Hilal Lahan Amrullah


Wartawan Tadatodays.com | 2020-08-17 20:11:59

Petani Dringu Probolinggo Upacara di Sawah, Berharap Petani Diperhatikan

UPACARA: Sejumlah petani di Dusun Lajuk, Desa Ngepoh, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo mengadakan dan mengikuti upacara bendera memperingati 17 Agustus, di hamparan sawah.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Suasana peringatan HUT Kemerdekaan RI kali ini sangat berkesan bagi warga Dusun Lajuk, Desa Ngepoh, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Pasalnya sejumlah oetani di dusun itu turut melaksanakan upacara bendera. Uniknya, bukan di lapangan. Melainkan di atas sawah.

“Mayoritas petani bawang merah, sebagian, jagung, sebagian padi, sebgaian palawija. Ada 300 peserta yang ikut upacara,” terang Kepala Desa Ngepoh, Salehudin.

Baca Juga : Peringatan Hari Santri di Kota Probolinggo, Libatkan Santri Jadi Peserta Upacara, Resmikan Museum Rasulullah SAW

Salehudin berterimakasih atas antusiasme dari petani. Bahkan upacara tersebut merupakan inspirasi dan aspirasi dari para petani bawang merah di desa setempat. “Ini adalah luapan kegembiraan, luapan kesenangan, dan inilah isi hati petani desa kami. Dengan momentum 17 Agustus 1945, pada Tahun 2020 ini diisi dengan semangat petani dengan harapan semoga hasil tani tahun depan, bulan depan, dan musim depan, ini lebih meningkat,” teranga, Salehudin.

Baca Juga : Surplus, Bulog Jember akan Kirim 3.550 Ton Beras ke NTT dan Papua

Pihaknya berharap, pemerintah bisa memberi bantuan alat pertanian. Seperti alat mesin pertanian, bibit, atau bahkan pembinaan bagi petani desa setempat. “Kami sebagai petani, dan desa yang mayoritas petani, hanya berapa persen saja yang pegawai negeri. Petani siap memerangi dan memotong mata rantai penularan covid-19, dengan kita berjemur di lapangan seperti ini dengan kegiatan pertanian dan lainnya,” jelasnya.

Sementara seorang petani desa setempat, Dedy Arifianto mengatakan, berharap semua ada. Contohnya sekarang yang dikeluhkan oleh petani adalah pestisida dan pupuk. Seperti urea, itu sangat sulit didapat, dan mahal. “Seperti ada yang memainkan, kita harus beli pupuk urea. Harus beli dengan ada paket, digabung dengan sama dengan yang pupuk lain. Jadi petani di sini, bukan masalah untung ruginya. Petani di sini pasti melakukan, untuk apapun pasti dibeli, tapi tolong didengar keinginan kami. Bukan butuh bantuan, tapi butuh perhatian pemerintah,” Dedy Arifianto, petani Desa Ngepoh, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. (hla/hvn)