Sekolah Menengah di Kraksaan Masih Berlakukan Sekolah Daring

Hilal Lahan Amrullah
Thursday, 02 Jul 2020 14:55 WIB

JARAK JAUH: SMPN 1 Kraksaan, SMAN 1 Kraksaan dan SMKN 2 Kraksaan saat ini menerapkan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi internet.
KRAKSAAN - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menetapkan tahun ajaran 2020/2021 dimulai pada 13 Juli mendatang. Namun, pelaksanaan belajar mengajar di sekolah secara tatap muka, belum diperbolehkan di semua wilayah. Artinya, hanya diizinkan untuk dilaksanakan bagi wilayah di Indonesia yang berstatus zona hijau. Sementara, untuk wilayah yang masih berstatus kuning, oranye, hingga merah belum diperkenankan untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
Menanggapi hal itu, Kepala Sekolah SMPN 1 Kraksaan, Hudawati mengatakan di tengah pandemik Covid-19, program daring sudah bukan hal baru. Pasalnya program daring tersebut sudah sering dilaksanakan. “Ujian atau ulangan harian online, itu sudah biasa. Terutama yang program SKS, tapi yang reguler pun sering kita melakukan seperti itu. Terutama anak-anak unggulan, reguler, dan lain sebagainya,” terang Kepala Sekolah SMPN 1 Kraksaan, Hudawati.
Menurutnya sebelum new normal, program daring sudah berjalan. Bahkan program daring tersebut rutin dilaporkan kepada pengawas wilayah Kraksaan. “Tentunya yang mengawasi SMPN 1 Kraksaan, kemudian itu rutin, baik gurunya, tata usaha (TU)-nya, juga kepala sekolahnya melaporkan kegiatan-kegiatan selama Covid-19 itu. Mulai daring, kemudian mulai transisi, mulai setelah transisi yaitu new normal ini. Kita sedang PPDB, kita laporan,” jelasnya.
Kepala sekolah asal Kraksaan ini mengaku penilaian atau assesment-nya pun juga dilaksanakan secara online. Bahkan ketika penerimaan raport juga sesuai protokol Covid-19. “Kita datangkan 10 orang, tandatangan 10 orang, selanjutnya kita datangkan lagi. Semuanya kita selalu komit kepada protokol Covid-19,” jelasnya.
Adapun dalam mengumumkan kelulusan siswa, SMPN 1 Kraksaan menggunakan aplikasi sosial media Whatsapp (WA) otomatis. Ketika siswa membuka WA, lalu menuliskan nomor induknya. maka nama siswa tersebut akan muncul. Termasuk juga kenaikan kelas, tetap dengan E-raport. Penilaian-penilaiannya pun juga teman-teman sampaikan melalui online. "Tidak usah datang berkerumun, tidak usah, nilainya dikirim melalui aplikasi,” katanya dengan penuh optimis.
Sementara program sekolah daring di SMKN 2 Kraksaan berjalan sama dengan sekolah lain, yaitu melalui aplikasi google classroom saja. Sedangkan partisipasi siswa yang mengikuti program daring tersebut dinilai tinggi. Walaupun masih ada beberapa siswa di daerah terpencil agak susah mengikutinya. “Ya kita fasilitasi,” terang Kepala Sekolah SMKN 2 Kraksaan, Saeri.
SMKN 2 Kraksaan di tengah pandemi Covid-19 seperti ini tidak terlalu menekan siswa mengikuti program daring tersebut. Pasalnya, yang terpenting materi tersampaikan kepada para siswa. “Ada interaksilah, istilahnya itu,” jelasnya.

Sementara pembelajaran dalam menghadapi new normal, pihak sekolah setempat masih menunggu perintah dari provinsi dan cabang dinas setempat. “Jadi kita harus ikuti aturannya itu saja, belum ada petunjuk,” jelasnya
Menurutnya program pembelajaran daring di SMKN 2 Kraksaan sudah terbiasa dilakukan. Bahkan dulupun saat anak-anak SMKN 2 Kraksaan praktek kerja industri (prakerin), juga menggunakan program daring. “Mulai dulu, jadi pembelajarannya, anak-anak yang prakerin dulu pakai daring. Jadi anak-anak insya Allah sudah terbiasa untuk itu,” jelasnya.
Di sisi lain, SMAN 1 Kraksaan menggunakan berbagai macam pola aplikasi. “Sepertinya semua hampir sama, ya mengupload, terus google classromm, google form. Kemudian memakai media-media aplikasi pembelajaran dari Mendikbud, dari ruang guru, termasuk dari quickper juga, aplikasi untuk siswa juga untuk guru,” terang Kepala Sekolah SMAN 1 Kraksaan, Bambang Sudiarto.
Menurutnya secara umum program daring di SMAN 1 Kraksaan tidak ada masalah. Tetapi tentunya tidak semua siswa merespons dengan bagus. Pasalnya hal tersebut berhubungan dengan dana. “Dana itu berhubungan dengan membeli paket data dan sebagainya, jelas bermasalah juga, itu ada. Secara umum mau tidak mau anak-anak harus mengikuti. Mankanya kendalanya bagi yang tahun-tahun kemarin, itu seperti itu,” jelasnya.
Pihaknya menambahkan bahwa sebagian siswa telah difasilitasi dengan pembelian pulsanya. Karena memang siswa tersebut betul-betul tidak mampu, maka difasilitasi oleh sekolah setempat. “Per kelas jumlahnya paling sekitar ada yang berjumlah 10 siswa, kita kan ada 30 an kelas, karena memang itu diperlukan untuk anak-anak, dan memang kenyataannya tidak mampu, kita fasilitasi,” ungkapnya.
Pembelajaran pada era new normal nanti, pihak sekolah masih menunggu petunjuk dari satgas Covi-19 Kabupaten Probolinggo. “Kan jadwalnya juga masih belum, kita nunggu zonanya, kita zona apa, apa kuning, hijau, orange, atau merah. Yang jelas kita harus antisipasi dari semuanya itu. Kalau hijau berarti bisa hadir, cuman dengan protokoler kesehatan, ya izin dari satgas covid, izin dari pemda, izin orang tua juga. Kalau masih kuning, orange, merah, tidak boleh, ya harus pakai daring itu dah,” jelasnya. (hla/hvn)
.jpg)


Share to
 (lp).jpg)