Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2020-12-05 14:55:08

Siti Nur Seha, Perempuan Muda Probolinggo Sukses Usaha Kolagen dari Sisik Ikan

PENGUSAHA KOLAGEN: Siti Nur Seha, perempuan muda asal Kabupaten Probolinggo yang semula digunjung, kini sukses dalam usaha kolagen berbahan dasar sisik ikan.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Gunjingan tetangga berakhir jadi juara lomba. Ya, hal itulah yang dirasakan oleh Siti Nur Seha, asal Desa Bimo, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo. Pasalnya, wanita muda Kelahiran Probolinggo, 10 Juli 1996 itu mendapat predikat juara satu, lomba Wirausaha Muda Mandiri 2020 tingkat Nasional, dalam kategori Businees Plan Bidang Usaha Boga.

Lomba itu ia menangkan dengan perjuangan cukup lama dan godaan yang tak mudah, ditambah adanya gunjingan dari tetangganya kala melakukan riset untuk pembuatan kolagen dari sisik ikan yang saat ini menjadi fokus usahanya.

Bertemu di rumahnya, tadatodays.com disambut dengan hangat, disuguhkan minuman teh manis hangat, dengan camilan pisang goreng serta tape pisang. Menu itulah yang menjadi teman obrolan saat cuaca di luar rumah tengah mendung.

Namun sebelum memulai obrolan, tadatodays.com dipersilahkan untuk mengisi buku tamu dulu, sebagai penerapan administrasi meski rumah Siti berada di tengah lingkungan pedesaan.

Saat ditanya mengenai riwayat pendidikannya, anak kedua dari Suman dan Khofifah ini menjawab dengan lengkap. Siti menjelaskan, bahwasanya ia mulai mengenyam pendidikan di MI Syafi'iyah Desa Bucor, Kecamatan setempat pada 2002 hingga 2008. Setelah lulus ia langsung melanjutkan ke SMPN 1 Pakuniran hingga tahun 2011.

Kemudian ia melanjutkan ke SMA Zainul Hasan Genggong dengan memilih jurusan IPA, dan lulus pada tahun 2014. Dengan modal ilmu yang ia pelajari semasa SMA, perempuan berkerudung inipun langsung mendaftarkan diri di Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya melalui beasiswa jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Dengan seleksi ketat ia lulus dan langsung kuliah di Fakultas Saint dengan Jurusan Fisika, sesuai dengan jurusan yang diambil semasa SMA. Semasa kuliah, ia mulai melakukan beberapa kali riset untuk membuat sebuah produk yang dapat membantu kesehatan masyarakat. Tepat pada tahun 2017, ia memfokuskan risetnya dengan membuat minuman kolagen yang berbahan dari sisik ikan. Percobaan itu terus dilakukan hingga tahun 2020 ini, dan langsung meluncurkan produk kolagen bermerk Shaany.

"Motivasi saya karena di Indonesia produk kolagen masih import. Saya menggunakan bahan dasar segala macam sisik ikan, tapi untuk pengadaan sisik ikannya masih beli," sampainya pada tadatodays.com.

Dari produk yang dihasilkannya itu, ia mulai mengikuti lomba Wirausaha Muda Mandiri Tingkat Nasional 2020. Selain ingin memperkenalkan hasil penelitiannya, ia juga menyukai tantangan dalam segi apapun.

Dalam lomba itu, pada tanggal 26 September 2020 Siti mendaftar dengan menyerahkan segala persyaratan administrasinya dan dinyatakan lolos. Tak disangka, perempuan asal Desa Bimo itu dapat memenangkan lomba yang sudah terselenggara selama 13 tahun itu. Ia mampu menyingkirkan sebanyak 11026 kompetitor dari seluruh Indonesia. Prestasi yang luar biasa untuk anak muda seusianya.

Tentunya, perjalan Siti untuk mendapatkan predikat juara itu tidaklah mudah. Banyak tantangan yang ia hadapi, termasuk gunjingan dan ejekan dari para tetangga di rumahnya kala ia melakukan riset di rumah dengan menjemur sisik ikan untuk bahan dasar kolagen. Bahkan ia dianggap sebagai lulusan kampus yang akhirnya menjadi pengangguran. Padahal, saat itu Siti sudah menjadi marketing sebuah perusahaan asal Gresik yang bergerak di bidang pangan. Hanya saja, pekerjaannya sebagai marketing itu ia lakukan dari rumahnya.

