Setahun Bencana Tanah Bergerak di Purwodadi Pasuruan, Ribuan Pohon Ditanam untuk Mitigasi

Amal Taufik
Amal Taufik

Wednesday, 11 Feb 2026 13:09 WIB

Setahun Bencana Tanah Bergerak di Purwodadi Pasuruan, Ribuan Pohon Ditanam untuk Mitigasi

MENANAM: Tanam pohon di wilayah sekitar bencana tanah bergerak, Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Setahun setelah bencana tanah gerak melanda Dusun Sempu, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, ribuan bibit pohon ditanam di kawasan tersebut, Rabu (11/02/2026). Penanaman pohon ini disebut sebagai langkah mitigasi untuk menekan resiko bencana.

Sebanyak 4.000 bibit pohon ditanam di area seluas 26 hektare yang masuk kategori zona rawan dan lahan kritis. Aksi ini melibatkan banyak pihak, mulai dari unsur warga, Pemkab Pasuruan, TNI-Polri, Perhutani, komunitas lingkungan, hingga sektor swasta.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Pasuruan, Syaifudin Ahmad, mengatakan langkah penghijauan tersebut merupakan tindak lanjut rekomendasi hasil kajian BPBD Jawa Timur pascabencana tanah gerak Januari 2025 lalu. Salah satu mitigasi utama yang disarankan adalah memperkuat struktur tanah melalui penanaman vegetasi berakar kuat.

“Tanah di kawasan ini bergerak karena kondisi lereng dan struktur tanahnya lemah. Penanaman pohon di lahan kritis menjadi langkah penting untuk mengurangi potensi longsor di masa mendatang,” ujarnya.

Berbeda dengan program penghijauan biasa, jenis tanaman yang dipilih didominasi pohon produktif seperti nangka dan alpukat. Selain berfungsi mengikat tanah, tanaman tersebut diharapkan memberi manfaat ekonomi bagi warga dalam jangka panjang.

Menurut Syaifudin, pemulihan lahan kritis tidak bisa berhenti pada kegiatan tanam semata. Perawatan dan pemeliharaan berkelanjutan menjadi kunci agar vegetasi benar-benar mampu memperkuat kontur tanah.

Administratur Perhutani KPH Pasuruan, Ivan Cahyo Susanto, menegaskan bahwa keterlibatan lintas sektor menjadi keharusan mengingat kawasan tersebut termasuk area perlindungan. Gotong royong dinilai sebagai pendekatan paling realistis untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

“Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga keselamatan warga. Kolaborasi ini bagian dari tanggung jawab bersama, termasuk peran CSR pihak swasta,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Cowek, Sofi’i, mengaku kondisi wilayahnya relatif lebih aman pada musim hujan tahun ini. Ia bersyukur tidak ada pergerakan tanah seperti yang terjadi setahun lalu, meskipun upaya pemulihan masih terus berjalan.

“Manfaatnya memang belum bisa dirasakan sekarang. Tapi kami optimistis lima tahun ke depan kawasan ini jauh lebih aman,” ungkapnya.

Untuk diketahui, bencana tanah gerak yang terjadi pada 28 Januari 2025 sempat memaksa sebagian warga Dusun Sempu mengungsi ke SD Negeri 2 Cowek. Meski sempat muncul wacana relokasi hasil koordinasi Pemprov Jawa Timur dan Pemkab Pasuruan, hingga kini opsi tersebut belum pernah terealisasi. (pik/why)


Share to