Lailiyah Rahmawati


Wartawan Tadatodays.com | 2021-01-12 16:27:08

Sang Ayah Alami Kebutaan, Balita asal Pasuruan Ini Menderita Tumor Mulut

MEMPRIHATINKAN: Ryu bocah yang menderita gangguan tumor di mulutnya saat ditemui di rumahnya.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Memiliki kesempurnaan fisik sudah menjadi keinginan setiap manusia. Tapi, yakinlah, bahwa ketidaksempurnaan kondisi badan yang dialami setiap manusia adalah rencana terbaik dari Sang Khalik.

Seperti yang dialami oleh keluarga pasangan Sofian Lutfi dan Siti Aisyah, warga Kelurahan Bugul Lor, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Pasangan suami istri (Pasutri) tersebut saat ini sedang dirundung kesedihan. Sebab, buah hatinya yakni Ryu Arga Maheswara Alfatih, menderita tumor mulut yang kian hari kian membesar.

Baca Juga : Angka Stunting di Banyuwangi Meningkat

Selama merawat Ryu, panggilan Ryu Arga Maheswara Alfatih, Sofian juga tak bisa maksimal. Pasalnya, ia sendiri mengalami kebutaan sejak sepuluh tahun silam. Beruntung, sang istri, yaitu Siti Aisyah, kondisi fisiknya masih lebih baik dari suami dan anaknya itu. Karenanya, Siti banyak berperan dalam mengawasi kondisi Ryu.

Baca Juga : Pemkot Probolinggo Pastikan Tanggung Semua Biaya Perawatan Bakri

Tadatodays.com berkesempatan mengunjungi rumah Sofian di gang 12, Jalan Cemara, Kelurahan Bugul Lor, dengan ditemani Lurah Bugul Lor, Agus Budi Darmawan. Dengan  melewati gang sempit, tadatodays.com berjalan menuju rumah dengan cat warna ungu yang baru mendapatkan bantuan renovasi dari program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Kota Pasuruan itu. Ya, itulah rumah milik Sofian, tempat Ryu dirawat saban harinya.

Suara ketukan pintu Lurah Bugul Lor Agus Budi Darmawan, mulanya tidak ada tanggapan dari sang pemilik rumah. Tapi Sekitar sepuluh menit kemudian, penghuni rumah membuka pintu ruang tamunya.

Ruang tamu rumah tersebut ukurannya sekitar 3x3 meter, dan terpasang kasur tipis. Di atas kasur itu tampak seorang anak terlelap. "Ini kakaknya Ryu," ujar Agus Budi Darmawan.

Selang beberapa saat, perempuan paruh baya yaitu Siti Aisyah, dengan ramah menemui wartawan tadatodays.com. Dalam dekapan perempuan berusia 32 tahun itu, tampak seorang anak perempuan yang mengenakan popok bayi sekali pakai. Dialah Ryu Arga Maheswara Alfatih.

Saat itulah, wartawan tadatodays.com melihat langsung kondisi mulut balita berusia 3 tahun itu. Ada benjolan yang cukup besar di mulut Ryu. Mungkin, sebesar bola bekel ukurannya. Benjolan kemerahan itu sungguh membuat Ryu kesusahan untuk berbicara, termasuk saat menyapa wartawan tadatodays.com.

"Kalau malam mau tidur, sering bilang kalau mulutnya sakit. Tapi, anaknya kuat dan ceria. Jadi, keluhannya hanya sebentar," ujar Aisyah sang ibunda.

Aisyah mengenang, saat lahir Ryu dalam kondisi normal. Kemudian muncul bintik kecil mirip tanda sakit sariawan di antara gusi dan bibir bagian atas. "Sempat dibawa ke dokter, tapi kata dokter saat itu tidak ada masalah," terangnya.

Dengan masih mendekap anak keduanya itu, Aisyah melanjutkan ceritanya. Ia mengatakan, ada sesuatu yang tidak wajar sehingga ia dan suaminya mulai curiga setelah benjolan itu semakin besar. Pasutri ini pun gelisah, dan kembali membawanya Ryu untuk berobat ke dokter.

"Hasil laboratorium, ada kelainan pembuluh darah. Saat sampel darah diambil dari mulutnya, darah keluar terus. Sehingga, kemudian penanganan diarahkan ke bedah plastik," katanya.

Kemudian, pengobatan medis dilakukan sejak tahun 2019. Dinas Kesehatan Kota Pasuruan melalui Puskesmas Kandangsapi juga memberikan perhatian kepada pengobatan Ryu. Namun, karena keterbatasan perlengkapan, maka ia dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr Syaiful Anwar (RSSA) Kota Malang.

Akan tetapi, pengobatan Ryu terpaksa berhenti di akhir 2019 lalu karena orangtuanya terkendala ongkos transportasi dan kebutuhan harian selama menunggui buah hatinya. Saat itu, biaya berobat ke RSSA Kota Malang membutuhkan sekitar Rp 150 ribu perhari.

Biaya kebutuhan di rumah sakit itu, bagi Sofian Lutfi cukup besar. Maklum, gangguan penglihatannya tak mampu mendapatkan banyak uang. Setiap harinya, Sofian bekerja mengumpulkan ponsel dan baterai ponsel rusak dengan penghasilan Rp 20 ribu sehari.

Tapi, karena ia menjadi kepala keluarga, Sofian Lutfi pun tetap berusaha keras untuk mengumpulkan uang demi biaya di rumah sakit selama pengobatan anak keduanya itu. Ia mencoba membuat telur asin sendiri lalu dijual. Namun sayang, karena mengalami gangguan penglihatan, telur bebek yang dia asinkan banyak yang pecah. "Mungkin karena penglihatan Pak Lutfi," ujar Agus, yang tetap mendampingi wartawan tadatodays.com

Dari kondisi suaminya itu, Siti Aisyah tak bisa tinggal diam. Ia mencoba peruntungan dengan membuka usaha warung kopi kecil-kecilan. Namun, sejak pandemi menyerang warung kopinya semakin sepi. Dan, kini pun tutup. Karenanya, keluarga kecil itupun hanya mengandalkan bantuan dari kerabatnya untuk kebutuhan sehari-hari.

Kini, Sofian dan Siti masih pikir-pikir untuk melanjutkan pengobatan Ryu. Memang, biaya pengobatan itu tercover BPJS kesehatan. Tapi, sekali lagi, biaya kebutuhan selama di rumah sakit itulah yang membuat pasutri tersebut tak mampu memenuhinya. Apalagi situasi pandemi seprti ini, yang mana pelayanan medis kian dibatasi ketat.

Ada hal yang lain yang juga membuat Sofian pusing. Yakni, biaya suntik kemo sebesar Rp 350 ribu untuk sekali suntik. Pasalnya, suntik kemoitu tidak tercover dalam akses BPJS kesehatan.

Hingga menjelang akhir obrolan, wartawan tadatodays.com melihat Ryu menikmati susu botol, tapi dengan bantuan sedotan. "Dia bisa makan dan minum asal tidak dibantu sendok. Jadi harus pakai jari tangan menyuapi. Makanannya harus dihaluskan dulu," ujar Siti.

Kepada tadatodays.com, Aisyah berharap ada uluran tangan lebih banyak untuk anaknya itu. (ly/don)