berdampak signifikan terhadap peningkatan kunjungan," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya dukungan fasilitas pendukung seperti kuliner dan UMKM, serta penyajian seni budaya sebagai daya tarik tambahan. Menurutnya, museum seharusnya tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem budaya yang hidup.

Ia menambahkan agar pengembangan Museum Probolinggo diintegrasikan dengan Museum Dokter Saleh. Dengan integrasi tersebut, keduanya dapat saling melengkapi, baik sebagai destinasi wisata maupun sebagai bagian dari kalender event budaya. “Kalau tidak terintegrasi dan tidak ditopang konsep yang kuat, pengembangan ini berisiko tidak maksimal,” tuturnya. (alv/why)


Share to