Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2021-04-04 19:42:19

Probolinggo Response Rescue, Komunitas Khusus Penanganan Kebencanaan

DISTRIBUSI: Tak hanya melakukan penyelamatan korban bencana, anggota Probolinggo Response Rescue juga menyalurkan bantuan air bersih kepada korban banjir Dringu.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Probolinggo menjadi salah satu daerah di Jawa Timur yang kerap dilanda bencana. Seperti, bencana erupsi Gunung Bromo, tanah longsor di kawasan pegunungan, bencana di perairan laut dan sungai, hingga banjir yang menerjang.

Memang, penanganan kebencanaan menjadi urusan pemerintah daerah. Akan tetapi, penanganan bencana akan lebih ringan jika ada elemen yang turut membantu pemerintah.

Baca Juga : Probolinggo Response Rescue, Komunitas Khusus untuk Penanganan Kebencanaan

Nah, di Probolinggo, ada sebuah komunitas yang bergerak di bidang urusan tersebut. Namanya adalah Probolinggo Response Rescue atau yang disingkat PRR. Tak hanya aktif dalam kegiatan bencana alam, PRR juga turut membantu mengedukasi masyarakat agar bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga : BMKG Imbau Warga Waspadai Cuaca Ekstrem

Terbentuknya PRR ini diinisiasi oleh Muhammad Anshori, 50, warga Jl. Mastrip Gg. Mutiara Alam, Kelurahan/Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, pada tahun2017 lalu. Saat tadatodays bertemu dengan pria yang biasa dipanggil Ori itu, ia ditemani 3 orang temannya, yaitu Agus, Miko dan Dimas di salah satu warung di Kota Probolinggo.

Kemudian, tepat tahun 2018 PRR menyiapkan fasilitas kebencanaan secara swadaya, serta menetapkan arah kegiatan PRR.

Secara umum, Ori menyebut bahwa komunitas PRR dilatarbelakangi azas Bhineka Tunggal Ika dan Kebencanaan. Karenanya, di tahun 2018 itu, PRR langsung bergerak membantu korban bencana di Lombok dan Palu.

Sementara secara spesifik, sesuai nama komunitas, PRR bergerak di bidang kebencanaan, pencarian korban bencana, dan penyelamatan korban. Tak hanya itu, PRR juga diharapkan menjadi jembatan kegiatan kemanusiaan, dan berkontribusi menyalurkan keilmuan dan pengalaman tentang kebencanaan.

PENYELAMATAN: Sejumlah peralatan milik Probolinggo Response Rescue, salah satunya kayak, saat digunakan untuk mengevakuasi korban banjir di Kecamatan Dringu.

"Terkait penguatan dan memperkaya kemampuan respon rescue. Misalnya, ketika banjir dan ada orang tenggelam," ujar pria yang memiliki 2 Lesensi penyelaman di laut, yaitu dari Scuba School International (SSI) dan Ride Sertifikat.

Nah, di Probolinggo sendiri, PRR juga sudah banyak berbuat. Seperti, adanya satu orang pengunjung Air Terjun Guyangan, Kecamatan Krucil, yang tenggelam. “Juga, banjir sebanyak 4 kali di Desa Kedungdalem dan Desa Dringu,” kata Ori.

Pria Asli Lampung yang menetap di Kota Probolinggo sejak tahun 2017 ini menuturkan, selanjutnya, PRR tidak hanya bergerak saat bencana terjadi. Setiap satu bulan sekali, komunitasnya juga mengadakan latihan di tempat yang berpotensi terjadi bencana. Di tempat tersebut, PRR berbagi ilmu dan pengalaman dengan masyarakat setempat. “Sharing care. Mulai dari mitigasi, penilaian, dan evaluasi,” ujarnya.

MITIGASI: Muhammad Ansori (berdiri), saat melakukan mitigasi di bantaran Kali Kedunggaleng, Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu. Mitigasi itu dilakukan, setelah banjir melanda wilayah tersebut.

Kini, Probolinggo Resnpose Rescue telah memiliki 25 anggota dan sejumlah peralatan. Peralatan-peralatan itu seperti, 1 kayak dan perahu karet, 30 pelampung, 1 rol tali lempar sepanjang 100 meter. Dengan jumlah personel dan peralatan itu, Ori memastikan bahwa PRR siap terjun. "Jadi sewaktu-waktu ada kejadian kita siap terjun," katanya. Sejumlah peralatan itu dibeli dengan menggunakan uang iuran anggota.

Lalu, bagaimana jika ada masyarakat yang ingin bergabung dengan PRR. Ori menyampaikan, syaratnya tidak hanya niat, tapi juga harus tumbuh rasa kepedulian, komunikasi, gerakan serta kemampuan ilmu kebencanaan. "Saya tidak mau di PRR hanya sekadar nama untuk foto selfi. Tujuannya peran aktif,” ujarnya.

Nah, dalam jangka panjang, Orik berharap agar PRR masuk dalam sistem kebencanaan yang dikoordinir oleh pemerintah. Karena menurutnya, kebencanaan bukan hanya tugas pemerintah tapi juga masyarakat. "PRR ikut serta dalam proses pra bencana dan pasca bencana," katanya. (ang/don)