Alvi Warda


Wartawan Tadatodays.com | 2022-09-19 11:12:31

Ongkos Bajak dan Pengairan Sawah Naik, Beli Solar Ruwet

BAJAK: Petani merasakan dampak kenaikan harga BBM. Ongkos membajak sawah naik seratus persen lebih. Selain itu, pengairan sawah juga naik ongkos.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Keputusan pemerintah menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) per Sabtu (3/9/2022) lalu, dirasakan pula dampaknya oleh petani di Kota Probolinggo. Ongkos untuk mesin traktor atau mesin pembajak sawah, naik tinggi. Begitu pula dengan ongkos pengarian sawah.

Sebelumnya, ongkos untuk membajak sawah tidak sampai Rp 200 ribu. Tetapi setelah harga BBM naik, ongkos bajak sawah naik jadi Rp 550 ribu.

Baca Juga : Tarif Tidak Naik, Gapasdap Banyuwangi Kurangi Trip Pelayaran

Hal itu dituturkan oleh Ahmad, 47, seorang petani asal Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Sawahnya yang seluas hampir dua hektar itu, baru pertama kali dibajak dengan memakan ongkos hingga Rp 550 ribu. “Padahal, sebelumnya ndak sampai 200 ribu. Ini kan lagi membajak, ongkosnya 550 ribu kemarin itu ke tukangnya,” ujarnya saat ditemui pada Senin (19/9/2022) pagi.

Baca Juga : Nelayan Mengeluh Kesulitan BBM, Gubernur: Sampaikan Usulan Kebutuhan

Menurut Ahmad, naiknya ongkos ini lantaran pemilik mesin traktor susah mendapat BBM solar. Mendengar itu, Ahmad memakluminya. “Katanya gara-gara BBM naik, kan pakai solar,” ucap Ahmad.

Ahmad memiliki mesin pompa diesel untuk pengarian sawahnya. Itu juga membuatnya resah, meski tidak setiap hari membutuhkan solar untuk mengairi sawah. Ahmad sangat memberatkan adanya kenaikan harga BBM. “Saya itu butuh 10 liter untuk sehari. Biasanya kebutuhannya itu 20 liter. Sekarang kan naik, berat banget kalau sudah lihat harga di mesin pomnya itu. Mahal,” ujarnya.

Selain soal harga, Ahmad juga mengeluhkan keharusan membawa surat izin untuk membeli solar. Petani harus melampirkan surat itu pada petugas SPBU saat membeli solar.

Menurut Ahmad, syarat itu sangat menyusahkannya. Sebab, ia harus meminta tanda tangan ke RW atau kelurahan setempat. “Sekarang itu harus pakai surat kalau mau beli solar, bagi petani yang memiliki mesin pengairan sawah.  Ruwet,” tuturnya.

Pagi itu, Ahmad membajak sawahnya untuk ditanam jagung. Dalam kondisi biaya operasional naik, kata Ahmad, harga jual jagung malah turun. Ahmad mendengar dari para tengkulak, bahwa harga jagung saat ini turun menjadi Rp 4 ribu per kilogram, dari harga awal Rp 5 ribu per kilogram.

“Solarnya naik, jagungnya turun 1.000 rupiah. Nggak besar turunnya. Tetapi kalau dihitung nanti ya dirasa juga harganya. Semoga nanti ada kenaikan setelah saya panen,” ucapnya. (alv/why)