Petani di Pasuruan Resah, 5.466 Ton Gula Menumpuk di Gudang, Tak Terserap Pasar

Amal Taufik
Amal Taufik

Wednesday, 27 Aug 2025 18:28 WIB

Petani di Pasuruan Resah, 5.466 Ton Gula Menumpuk di Gudang, Tak Terserap Pasar

GULA: Ribuan ton gula di Pasuruan menumpuk tak terserap pasar. Petani mendesak pemerintah segera mengambil tindakan. (Foto: istimewa)

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Petani tebu di Kabupaten Pasuruan resah. Ribuan ton gula menumpuk di gudang tak terserap pasar. Mereka meminta pemerintah segera mengambil tindakan.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Pasuruan Mawardi. Ia menyebut, saat ini stok gula milik petani menumpuk di Pabrik Gula (PG) Kedawung, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan.

Jumlahnya cukup besar, mencapai 5.466 ton. Ribuan ton gula ini tidak terserap pasar. Mawardi menyebut, faktor penyebab gula petani ini tak terserap pasar karena beredarnya gula rafinasi di pasar konsumsi.

Padahal, berdasarkan regulasi, gula rafinasi tidak boleh dijual ke konsumen. Gula rafinasi hanya boleh digunakan sebagai bahan baku industri seperti industri makanan, minuman, dan farmasi.

"Nah ini kan sekarang sudah masuk masa giling. Mulai bulan 6 sampai bulan 12. Jadi stok akan terus menumpuk. Dan ini tidak di Pasuruan saja, tapi terjadi seluruh Indonesia," kata Mawardi, Rabu (27/8/2025)

Oleh karenanya, ia mendesak pemerintah, melalui satgas pangan, segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan petani tebu. Beredarnya gula rafinasi di pasaran harus segera ditertibkan.

Kemudian, menurut Mawardi, pemerintah juga harus segera membeli stok gula yang menumpuk di gudang. Hal ini, kata dia, pernah terjadi di tahun 2016. Saat itu Bulog yang membeli stok gula petani.

Mawardi berharap janji pemerintah pusat untuk membeli stok gula petani melalui Danantara segera direalisasikan. Sebab jika stok gula yang ada saat ini tidak terserap, modal petani tidak akan kembali. Petani tidak memiliki uang untuk masa tanam selanjutnya.

"Kalau pinjam bank, ya bunganya bagaimana. Makanya kehancuran yang akan terjadi. Jangan ngomong swasembada pangan sudah kalau petaninya hancur," ujar Mawardi.

Sementara itu, Bagian Keuangan PG Kedawung, Suwondo membenarkan hal tersebut. Sejak bulan Juli 2025, setiap pekan petani mengirim 500 hingga 600 ton gula ke gudang.

Menurut Suwondo, gula petani biasanya dilelang. Harga acuan pembelian saat ini Rp14.500 per kilogram. Yang terjadi, saat lelang dilakukan, tidak terjadi kesepakatan dengan pembeli.

"Otomatis gulanya tidak bisa diambil dan masih di gudang. Kalau mekanisme lelangnya sendiri kami kurang tahu. Kami hanya tahu gula petani dititipkan di gudang. Nanti kalau ada pembeli, ada surat dari lelang, kami yang mengeluarkan," kata Suwondo. (pik/why)


Share to