Tadatodays


Wartawan Tadatodays.com | 2021-09-06 13:12:10

Pagelaran Virtual “Pagebluk” Sukses

PAGEBLUK: Tokoh Ki Sutapardolo dalam drama tari "Pagebluk" memerintahkan para setan, jin dan demit menciptakan pagebluk di Kademangan. Drama tari ini dilangsungkan di Gedung Kesenian Kota Probolinggo, Minggu (5/9/21) sebagai sajian utama pagelaran virtual tim kesenian Kota Probolinggo untuk Anjungan Jawa Timur TMII Jakarta.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Kota Probolinggo menyajikan pagelaran seni virtual untuk Anjungan Jawa Timur TMII (Taman Mini Indonesia Indah) pada Minggu (5/9/21). Acara yang dimulai pukul 11.10 ini menyajikan tari, lagu dan dramatari berjudul “Pagebluk”.

Baca Juga : Pementasan Virtual Sajikan Dramatari “Pagebluk”

Pagelaran seni ini dikendalikan dari Anjungan TMII Jakarta. Sedangkan sajian tari, lagu dan dramatari ditampilkan langsung dari Gedung Kesenian Kota Probolinggo. Penonton diarahkan menyaksikan secara virtual melalui Zoom Meeting dan akun YouTube Anjungan Jawa Timur.

Acara dipandu MC dari Anjungan Jawa Timur TMII Jakarta. Diawali dengan pemutaran video tentang Kota Probolinggo. Selanjutnya, ditampilkan tari Kiprah Glipang dari TMII.   

Sebelum masuk ke sajian dari tim kesenian Kota Probolinggo, ada sambutan dari Ketua Paguyuban Yuangga Bambang Sambadi. Paguyuban Yuangga merupakan perkumpulan warga Probolinggo yang tinggal di Jakarta. Berikutnya sambutan dari Kepala Anjungan Jawa Timur TMII Jakarta Samad Widodo.

Usai sambutan-sambutan tersebut, tim kesenian Kota Probolinggo menampilkan tari Kiprah Lengger. Tarian ini diangkat dari kesenian Lengger di Pasar Mangunharjo sebagai tarian pembuka pertunjukan. Seiring perkembangannya, Kiprah Lengger menjadi tari untuk menyambut para tamu.       

Setelah itu, giliran Walikota Probolinggo Hadi Zainal Abidin menyampaikan sambutan. Ia mengatakan bahwa, “Tampilan kesenian di Anjungan Jawa Timur TMII seharusnya dilaksanakan di Jakarta, namun tahun ini dilaksanakan secara virtual dan bertepatan dengan rangkaian hari jadi ke-662 Kota Probolinggo.”

Penampilan dilanjutkan dengan lagu Sekar Bayuangga, yang merupakan lagu daerah Kota Probolinggo. “Sekar” berarti bunga. “Bayu” artinya angin. “Angga” adalah anggur dan mangga. Maknanya, Kota Probolinggo terkenal dengan anggur dan mangga. Di saat musim panen pasti di Kota Probolinggo sedang musim angin (angin Gending).

Setelah lagu Sekar Bayuangga, dramatari Pagebluk dipentaskan. Tirai hitam yang menutup panggung terbuka perlahan, lalu memunculkan rakyat Kademangan hidup tenteram dan bahagia. Pemilik hasil panen yang melimpah Demang Kareng Kumancir dan keluarga juga selalu berbagi kebahagiaan dengan warga sekitar.  

Adegan perlahan berganti menunjukkan tokoh antagonis Ki Sutapardolo yang iri akan kebahagiaan saingannya. Sawahnya gagal panen. Ia menuduh Ki Demang Kareng Kumancir sebagai penyebabnya. "Duhh... Duhh. Yaapa iki. Aja kira aku ora isa bales. Iki ulahe Demang Kumancir (Bagaimana ini…Jangan kira saya tidak bisa membalas. Ini ulah Demang Kumancir)," ujarnya dengan menaikkan intonasi bicara.

Di puncak amarahnya, Ki Sutapardolo kemudian menghadirkan sekutunya, yaitu para setan, jin dan demit. “Rungokno aku. Aku iki juraganmu (Dengarkan saya. Saya ini juraganmu)," katanya kepada para setan, jin dan demit.

Ki Sutapardolo kemudian memerintahkan para setan, jin dan demi itu agar membuat pagebluk di Kademangan. “Isuk loro, sore mati,” katanya. Penyakit mulai tersebar dan banyak warga Kademangan yang sekarat.

Peristiwa pagebluk ini didengar oleh Kerajaan Majapahit. Raja Wikramawardana memerintahkan prajuritnya untuk memerangi setan, jin, dan demit yang menyebarkan penyakit. "Tugas negara, ngelawan pagebluk," kata si pemimpin prajurit sambil mengangkat panahnya Tetapi, para prajurit ikut sekarat dan mati di tengah peperangan.

Kedua anak perempuan Demang Kareng Kumancir meminta tolong kepada Sang Kelana Syekh Maulana Malik Ibrahim bersama santrinya, Jalak Setra. Syekh Maulana Malik  Ibrahim kemudian melakukan ritual.

Setelah melakukan ritual, Syekh Maulana Malik Ibrahim menyerahkan pucuk janur kepada Jalak Setra agar digunakan untuk melawan para makhluk halus. Bersama anak-anak Demang Kareng Kumancir, Jalak Setra kemudian berhasil menyembuhkan penyakit rakyat Kademangan dan sekitarnya. Tak disangka, rakyat pun kembali sehat.

Ki Sutapardolo pun berhasil dikalahkan oleh Jalak Setra. Ki Sutapardolo yang mengetahui kekalahannya segera meminta maaf dan bertobat dibantu Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Jaka Setra diperintahkan Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk menjaga ketenteraman wilayah Kademangan. Akhirnya, Jaka Setra menikah dengan salah satu anak Demang Kareng Kumancir.

Pimpinan sanggar Bina Tari Bayu Kencana Peni Priyono (62) yang menyutradarai dramatari Pagebluk menyatakan, tampilannya berjalan sukses. “Sudah sesuai rencana. Kalaupun ada sesuatu yang belum (sesuai rencana, red), itu memang karena kemampuan peraganya. Tetapi alur cerita sudah berjalan dengan lancar,” ujar Peni saat ditemui seusai acara berlangsung.

Pagelaran seni ini dirasa menghibur, seperti diungkapkan salah satunya oleh Elfira (23).  “Buat aku sama temenku ini yang suka musik tradisi gini, ini hiburan sih. Bisa untuk refreshing kecil-kecilan,” katanya usai menyaksikan pertunjukan di Gedung Kesenian. (sal/yua/ata/ian/why)