Muhammad Musleh


Wartawan Tadatodays.com | 2021-11-12 17:38:42

Panen Padi di Banyuwangi, Puan Maharani Sebut Bisa Jadi Agrowisata

SERAP ASPIRASI: Ketua DPR RI Puan Maharani Bersama petani melakukan panen padi di area persawahan Dewi Rembang, Desa Banjar, Kecamatan Licin. Ia menyebut pertanian di Banyuwangi bisa dijadikan objek wisata.

BANYUWANGI, TADATODAYS.COM - Ketua DPR RI Puan Maharani bertemu dengan para petani di area persawahan Dewi Rembang, Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jumat (12/11/2021). Dalam kesempatan itu, politisi yang akrab disapa Puan itu turut serta memanen padi jenis Inpari 32 sampai jenis Black Madras atau padi hitam.

Sambil mengayunkan sabitnya memotong padi, Puan mengajak bicara para petani perempuan. “Sampean medamele nopo (anda bekerja apa, Red)?” sapa Puan dengan bahasa Jawa. “Buruh tani,” jawab Siti Munawaroh. Ketika ditanya jam istirahat, mereka menjawab jam 12.00 siang.

Baca Juga : Capai 70,36 Per Oktober, Serapan APBD Kabupaten Banyuwangi Tertinggi di Jawa Timur

Usai berbincang dengan petani, Puan mengatakan bahwa sawah di lokasi tersebut memiliki potensi besar untuk dijadikan agrowisata. Perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR itu mengatakan, proses mengolah tanah hingga panen bisa menjadi atraksi wisata yang bagus.

Baca Juga : Kali Kedua, Kabupaten Banyuwangi Sabet Penghargaan Swasti Saba Wistara

“Agrowisata seperti ini bisa menjadi keunggulan pariwisata Indonesia karena kita memilki banyak lahan pertanian dan perkebunan,” tuturnya. Puan pun memuji masyarakat Banyuwangi yang solid menjadikan kegiatan pertanian sebagai bentuk pelestarian kebudayaan.

Semangat gotong royong, kolaborasi, tanam sama-sama, panen sama-sama, hingga meningkatkan produktivitas, juga turut mengangkat tradisi local. Meski begitu, Puan menyebut masyarakat Banyuwangi juga terbuka dengan perkembangan zaman. Di antaranya, melakukan pertanian modern menggunakan transplenter rice.

“Artinya, petani di agrowisata bukanlah penonton tapi pelaku,” lanjut mantan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) itu. Usai memanen, Puan lalu memberikan sejumlah bantuan kepada masyarakat Banyuwangi. Kepada kelompok tani, ia memberikan 20 unit hand traktor, 20 unit pompa air, dan 10 sprayers.

Kemudian untuk kelompok difable, Puan memberikan 50 kursi roda, 25 alat bantu dengar, 10 tongkat elektrik, dan sembako yang akan didistribusikan oleh Pemkab Banyuwangi. Puan juga memberi bantuan untuk 3 orang pelajar berupa laptop, tools kit, dan sarana video kreatif.

Tak hanya itu, sebanyak 215 paket diberikan sebagai santuan untuk janda-janda korban covid-19. Puan juga memberikan santunan pada 200 anak yatim-piatu korban Covid-19, yang dilakukan secara simbolis.

“Semoga sedikit bantuan ini dapat meringankan beban warga. Kehadiran saya di sini pun sebagai upaya menyerap aspirasi masyarakat. Apabila ada permasalahan, kami akan bantu mencarikan solusinya,” tutup cucu Proklamator RI Bung Karno tersebut.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang turut mendampingi meny\gatakan, pertanian merupakan salah satu prioritas dari program kerjanya. Berbagai hal mendasar dalam dunia pertanian menjadi hal yang diperbaikinya. Di antaranya dengan meningkatkan wawasan para petani guna meningkatkan produktivitas hasil taninya.

"Kami memperkenalkan varietas bibit unggulan kepada para petani agar hasil panennya lebih melimpah. Juga lebih tahan hama. Seperti di kawasan Dewi Rembang ini, kami kembangkan varietas Inpari 23 dan Black Madras," terang perempuan yang akrab disapa Ipuk itu.

Selain itu, lanjut Ipuk, secara bertahap para petani digerakkan untuk menggunakan pupuk organik dalam setiap masa tanamnya. Hal ini untuk menjawab kelangkaan pupuk anorganik yang selama ini kerap dikeluhkan oleh para petani. Termasuk mengubah pola pemupukan yang selama ini banyak menggunakan bahan kiamiwi.

Tidak hanya mengubah tata kelola pertaniannya, Ipuk juga konsen meningkatkan nilai tambah pertanian. Seperti halnya pengelolaan pasca panen sampai sisi lain di luar dunia pertanian. Di antaranya destinasi wisata. (*/mus/sp)