Sebelum Tiada, Sempat Makan Bersama Keluarga dan Halal bihalal Bersama Teman di Sekolah

Syarif Hidayatullah
Wednesday, 19 Jun 2019 11:41 WIB

SAYANG KELUARGA : Endang Sukeni (60 tahun) Guru asal Jalan Anggur, Kecamatan Wonoasih banyak meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga maupun teman-temannya di SMAN 1 Leces, Kabupaten Probolinggo. Tampak Almarhumah saat makan bersama keluarga di RM Sumber Hidup satu hari sebelum tiada.
SEHARI sebelum tiada Endang Sukeni (60 tahun) Guru asal Jalan Anggur, Kecamatan Wonoasih banyak meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga maupun teman-temannya di SMAN 1 Leces, Kabupaten Probolinggo.
Sebab, Wanita yang akan purna tugas tanggal 01 Agustus ini menyempatkan diri berkumpul dengan keluarga besarnya untuk makan bersama di RM Sumber Kota Probolinggo Minggu (016/06).
Saat itu, tidak tampak hal-hal yang aneh padanya. Bahkan dalam pertemuan itu, almarhumah seperti biasanya kumpul dengan anak dan cucu-cucunya. “Itu momen pertemuan terakhir kami dengan beliau,” ujar Hendra Agus Wardana, saat ditemui di rumah duka, Selasa (18/06).
Hendra-panggilannya tak menyangka bahwa pertemuan itu menjadi yang terakhir baginya. Dirinya tak menyangka bahwa orangtuanya harus pergi selamanya.
Sebenarnya, di hari yang sama sempat ada firasat aneh yang dirasakan Hendra. Itu terjadi saat dua cucu Endang bertingkah tak seperti biasa. Kedua anak Hendra itu tiba-tiba minta tidur dengan omanya, panggilan sayang dari cucu ke Endang Sukeni. Sementara anak dari kakaknya atau anak pertama almarhumah, Ika via Nurwadhita minta gendong terus pada omanya.
“Ya itu firasatnya, putra saya tiba-tiba malam itu minta tidur di kamar omanya. Ini tidak seperti biasanya,” cerita pria yang matanya masih terlihat sembab.
Hendra menuturkan, di mata keluarga ibunya adalah sosok wanita yang baik dan pintar memasak. "Bahkan seringkali kalau ada acara di sekolah pasti yang masak mama,” tegasnya.


Di saat sebelum meninggal pun, kenang Hendra, mamanya menyempatkan diri memasak untuk acara halal bihalal di sekolahnya. Endang bersikeras memasak karena menurutnya acara halal bi halal ini merupakan terakhir sebelum masa pengabdiannya sebagai guru di SMAN 1 Leces berakhir.
“Mama sempat bilang bahwa seminggu ini hari terakhir dirinya mengajar di sekolah. Sebab, tiga minggu ke depan sudah libur. Tanggal 01 Agustus sudah pensiun,” kenangnya.
Ketika ditanya kronologis ibunya yang meninggal tak wajar, pria yang sehari-hari menjadi guru di SMAN 1 Leces ini mengatakan, sepenuhnya menyerahkan pada polisi. Namun, ia menuturkan bahwa ibunya selama ini sehat, tidak punya penyakit seperti yang disampaikan tim dokter forensik Polda Jatim.
“Namun, ibu pernah sambat linu-linu di kakinya, memang sempat mau saya antar ke dokter untuk berobat,” tegasnya.
Ia juga sempat bingung dengan hasil forensik dari tim dokter Polda Jatim. Sebab, jika memang ibu meninggal karena sakit jantung atau penyakit dalam, lalu kemana tas dan ponsel milik ibunya. Padahal, jika mau merampok ada banyak hal yang bisa diambil dari ibunya. “HP itu Lenovo harganya tak seberapa, lebih mahal gelang yang dipakai ibu saat itu,” ucapnya.
Selain itu, mobil yang sudah siap dipakai di depan rumah juga tak diambil. “Saat itu kontak masih nempel di mobil, jika memang ada orang mau merampok mestinya diambil semua namun ini tidak,” pungkasnya. (mm/hvn)



Share to
 (lp).jpg)