Tadatodays


Wartawan Tadatodays.com | 2021-09-28 17:52:49

“Pohon-Pohon Bercerita” di Bukit Dami

LANDEUR: Makam kaki Landeur, sosok raksasa.

SEBUAH bale bambu sederhana menjadi pentas kecil di ampher Bukit Dami. Tiga orang pemuda berambut gondrong menyuguhkan tiga lagu pembuka kepada audiens di hadapannya. Dua lagu di antaranya ialah “Kebenaran Akan Terus Hidup” dan “Bunga dan Tembok”. Keduanya adalah lagu milik Fajar Merah, anak penyair yang hilang di masa Orde Baru: Wiji Thukul.

Baca Juga : Pohon-Pohon Bercerita di Bukit Dami

Saat sampai di lagu “Bunga dan Tembok” yang berasal dari syair Wiji Thukul, si vokalis larut dalam pesan. Larik puisi dalam lagu itu ia pekik dalam suara parau: Kau harus hancur! Kau harus hancur! Akhirnya, vokalis itu terisak hingga suaranya hilang untuk beberapa saat.

Perform dua pemuda bergitar dan seorang penyanyi yang tergabung dalam tim akustik Sekolah Rimba itu membuka launching “Pohon Bercerita” di Bukit Dami, Minggu (26/9/21) sekira pukul 14.00. Bukit Dami merupakan destinasi wisata yang terletak di Desa Tigasan Wetan, Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo. 

Wisata Bukit Dami dirintis seorang anak muda bernama Wahyudi Bahtiar (23) sejak akhir 2019. Bersama rekan-rekan sejawatnya, Wahyudi merawat bukit yang berstatus tanah aset desanya itu menjadi tempat wisata edukasi. Melalui kelompok bernama Teras Tanah, Wahyudi bersama rekan-rekannya telah berhasil menjadikan Bukit Dami sempat destinasi wisata baru di Kabupaten Probolinggo sisi selatan.

Di tangan anak-anak muda itu, wisata Bukit Dami dikelola dengan mengikuti perkembangan zaman. “Pohon Bercerita” yang dilaunching Minggu siang itu menjadi wujud nyatanya. Launching itu dilangsungkan di ampher atau ruang tamu Bukit Dami yang serupa amphiteater mini.

BERCERITA: Barcode di bawah pohon yang bisa dipindai dan dinikmati ceritanya.

Pegiat literasi, sosial media, konservasi lingkungan, dan Tadatodays.com yang diundang di acara tersebut disuguhi pidato kebudayaan oleh dosen Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo Indra Tjahyadi. Setelah itu, barulah Wahyudi Bahtiar selaku ketua Teras Tanah memberi penjelasan ringkas tentang “Pohon Bercerita”.   

Menurut Wahyudi, “Pohon Bercerita” merupakan jati diri Bukit Dami. Pohon wujud dari kelestarian alam. Pohon menjadi sarana literasi. Pohon sebagai wadah pemanfaatan teknologi digital, serta pohon sebagai pariwisata hijau atau pariwisata berkelanjutan.  

“Pohon Bercerita” menjadi wujud dari kesadaran tim pengelola Bukit Dami untuk melek literasi. Ini berawal dari ketertarikan Wahyudi di bidang baca dan tulis, lalu berkembang menjadi karya yang tak hanya dinikmati diri sendiri, tetapi juga agar bisa dinikmati oleh pengunjung Bukit Dami.  

“Jadi yang dimaksud ‘Pohon Bercerita’ itu adalah tujuh jenis pohon terpilih yang ada di Bukit Dami itu kami narasikan. Kami buatkan cerita pendek,” tutur Wahyudi yang hari itu kompak bersama timnya mengenakan kaos warna hijau bertulis “Bukit Dami”.  

Dari ampher, para undangan diajak menjelajajahi puncak Bukit Dami yang memiliki ketinggian sekitar 250 mdpl (meter di atas permukaan laut). Ada tujuh pohon di Bukit Dami yang dipilih. Lalu pada tujuh pohon itu dibuatkan cerita pendek.

Di bawah tujuh pohon itu masing-masing diberi plakat berisi informasi nama pohon, berikut barcode. Pengunjung bisa memindai barcode tersebut menggunakan smartphone, lalu membaca cerita pendek tentang pohon itu. Maka, terjadilah, pohon-pohon bercerita di Bukit Dami.

Salah satu dari pohon yang bercerita ialah pohon duwet. Dari pohon ini ada cerita tentang seorang anak SD bernama Ilus. Nah, pohon duwet itu bisa menebak kejujuran setiap orang yang memakan buahnya. 

Lalu ada cerita dari pohon rukem yang menjadi saksi bisu peristiwa penebangan pohon masal di Bukit Dami. Pohon rukem juga bertugas menyampaikan pesan terakhir pohon-pohon yang sekarat.  

