Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2020-08-10 16:07:23

Subsidi Pupuk Dikurangi, Petani Tembakau di Probolinggo Menjerit

PEMUPUKAN: Muksin menyiramkan air pada tanaman tembakau miliknya setelah diberi pupuk sebelumnya. Muksi adalah satu di antara banyak petani yang mengeluhkan mahalnya pupuk bersubsidi kini.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Pengurangan subsidi pupuk oleh pemerintah pusat mulai dikeluhkan perani. Di mana sebelumnya subsidi pupuk mencapai 60 persen, namun saat ini dikurangi hingga menjadi 40 persen.

Muksin, 55, petani tembakau asal Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton mengaku pengurangan subsidi pada pupuk memukul petani seperti dirinya. Keuangannya sudah menipis akibat pandemi covid-19. Kini ditambah pengurangan subsidi pupuk. Padahal tembakaunya setiap tahun selalu mengandalkan pupuk subsidi.

Baca Juga : Hujan, Petani Tembakau di Probolinggo Resah

"Saya mampunya beli yang subsidi mas, kalau mahal terus bagaimana nanti. Waktu murah saja kadang bingung mas, apalagi mahal gini," keluhnya, saat ditemui di sawah miliknya.

Baca Juga : Pupuk Langka, Gapero Sarankan Tanam Tembakau Tanpa Pupuk

Ia mengaku kehidupannya semakin berat lantaran sawah yang kini dikerjakannya bukanlah sawahnya. Melainkan sawah orang, dengan perjanjian bagi hasil.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo, Dwi Joko Nurjayadi mengatakan, pengurangan asupan jumlah subsidi tersebut dikarenakan pupuk subsidi dinilai lebih menguntungkan petani besar. Karena para petani besar juga turut menikmati pupuk subsidi tersebut. 

"Jadi itulah kenapa, karena subsidi ini banyak, malah bukan menguntungkan para petaninya. Malah petani yang besar, karena dia posisi petani, yang banyak sawahnya itu yang lebih diuntungkan," tuturnya pada Tadaodays.com, Senin (10/8/2020).

Joko menilai penyaluran pupuk bersubsidi ini memang tidak tepat sasaran. Pasalnya, banyak petani besar enggan membeli pupuk nonsubsidi. Mereka memih membeli pupuk bersubsidi, yang seharusnya diperuntukan bagi petani kecil. Bahkan terkadang para petani kecil sampai tidak kebagian pupuk bersubsidi dikarenakan seringnya diborong oleh petani besar.

"Sehingga sasarannya subsidi ini tidak tepat, kan sebenarnya akan membantu petani kecil" tandas Joko. (zr/hvn)