Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2020-08-16 18:55:01

Petani Tembakau Paiton Probolinggo Sulit Dapatkan Pupuk Bersubsidi

SULIT: Subaweh merawat tanaman tembakau miliknya. Ia berharap tahun ini harga tembakau mengalami kenaikan mengingat harga pupuk yang semakin mahal.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Bertani tembakau tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi kalau bukan karena pandemi corona virus disease 19 atau yang lebih di kenal dengan covid-19. Bukan karena virus itu juga menyerang tembakau namun, ada banyak yang berubah karena pandemi ini. Termasuk harga dan stok pupuk bersubsidi yang kian memberatkan.

Seperti yang disampaikan Subaweh, 52, warga Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. Ia mengatakan bahwa tanaman tembakaunya yang mencapai 12.000 pohon dan sudah berumur 1,5 bulan atau 45 hari itu diakuinya sudah bagus. Hanya ada beberapa di antara tanamannya tersebut yang daunnya keriting yang disebabkan cuaca dingin. Ia sudah berupaya memberikan obat keriting, namun tetap saja tidak bisa kembali semula.

Baca Juga : Surplus, Bulog Jember akan Kirim 3.550 Ton Beras ke NTT dan Papua

"Ada beberapa daunnya keriting. Sudah tak kasik obat namun tetap saja masih keriting," Tandasnya pada tadatodays.com pada Selasa (11/8/2020).

Baca Juga : Hujan, Petani Tembakau di Probolinggo Resah

Saat ini yang menjadi masalah adalah, sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi yang sudah menjadi kebutuhan tanaman tembakaunya itu. Pasalnya di pasaran pupuk bersubsidi tersebut di jual dengan harga Rp 300 ribu per 100 kg-nya. Sedangkan sebelumnya hanya seharga Rp 150 ribu. Kenaikan tersebut membuatnya kecewa, ia bahkan sampai mencari pupuk ke luar kecamatan.

"Pupuk ini mahal sulit mas, mahal tak apa asal tidak sulit lah. Kalau saya sering tanam sampores (jenis tembakau, red). Harapannya semoga harga tembakau mahal itu saja mas," ucapnya, penuh harap.

Tembakau yang ia tanam saat ini, masih sama dengan sebelum-sebelumnya, yakni berjenis sampores. Subaweh menilai tanaman sampores ini selain tingginya bisa mencapai 2 meter lebih, daunnya pun lebih lebar di banding dengan tembakau jenis lainnya. Sehingga hasil panen diharapkan lebih banyak. Ia berharap harga tembakau  tahun ini bisa mahal, mengingat harga pupuk juga mahal.

Harapan sama disampaikan, Syafi'i, 26, petani tembakau asal Desa Pondok Kelor, kecamatan setempat. Ia juga mengaku sawah dengan kapasitas 5.000 tembakau itu juga menanam tembakau jenis sampores.

"Saya nanam sampores, karena kalau pakai yang lain tidak bisa hidup. Mati terus, pernah sudah dicoba. Semoga mahal tahun ini (harga tembakau, red)," tuturnya di sela-sela penyiraman tembakaunya.

Ia juga mengaku kesulitan mencari pupuk, hingga kemarin, ia baru bisa pas mendapatkannya dari toko di kecamatan pakuniran. (zr/hvn)