Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2022-09-10 17:06:20

Siswa SMPN 1 Pajarakan Doakan Kesembuhan Korban Jembatan Ambruk

DOAKAN TEMAN: Para siswa bersama guru SMPN 1 Pajarakan melakukan doa bersama untuk kesembuhan teman-temannya yang jadi korban jembatan ambruk.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Para siswa dan guru SMP Negeri 1 Pajarakan, Sabtu (10/9/2022) pagi melakukan doa dan zikir bersama. Mereka mendoakan teman-temannya yang menjadi korban ambruknya jembatan gantung Kregenan, agar lekas sehat kembali.

Doa dan zikir bersama dilakukan oleh ratusan siswa dan puluhan guru di halaman SMPN 1 Pajarakan, sekitar pukul 07.00 hingga pukul 08.30 WIB.

Baca Juga : Nyala Lilin dan Doa dari Pasuruan untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Kepala SMPN 1 Pajarakan Arif Syamsul Hadi mengatakan, doa juga dipanjatkan agar musibah yang menimpa SMPN 1 Pajarakan, tidak terulang kembali. "Semoga ada hikmah di balik peristiwa ini," ujarnya pada tadatodays.com

Baca Juga : Seribu Lilin dan Doa Aremania Probolinggo untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Arif menceritakan, semula pihaknya memang berencana untuk masuk sekolah seperti biasa. Namun lambat laun, timbul fikiran agar bisa membantu para siswa yang menjadi korban bisa segera sembuh melalui doa.

Diketahui, pada Jumat (9/9/2022) lalu SMPN 1 Pajarakan melakukan jalan sehat memeringati Hari Olahraga Nasional. Jalan sehat itu diikuti ratusan siswa bersama guru pendamping. Rutenya termasuk melalui jembatan gantung Kregenan.

Sekitar pukul 07.30, saat rombongan jalan sehat melintas, jembatan gantung Kregenan ambruk. Puluhan pelajar dan guru terjatuh ke sungai di bawah jembatan. Belasan orang sempat dilarikan ke RSUD Waluyo Jati, Kraksaan, karena mengalami luka serius.

Menurut Arif, sejatinya pihak sekolah sudah melakukan briefing kepada seluruh siswa sebelum berangkat jalan sehat itu. Pengecekan jalur di jembatan gantung tersebut juga sudah dilakukan. Bahkan sesampai di jembatan pihaknya juga sudah mengatur siswa agar bergantian saat menyeberang.

Hanya, kondisi saat itu siswa tetap menerobos. Apalagi guru yang jumlahnya lebih sedikit tidak mampu menahan sejumlah siswa. Alhasil siswa secara bergerombolan menyebrang di jembatan tersebut. "Bahkan guru yang mengatur sampai habis suaranya karena berteriak suruh siswa bergantian," katanya.  (zr/why)