Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2022-02-24 23:16:17

Rifka, Bocah Yatim Piatu Ini Mengalami Gizi Buruk

MEMPRIHATINKAN: Rifka Dina Auliya, 7, dalam gendongan sang paman Salehuddin, 49, yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih sayang.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Rifka Dina Auliya, bocah berusia 7 tahun di Kabupaten Probolinggo ini mengalami gizi buruk sejak balita. Kehidupannya pun semakin menyedihkan, karena Rifka telah ditinggal untuk selamanya oleh kedua orangtuanya.

Sang ibu, Babur Rahma meninggal dunia pada Juli 2021. Sementara ayahnya, Nur Hasan, yang telah bercerai dengan Babur Rahmah lebih dulu meninggal sekitar 4 tahun lalu.

Baca Juga : Pemdes Sidomulyo Ajak 105 Anak Yatim-Piatu Belanja Baju Lebaran

Beruntung, sang paman, Salehuddin, 49, warga Dusun Krajan RT 10 RW 3, Desa Sindetlami, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, dengan penuh kasih sayang merawat Rifka hingga saat ini. Selain pamannya, ada pula neneknya, Sutosari, 69, yang juga turut merawat Rifka.

Baca Juga : Rifka, Bocah Gizi Buruk Akan Dibawa ke Poli Tumbuh Kembang

Pada Rabu (23/2/2022), tadatodays.com berkesempatan mengunjungi rumah Salehudin yang berdinding anyaman bambu atau gedek. Atap genteng rumahnya tidak tertutup sempurna, sehingga cahaya dari langit masih menembus rumah sangat sederhana itu.

Di rumah itu, Rifka terlihat tidak bisa duduk layaknya anak normal lainnya. Ia hanya terbaring.

Salehuddin mengatakan, Rifka sempat dirawat di rumah sakit, namun tidak sampai sembuh. Kekurangan uang perawatan jadi penyebabnya. Maklum, Salehuddin hanya bekerja sebagai tukang pijat dengan penghasilan yang tidak menentu. Terkadang mendapat Rp 20 ribu, atau Rp 30 ribu untuk sekali pijat. "Uangnya selain buat makan, juga buat beli susu," kata kakak kandung dari ibu Rifka ini.

Salehudin menuturkan, Rifka sebenarnya sudah mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Namun Salehuddin mengaku tidak menggunakan kartu tersebut saat memeriksakan kondisi Rifka, karena ribet untuk mengurus kelengkapan berkas. Apalagi, dirinya tidak memahami berkas apa saja yang dibutuhkan oleh pihak rumah sakit.

Ia juga tak memungkiri jika keponakannya itu pernah mendapatkan bantuan uang tunai dari pemerintah pada 2021. Bantuan itu cair setiap tiga bulan sekali, sebesar Rp 900 ribu. "Sekarang gak dapat bantuan apa-apa," ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Sindetlami, Jamaludin membenarkan bahwa Rifka pernah mendapat bantuan uang tunai dari pemerintah. Bantuan itu diberikan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, khusus untuk kalangan disabilitas. Penyaluran bantuan difasilitasi oleh Bank Jatim, dan didampingi TKSK Kecamatan Besuk. "Setiap bulannya Rp 300 ribu," ujarnya.

Ia menjelaskan, meski saat ini Rifka dirawat di rumahnya, namun petugas kesehatan desa sering mengontrol kondisi Rifka. Rifka juga terkadang diperiksa di Puskesmas Besuk, dengan menggunakan KIS.

Soal perawatan di rumah sakit, Jamaludin membenarkan. Hanya saja, pihak keluarga mengalami kesulitan saat menjaga. Pasalnya, keluarga yang menjaga Rifka masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. "Jadi kesulitan dalam menjaganya itu," ujarnya.

Kini, Rifka hanya bisa terbaring di rumah sederhana milik pamannya. Ia tak bisa mendapatkan gizi layak seperti anak seusianya, karena keterbatasan dana. (zr/don)