Siami, Perempuan 74 Tahun, Penjaga Eksistensi Tenun Tradisional Banyuwangi

Mohamad Abdul Aziz
Mohamad Abdul Aziz

Tuesday, 10 Sep 2024 14:54 WIB

Siami, Perempuan 74 Tahun, Penjaga Eksistensi Tenun Tradisional Banyuwangi

TENUN: Siami, Perempuan 74 tahun, satu-satunya perajin tenun tradisional di Banyuwangi.

BANYUWANGI, TADATODAYS.COM - Banyuwangi memiliki beragam warisan budaya. Tidak hanya batik khas Gajah Oleng. Banyuwangi juga memiliki kerajinan tenun khas suku Osing. Ada Siami, perempuan 74 tahun asal Desa Jambesari, Kecamatan Giri, yang bertahan menjaga eksistensi kerajinan tenun tradisional Banyuwangi sampai saat ini. 

Ya, Siami adalah satu-satunya perajin tenun suku Osing yang masih eksis sampai saat ini. Perempuan baya tersebut membuat kain tenun secara turun temurun.

"Saya belajar menenun dari ibu dan melanjutkan sampai saat ini," tutur Siami saat dikunjungi Bupati Ipuk Fiestiandani, Selasa (10/9/2024). "Cuma saya sendiri yang (meneruskan, red) menenun.  Keluarga lainya tidak ada," tambah Siami. 

Siami mulai menenun sekitar tahun 1960-an, saat ia masih remaja. "Sekarang tidak ada yang melanjutkan, bahannya sulit dicari," jelas Siami.

Kain yang dibuat Siami merupakan kain gendongan atau kain untuk seserahan dalam acara pernikahan adat suku Osing. Adapun motifnya yakni Keluwung, Solok, Boto, Lumut, dan Gedokan. Harga tiap lembar kain tenun buatan Siami dibanderol Rp 1,5 juta hingga Rp 4 juta.

"Bisa juga kalau mau bawa benang sendiri. Kalau benangnya dari pemesan, harganya Rp 2 juta. Yang lama dari membuat kain tenun itu menata tiap benang di alat tenun ini. Butuh beberapa hari. Memang harus telaten," ucapnya.

Siami menceritakan, bahwa ia menenun dengan alat serta cara tradisional dan sederhana dengan memakai alat penenun pangku yang terbuat dari kayu. "Semua alat yang saya pakai ini adalah peninggalan ibu saya dulu. Masih saya rawat sampai saat ini," lanjutnya.

Kain tenun yang dibuat Siami berukuran 300 cm x 60 cm. Kain tersebut terbuat sepenuhnya dari benang sutera. Karena proses pengerjaannya sepenuhnya manual, butuh waktu sekitar sebulan untuk membuat satu lembar kain tenun. "Mulai menenun sekitar pukul 08.00 WIB," katanya.

"Biasanya istirahat saat dhuhur. Lalu lanjut lagi sampai sore. Malamnya memintal benang sampai larut," kata Siami menjelaskan kesehariannya.

Bupati Ipuk mengapresiasi apa yang telah dilakukan Siami untuk melestarikan kain tenun buatan Banyuwangi.  "Beliau ini luar biasa. Seorang pelestari tenun yang tetap konsisten hingga saat ini," kata Ipuk.

Agar kerajinan tenun tak hilang, Ipuk berencana untuk memunculkan penenun-penenun baru yang bisa belajar pada Siami, agar ada regenerasi penenun di Banyuwangi. "Alhamdulillah, putri Mbah Siami juga mulai rajin menekuni menenun. Ini menggembirakan. Semoga ada kerabat lain mengikuti," kata Ipuk. (azi/why)


Share to