Apakah gunjingan dan ocehan tetangganya itu membuatnya tak bersemangat?. Ternyata, tidak. Ia justru terpacu untuk melanjutkan riset yang sudah ia lakukan sejak di bangku kuliah.

Bahkan, di awal Oktober 2020 ia mulai meluncurkan produk yang sudah diakui kualitasnya oleh konsumennya. Yang pasti, Siti berhasil meraih penghargaan yang dapat mengharumkan nama Kabupaten Probolinggo.

"Gunjingan, ocehan tetangga itu banyak mas. Banyak yang bilang lulus kuliah bukannya mau bekerja di perusahaan, kok malah bikin sesuatu yang tidak jelas. Begitu katanya mas karena jemur sisik ikan," curhat wanita yang bercita-cita menjadi seorang ilmuan ini.

Bahkan setelah lulus dari kampusnya, wanita yang mempunyai hobi membaca jurnal dan melakukan riset ini, mengaku sudah diberi golden tiket oleh perusahaan asal Jakarta untuk menjadi tim riset pada perusahaannya. Tanggung-tanggung, perusahaan tersebut memberinya tawaran gaji Rp. 12 juta.

Namun, ia menolak gaji belasan juta rupiah itu karena sudah berkomitmen untuk bekerja secara mandiri, dan tidak bekerja pada orang lain. Bahkan ia juga ingin memperkerjakan orang di sekitar rumahnya yang masih menganggur, serta memperkenalkan desanya dengan sebuah produk yang dibuatnya.

"Alhamdulilah, sekarang saya mampu memperkerjakan 5 orang karyawan, mas. Rata-rata dari tetangga sini semua. Kalau sekarang gunjingan itu sudah tidak ada lagi. Alhamdulillah," syukurnya.

Menjual Motor Orangtua Untuk Modal

Ada cerita unik saat ia memulai usaha ini. Diketahui, modal untuk membeli alat yang digunakan untuk penelitian didapat dari uang hasil menjual motor orangtuanya. Yang pasti, menjual motor itu sudah disetujui oleh kedua orangtuanya. Selain uang hasil jual motor, pembelian peralatan penelitian itu juga dari uang tabungan pribadi Siti.

Peralatan yang masih sederhana itu ia tempatkan di dapur rumahnya, namun disulap menjadi tempat produksi. Nah, karena peralatannya masih sederhana, Siti pun kewalahan karena banyaknya order. Pasalnya, alat yang ia miliki hanya mampu memproduksi 800 pack, sementara jumlah pesanan sudah mencapai 2000 pack. “Karena alat kami kurang dan sering padam juga di sini, makanya kami kewalahan dengan banyaknya pesanan," ceritanya, sambil tersenyum.

Lalu, bagaimana dengan ketersediaan sisik ikan sebagai bahan dasar kolagen buatan Siti?. Siti menyebut, bukan hal mudah untuk mendapatkan sisik ikan. Ia sudah mencari sisik ikan ke pedagang di tempat pelelangan ikan, namun tak kunjung mendapatkannya. "Sering ditolak (membeli sisik ikan, red). Saya harus bolak balik cari sisik ikan dengan menyewa ojek motor, sebab saya tidak bisa mengendarai motor," kenangnya.

Tapi, kini ia sudah mendapat supliyer yang sedia mengirim sisik ikan padanya.

Dalam satu kilo gram sisik ikan, itu ia dapat menghasilkan 80 gram bubuk kolagen. Sedangkan untuk harga dari kolagen buatannya terbilang cukup terjangkau, yakni Rp 50 ribu untuk satu bungkusnya isi 10 sachet dengan campuran varian rasa. Sedangkan yang murni tanpa rasa itu seharga Rp 75 ribu setiap bungkusnya isi 10 sachet. Dalam satu sashet dapat diseduh dengan 100 ml air.

"Semoga usaha saya ini dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar. Untuk para pemuda pesan saya, harus berani berkarya. Kalau sudah kuliah di kota itu jangan lupa kembali ke desa" tutupnya. (zr/don)