Bukit dami yang dikelola Teras Tanah menjadi tempat wisata ini merupakan tanah kas milik desa. Luasnya sekitar tiga hektare. Sesuai slogannya, Bukit Dami menyuguhkan keindahan alam di berbagai arah.  

Bukit Dami saat ini semakin hijau. Stebby Julionatan, seorang pegiat literasi yang menghadiri launching “Pohon Bercerita” mengaku terkejut melihat vegetasi di Bukit Dami. “Terakhir aku datang ke sini, belum sebanyak ini pohonnya,” ujarnya saat menjelajah puncak Bukit Dami.

BUKIT DAMI: Menikmati panorama sambil berayun-ayun di puncak Bukit Dami.

Dari puncak Bukit Dami, pengunjung bisa menyaksikan pemandangan Gunung Argopuro dan Gunung Lemong di arah timur. Di arah selatan, pengunjung dapat melihat pemandangan sepuluh jajaran perbukitan. Di arah barat terdapat pemandangan Gunung Penawungan dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sedangkan di arah utara terdapat pula pemadangan berupa wilayah perkotaan Kota Probolinggo hingga pulau Gili Ketapang.  

Tidak hanya pemandangan yang tersaji di Bukit Dami. Di puncak bukit ini juga ada Makam Landeur, yaitu sosok dalam mitos yang berwujud makhluk besar dan tinggi menjulang. Sebagian orang menyebut Landeur adalah sosok raksasa. Konon, bagian tubuh makhluk ini dimakamkan terpisah. Yang ada di Bukit Dami adalah makam kaki Landeur.  “Yang ada batunya itu bagian makamnya,” jelas Wahyudi di Makam Landeur.

Selain itu, Teras Tanah juga menyediakan paket wisata bermalam di Bukit Dami untuk keluarga kecil. “Kami sediakan fasilitas bagi keluarga kecil yang ingin menikmati indahnya alam semalaman di Bukit Dami,” kata Wahyudi.

Bukit Dami dapat dinikmati sepanjang waktu. Saat pagi hari, pengunjung dapat menikmati pemandangan matahari terbit. Saat siang hingga sore, pengunjung dapat menikmati bentang alam dan matahari terbenam. Lalu di malam hari, ada pemandangan milky way atau taburan bintang malam yang tidak kalah indah.  

Menurut Wahyudi, tingkat kunjungan terbanyak terjadi pada Agustus 2020. Pengunjung berdatangan setiap Sabtu dan Minggu, dan kebanyakan yang bermalam. “Di Bukit Dami ini lebih banyak momen-momen tertentu, seperti saat berburu matahari terbenam paling ramai di bulan Juli-September. Lalu di musim hujan, banyak pengunjung di pagi hari menikmati sejuknya udara pagi dan matahari terbit,” papar Wahyudi.

Untuk menopang kemandirian pengelolaan Bukit Dami, pengelola memungut tarif parkir Rp 3 ribu untuk sepeda motor dan Rp 15 ribu untuk mobil. Tarif parkir akan berubah bila pengunjung bermalam. “Dari tarif parkir itu, 50 persennya digunakan untuk mengolah Bukit Dami, dan 50 persen sisanya dimasukkan ke dalam kas,” terang Wahyudi. 

Setelah melaunching “Pohon Bercerita”, Teras Tanah siap mengundang para pelajar per wilayah. “Sabtu -  Minggu akan kami undang pelajar-pelajar per wilayah. Akan kami petakan agar nanti mereka dapat menyimak ceritanya. Mereka juga akan diberikan edukasi, seperti kelas pohon, agar mereka lebih mengenal lingkungan, memiliki kepedulian pada kelestarian alam dan mengolah sampah,” ujar Wahyudi.

Rute menuju Bukit Dami terbilang mudah dijangkau. Dari jalur utama Jalan Raya Probolinggo-Lumajang di Desa Tigasan Wetan, Leces, anda tinggal masuk jalan ke arah barat. Tepatnya jalan ke arah barat setelah SPBU Tigasan Wetan. Dari jalan masuk itu, lokasi Bukit Dami berjarak kurang dari 1 kilometer.

Medan jalan sedikit menanjak. Tetapi kendaraan bermotor roda dua maupun mobil bisa masuk sampai ke area parkir.    

Selanjutnya, Wahyudi mengajak warga Probolinggo dan luar Probolinggo untuk datang berwisata edukasi di Bukit Dami. “Kami siap menyambut masyarakat dari Probolinggo maupun luar Probolinggo untuk menikmati keindahan di segala arah, serta turut menjaga kelestarian alam, kesenian dan kebudayaan lewat paket-paket yang kami sediakan di sini,”  kata Wahyudi.  (sal/yua/ata/ian/why)