Usman Afandi


Wartawan Tadatodays.com | 2021-02-25 22:13:11

Sempat Tak Produksi 6 Bulan, Kerajinan Jam Kayu Mulai Bergeliat

KARYA: Akbar Andi saat mengerjakan pembuatan jam tangan kayu (foto kiri), dan menunjukkan karyanya yang mampu menembus pasar luar pulau.

BANYUWANGI, TADATODAYS.COM -  Aktivitas Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Banyuwangi, kini mulai bergeliat kembali setelah sebelumnya mengalami kelesuan akibat terdampak pandemi Covid-19.

Seperti, usaha kerajinan jam kayu yang digeluti Akbar Andi, warga Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.

Baca Juga : Sambut Ramadan, Pemkab Banyuwangi akan Menggelar Pasar Takjil untuk Pemulihan Ekonomi

Akbar Andi mengatakan, pandemi membuat semua usaha kerajinan lumpuh. "Ini baru saja mulai produksi kembali," kata Akbar saat ditemui tadatodays.com, Kamis, (25/2/2021) di kediamannya.

Baca Juga : Sambut Ramadan, Pemkab Banyuwangi akan Gelar Pasar Takjil untuk Pemulihan Ekonomi

Akbar mengungkapkan, saat ini dirinya baru saja mengawali produksi, mengingat selama 6 bulan terakhir tidak produksi sama sekali karena pesanan jam kayu di tempatnya tidak ada.

Sebelumnya, usaha yang ia dirikan sejak tahun 2017 lalu itu tumbuh pesat. Banyak pesanan dari sejumlah daerah, seperti Semarang, Jakarta, Bandung dan luar Jawa. "Sulawesi dan Kalimantan juga pernah memesan di sini, " katanya.

Diceritakannya, awal mula dirinya membuat usaha jam kayu, karena banyaknya limbah dari kerajinan rumahan yang terbuat dari kayu, seperti  sendok dan piring Sehingga, limbah kayu   yang dihasilkan dibuang secara sia-sia.

Melihat hal itu, dirinya pun berinisiatif membuat kerajinan jam kayu. Namun karena pandemi Covid-19, usaha yang ia geluti itu gulung tikar karena tidak ada pesanan sama sekali. "Ide pertama itu inisiatif saya sendiri dan lihat di internet," katanya.

Terkait dengan proses pembuatan jam tangan kayu itu, Akbar menyampaikan bahwa pembuatannya tidak begitu sulit dan hanya butuh ketelatenan dan kesabaran. Untuk pembuatan satu jam tangan saja, bisa ia kerjakan selama 4 hari.

Untuk harga jam kayu ia patok Rp 350 ribu hingga Rp 450 ribu. Menurutnya, harga tersebut tergantung dari tingkat kesulitan dalam membuatnya. "Pembuatannya hanya butuh ketelatenan saja," ujarnya.

Untuk pemasaran, Akbar memaksimalkan media sosial sepertu facebook, instagram, serta beberapa marketplace pendukung lainnya.

Sebelum pandemi, dalam satu bulannya ia mampu memproduksi 15 sampai 20 jam tangan kayu. Namun, pandemi telah menghentikan semuanya.

Ia pun berharap agar usahanya dapat bertahan meskipun di tengah pandemi. "Hampir setengah tahun lebih saya nganggur tidak produksi sejak awal pandemi, dan sekarang mulai produksi kembali," katanya. (usm/don)