Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2022-04-17 21:38:34

Songkok Bordir Khas Dubai

KHAS: Songkok Dubai memiliki ciri khas bordir yang ada di bagian depan. Bordir tersebut disesuaikan dengan keinginan pemesan, dan lebih banyak menampilkan logo organisasi atau instansi.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Songkok atau kopiah merupakan alat penutup kepala yang sudah tidak asing bagi umat Islam. Terutama di Indonesia. Songkok sudah dipakai oleh Muslim Indonesia, baik oleh rakyat kecil ataupun para pejabat negara. Baik digunakan saat salat, atau dipakai dalam keseharian.

Nah, di Kabupaten Probolinggo ada produksi songkok yang memiliki ciri khas yang jarang dimiliki oleh produsen lain. Yakni songkok dengan motif bordir sesuai pesanan. Bisa dibordir dengan memunculkan logo organisasi, atau dengan nama dari pemilik songkok tersebut. Songkok tersebut bermerek "Dubai", yang dibuat oleh sepasang suami istri Abdullah Ubaid dan Durrotun Nashihah. Nama Dubai sendiri merupakan perpaduan dari nama pasutri tersebut.

Baca Juga : Songkok Bordir Khas "Dubai"

Kali ini tadatodays.com berkesempatan melihat langsung proses pembuatan songkok yang terletak di Dusun Krajan Rt 1 Rw 1, Desa Rangkang, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

Baca Juga : Jalan Raya Kraksaan Dijadikan “Sirkuit” Balap Liar

Bersama pemilik, Abdullah Ubaid, tadatodays.com melihat langsung proses pembuatan songkok Dubai. Di ruang produksi berukuran sekitar 4x6 meter itu, terdapat 6 karyawan perempuan yang masing-masing mempunyai tugas yang berbeda. Mulai dari pemotong kain yang menjadi bahan dasar songkok, hingga petugas finishing atau pengemasan.

Pria yang karib disapa Ubaid ini menceritakan, produksi songkok Dubai mulai dirintis sejak 2020. Atau, sejak ia menyetop produksi konveksi miliknya karena pandemi Covid-19. Sebelumnya, ia sudah bekerja sama dengan salah satu  perusahaan garmen di Kota Probolinggo. Karena pandemi itulah, perusahaan tersebut sudah tidak lagi memesan konveksi buayan Ubaid. "Saat itu saya mikir mau usaha apa," kata pria kelahiran Lamongan, 7 Februari 1986 itu.

Pada saat berfikir itu, suami dari Durrotun Nashihah, salah satu sohibul bait Pondok Pesantren Tahfidhil Qur'an Riyadlus Sholihin, Desa Rangkang, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo itu menemukan inspirasi. Ia ingin membuat sesuatu yang bisa dipakai para santri. Kebetulan juga, dirinya teringat tanah kelahirannya, Lamongan, yang dikenal dengan produksi songkok.

Alhasil, Ubaid bertekad untuk memproduksi songkok, namun songkok yang sedikit berbeda. Salah satunya menambah bordir pada songkok tersebu sesuatu pesanant. Ia mulai memanggil beberapa karyawannya untuk diajarkan cara menjahit songkok. Karena ilmu menjahit konveksi yang sebelumnya dimiliki oleh karyawannya, tidak sama dengan cara menjahit songkok. "Saya sewa pengajarnya untuk memberikan pelatihan," tuturnya.

Setelah menggelar pelatihan selama 7 hari, barulah para karyawan mulai memahami cara membuat songkok. Tepat pada tanggal 19 Juni 2020, ia mulai memproduksi songkok untuk pertama kali.

Pada awal produksi, masih ada beberapa songkok yang tidak sempurna.  Mulai dari salah pemotongan atau penjahitan. Tetapi menurutnya, hal itu dianggap sebuah kesalahan yang lumrah dalam sebuah  produksi. Hingga akhirnya produksi songkok Dubai mencapai jumlah banyak.

Pemasaran songkok Dubai pun dimulai dari lingkungan pesantren sekitar, lalu merangsek ke pesantren  dari luar desa, sampai ke pesantren yang ada di luar kota. Kemudian dipasarkan secarai online melalui shopee, lazada dan penjualan online shoop  lainnya. Hingga saat ini mampu menjual 20-60 pcs per harinya. "Kalau produksinya mampu 100 pcs setiap hari," jelas ayah 3 anak ini.

Penjualan melalui online ini cukup berhasil hingga mampu menjual  ke daerah luar Jawa, seperti Sumatera, Pekanbaru dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Semua pelanggan yang membeli songkok Dubai mayoritas dari kelompok atau instansi. Dengan harga jua Rpl 20 sampai 50 ribu, tergantung tingkat kerumitan bordir  dan kualitas kain.

Saat ditanya mengenai omset, Ubaid enggan untuk menerangkan secara detail, karena saat ini omset yang ia dapat masih tergolong minim. Yang pasti, omset itu  cukup untuk membayar 6 karyawannya. Dan juga dapat memberikan bantuan kepada pesantren milik mertuanya itu. "Kita sudah ada rumus berapa persen bantuan  ke pesantren," ucapnya.

SDM: Songkok Dubai tidak hanya diproduksi menggunakan mesin, tapi juga dengan tangan-tangan terampil karyawan. Hal itu untuk menjamin kesempurnaan setiap songkok karya Abdullah Ubaid.

Pandemi, Banyak Mesin Terbengkalai

PANDEMI covid-19 membuat banyak usaha merosot, tidak terkecuali usaha songkok  milik Ubaid. Bahkan, lebih dari 10 mesin jahit yang digunakan sejak menjalani usaha konveksi berbagai jenis miliknya terbengkalai. Termasuk mengurangi jumlah karyawan yang semula 26 orang. "Untuk karyawan songkok ini yang tersisa 6 orang," tuturnya.

Dengan itu, ia berharap pandemi ini segera usai agar produksi songkok bisa terus berkembang. Ia juga berharap agar usaha konveksi yang dulu ia geluti bisa kembali produksi.

Ketika berkembang itulah omset juga turut naik. Alhasil, dirinya dapat memberikan kontribusi kepada pesantren yang lebih banyak lagi dan hasilnya juga dapat dinikmati para santri di pesantren. "Tujuannya memberikan sumbangsih pada pesantren," ujarnya menutup wawancara. (zr/don)