Produksi Garam di Kota Pasuruan Anjlok 2 Tahun Berturut-turut, Anomali Cuaca Jadi Penyebab

Amal Taufik
Amal Taufik

Monday, 12 Jan 2026 18:24 WIB

Produksi Garam di Kota Pasuruan Anjlok 2 Tahun Berturut-turut, Anomali Cuaca Jadi Penyebab

GARAM: Panen garam di wilayah Panggungrejo, Kota Pasuruan.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Produksi garam di Kota Pasuruan anjlok selama 2 tahun berturut-turut. Anomali cuaca jadi penyebabnya.

Data Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan menunjukkan pada tahun 2024 produksi garam mencapai 5.967 ton. Jumlah ini turun 601 ton atau 9,15 persen.

Terbaru, pada tahun 2025 produksi garam di Kota Pasuruan mencapai 4.832 ton. Produksi tahun 2025 ini turun 1.135 ton atau 19,02 persen dibanding produksi tahun 2024. "Memang sepanjang tahun 2025 kemarin anjlok," kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan, Mualif Arief.

Ayik, sapaan akrab Mualif Arief, menyebut bahwa di Kota Pasuruan ada 6 kelompok usaha garam rakyat (kugar) yang tersebar di 3 kecamatan yakni Kecamatan Panggungrejo, Bugul Kidul, dan Gadingrejo. Total lahan yang digarap seluas 109,39 hektare.

Jika dilihat per bulan, produksi garam dimulai pada bulan Juli, namun hasilnya belum maksimal. Total produksi garam pada bulan Juli hanya mencapai 65 ton.

Baru pada bulan Agustus hingga Oktober produksi garam melonjak. Agustus mencapai 894 ton, September mencapai 1.123 ton, dan Oktober mencapai 2.621 ton. "Itu memang puncak musim kemarau. Di bulan November, produksi garam turun. Hanya 3 kugar yang panen, totalnya 127 ton," imbuh Ayik.

Ayik menyebut, faktor utama yang memengaruhi adalah kondisi cuaca. Cuaca yang tak menentu menyebabkan petani garam enggan berspekulasi untuk melakukan produksi. Apalagi jika resiko gagal panen.

Ketua Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Kota Pasuruan, Abdus Somad mengungkapkan, biasanya mulai bulan Juni petani garam mulai mempersiapkan lahan hingga mengatur sirkulasi air laut. Asumsinya, musim kemarau berjalan 6 bulan. "Tapi sekarang kan cuaca tidak menentu," kata Somad.

Somad menyebut, jika cuaca normal, pada bulan Juli panen garam biasanya sudah mulai stabil. Untuk lahan seluas 50X18 meter, misalnya, petani garam bisa memanen garam dengan berat total 7 sampai 8 ton.

"Kalau tahun-tahun yang dulu, bulan Juni turun, awal bulan Juli produksi garam sudah melimpah. Kalau sekarang, ya cuacanya seperti ini, akhirnya masih lesu. Tapi untungnya harga di pasaran saat ini masih lumayan," ujarnya. (pik/why)


Share to