Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2021-03-14 20:30:58

Renyah dan Beraneka Rasa, Stik Kulit Pisang Karya Mahasiswa Unuja

NEKAT: Dengan bermodal pas-pasan dan belajar melalui internet, mahasiswa dan mahasiswi Unuja mampu menciptakan stik berbahan kulit pisang.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Menjadi mahasiswa tak hanya dituntut untuk menguasai mata kuliah di kampus, agar siap terjun di tengah masyarakat saat menyandang gelar sarjana. Mahasiswa juga dituntut untuk menciptakan lapangan pekerjaan, meski berskala usaha kecil dan menengah.

Seperti yang dicontohkan oleh mahasiswa dan mahasiswi Himpunan Mahasiswa program studi Ekonomi (Himapromi), Fakultas Sosial dan Humaniora di Universitas Nurul Jadid (Unuja) Paiton, Kabupaten Probolinggo. Meski belum diwisuda, namun mahasiswa Unuja sudah menggeluti dunia usaha kecil dengan membuat stik berbahan kulit pisang. Stik dari kulit pisang memang terlihat aneh, namun mahasiswa Unuja mampu membuatnya dan rasanya tak kalah gurih dengan stik pada umumnya. 

Baca Juga : Renyah dan Beraneka Rasa, Stik Kulit Pisang Hasil Karya Mahasiswa Unuja

Pada Sabtu (13/3/2021) sore, sekira pukul 15.00 WIB, tadatodays.com berkesempatan untuk mengunjungi rumah produksi stik kulit pisang yang digagas para mahasiswa semester dua hingga semester empat ini. Kami pun dipersilahkan untuk melihat langsung bagaimana proses olahan dari produksi stik kulit pisang yang unik ini.

Baca Juga : One Day No Gadget, Mahasiswa Universitas Panca Marga Meluncurkan Pojok Dugam

Laily Eka Amalia, salah satu anggota Himapromi menerangkan cara pembuatan stik kulit pisang. Pertama, kulit pisang dicuci hingga bersih, lalu diiris menjadi potongan kecil memanjang. Kemudian irisan tersebut dicuci kembali hingga bersih, lalu direndam pada air bersih selama kurang lebih 24 jam.

Setelah itu, langsung dimasak menggunakan panci selama 15 hingga 20 menit. "Baru dicampur dengan tepung," terang mahasiswi asal Desa Sukodadi, Kecamatan Paiton ini.

Tepung yang digunakan itu juga sudah dicampuri dengan resep rahasia mereka, kemudian digoreng selama 25 hingga 30 menit.

Penggorengannya juga menggunakan teknik khusus, sehingga stik tersebut matang secara merata.

Ketika sudah matang, stik tersebut didiamkan agar minyak yang masih ada pada stik tersebut keluar dulu, lalu dipindahkan ke sebuah wadah untuk dicampur dengan empat varian rasa yang berbeda. Yaitu, rasa jagung, rasa original, rasa balado dan rasa extra pedas. "Baru akan dikemas," katanya.

Dalam setiap kemasan berisi 100 gram stik, dan dijual seharga Rp 6 ribu. Tetapi, harga itu akan berbeda kalau harus diantar ke pembelinya. Semisal, diantar ke wilayah Kraksaan, maka pembeli selain membayar harga stik 6 ribu rupiah juga harus membayar ongkos kirim sebesar seribu rupiah. Laily mengatakan, bahwa ongkos kirim itu menyesuaikan dengan jarak pembeli dengan rumah produksi.

VARIAN: Stik kulit pisang karya mahasiswa Unuja memiliki banyak varian rasa. Ada rasa original, balado dan ekstra pedas.

Membuat Stik Hanya Modal Nekat

Awal pembuatan stik ini berawal dari keinginan mahasiswa prodi Ekonomi Unuja untuk berwirausaha mandiri. Tak berselang beberapa lama, salah satu dari teman mereka melihat sebuah tumpukan sampah dari kulit pisang.

Dari situlah mereka berfikir untuk membuat olahan makanan dari kulit pisang. Berbekal pengetahuan dari google dan membaca berbagai macam artikel tentang manfaat kulit pisang, mereka pun langsung memulai untuk melakukan percobaan.

Ketua Himapromi pada Fakultas  Sosial dan Humaniora Unuja, Ahmad Syaifudin menerangkan, saat itu pihaknya masih belum mempunyai modal karena tak ada donatur dan tak ada sumbangan dana dari kampusnya. Alhasil, 12 orang dari 32 anggotanya berinisiatif untuk patungan menggunakan dana pribadi masing-masing untuk biaya mengontrak rumah sebagai rumah produksi.

Lalu, Ahmad Syaifudin dan kawan-kawan membeli bahan yang dibutuhkan, seperti tepung, rempah-rempah dan peralatan memasak. Sementara untuk kulit pisangnya, mereka bekerjasama dengan pemilik kripik pisang dengan perjanjian barter. Jadi, ketika stik mereka sudah siap saji, maka pihak pemilik kripik pisang bakal diberi stik tersebut.  "Disitulah kita terbentuk," tutur mahasiswa yang masih duduk di semester empat ini.

Hanya saja, saat beberapa kali melakukan uji coba, mereka selalu gagal. Mulai dari rasanya yang pahit, ataupun terlalu keras dan lembek.

Tak hanya kendala modal dan sering gagal, usaha yang mereka geluti sekitar satu bulan ini sebelumnya juga sering mendapat gunjingan banyak orang, termasuk dari teman mahasiswa lainnya. Mereka mengatakan, kalau kulit pisang itu cocoknya buat pakan hewan dan bukan untuk dikonsumsi manusia.

Tetapi berkat kerjasama yang baik dan keuletan dalam menciptakan produk yang luar biasa itu, akhirnya mereka berhasil menemukan perpaduan rasa yang pas. Tidak pahit dan enak dimakan.  Kini, produk mereka diminati konsumen dari berbagai daerah,  di antaranya Probolinggo, Jember, Bondowoso, Lumajang, dan Situbondo. "Sudah ke se tapal kuda," ujar pemuda yang karib disapa Aput ini. 

Dalam setiap harinya, mereka mampu memproduksi 80 hingga 100 pcs. Produk mahasiswa itu kemudian dipromosikan dengan cara penyebaran pamflet, termasuk promosi melalui media sosial whatsapp dan facebook pribadi anggota, serta di instagram Himaprodi. Setiap minggunya, mereka mampu menghasilkan omzet sekitar Rp 500 hingga Rp 600 ribu.

Meski begitu, Aput mengaku omzet tersebut belum cukup untuk mengembalikan modal awal yang dikeluarkan sebelumnya. Alhasil, ia masih belum bisa menggaji para anggota yang terlibat produksi.

Untuk itu, ia berharap kepada teman-temannya untuk tetap mengimplementasikan usaha tersebut, agar produk mereka terkenal.

Ia juga menaruh harapan kepada pihak kampus untuk dapat mendukung produksi yang dihasilkan dari gagasan dan ide para anggotanya ini. "Agar tambah maju dan banyak dikenal," katanya, menutup pembicaraan seputar produknya itu.

Setelah selesai berbincang, kami dipersilahkan untuk mencicipi stik karya anak bangsa itu. Ternyata, benar. Kulit pisang itu sudah berubah rasa, dan lidah kita hanya merasakan rasa manis dan renyah di mulut. (zr/don)