Muhammad Syaihul Mizan


Wartawan Tadatodays.com | 2021-01-17 16:34:30

Seorang Penyelam Pencarian Sriwijaya SJ 182 Asal Lumajang

MEMBANGGAKAN: Rohandi Yusuf, dalam foto bersama keluarganya yang terpasang di rumah orangtuanya, di Desa/Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

LUMAJANG, TADATODAYS.COM - Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang hilang kontak dan jatuh di Perairan Kepulauan Seribu, menjadi tragedi di awal tahun 2021. Dari peristiwa itu, aparat gabungan langsung melakukan pencarian dengan mengerahkan banyak penyelam. Salah satu penyelam itu berasal dari Desa/Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Ya, penyelam asal Desa Senduro itu bernama Rohandi Yusuf, 28. Ia menjadi buah bibir masyarakat Lumajang, setelah foto-fotonya saat berada di perairan Kepulauan Seribu bersama penyelam lainnya beredar di media sosial facebook. Ada yang berpose saat di perahu karet, dan sebagian lagi di kapal milik TNI AL, yang sedang melakukan pencarian korban Sriwijaya Air SJ 182.

Tadatodays.com berkesempatan langsung mengunjungi rumah orangtua Rohandi Yusuf, yang karib disapa Andi itu, Jumat(15/1/2021). Tadatodays.com ditemui oleh ayah dan ibu Rohandi Yusuf, yaitu Hamim dan Dewi Wardah.

Dewi Wardah, ibu dari Rohandi Yusuf mengatakan, ketika pesawat Sriwijaya Air SJ182 dikabarkan hilang kontak, anaknya sudah mengabarkan bahwa ia akan ikut serta dalam pencarian pesawat jatuh di sekitar Kepulauan Seribu sebagai penyelam.

Kepada tadatodays.com, Dewi pun mengaku terharu sekaligus bahagia karena putranya juga ikut serta dalam pencarian jatuhnya pesawat Sriwijaya Air Sj182. “Memang sudah kewajibannya sebagai TNI AL, kalau ada panggilan kemanusiaan secara mendadak harus berangkat," ungkapnya.

Dia juga menambahkan, Andi bergabung dalam kesatuan TNI AL pada tahun 2012 di Kota Malang. Awal mula, Andi dulu pernah daftar sekolah pelayaran di Semarang. Akan tetapi, waktu itu ada sedikit persoalan sehingga pria kelahiran Lumajang, 27 Maret 1993 itu tidak bisa bergabung di sekolah tersebut.

Selang beberapa bulan kemudian, ada informasi tentang pendaftaran TNI AL di Kota Malang. “Atas dorongan saya,  Andi berangkat ke Malang dan diterima menjadi anggota kesatuan TNI AL,” kenangnya.

Kini, Andi yang mengenyam pendidikan di SD, SMP dan SMK di Senduro itu masih bersama penyelam lain dalam proses evakuasi korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Istri dan seorang anaknya tentu bangga melihat apa yang telah dilakukan oleh Andi, dan tentu menjadi kebanggaan masyarakt Lumajang. (mz/don)