Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2021-12-13 18:27:47

Suka Duka Relawan Pencari Korban Erupsi Gunung Semeru

TEMUAN: Saat relawan menemukan jenazah yang tertimbun abu vulanik Gunung Semeru, upaya penggalian abu yang sudah padat itu dilakukan secara telaten. Upaya itu semakin sulit jika korban berada di dalam kendaraan atau rumah yang juga tertimbun.

LUMAJANG, TADATODAYS.COM - Pencarian korban erupsi Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, terus dilakukan. Berbagai unsur penyelamat atau rescue terlibat dalam proses pencarian. Suka duka pun dirasakan oleh mereka yang berjibaku dalam upaya pencarin korban.

Seperti yang dirasakan oleh personel Probolinggo Response Rescue (PRR), Ahmadi. Ia menceritakan, selama proses evakuasi korban, kakinya pernah terjebak di lumpur panas setinggi betisnya.

Baca Juga : Pasca Erupsi Kedua, Gunung Semeru Naik Status Jadi Siaga

Diketahui, Ahmadi dan relawan RPP lainnya bertugas di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, salah satu desa yang paling parah terdampak erupsi Gunung Semeru.

Baca Juga : Siswa SD di Probolinggo Lelang Lukisan untuk Korban Semeru

PANGGILAN JIWA: Mujio, Yetno dan Ahmadi (dari kiri ke kanan), merupakan tiga dari sekian banyak relawan yang bekerja dengan sepenuh hati untuk mencari korban erupsi Gunung Semeru. Bagi ketiganya, menjadi relawan merupakan panggilan jiwa.

Namun beruntung tidak sampai menyebabkan cedera serius. Karena saat itu ia langsung menyiram kakinya menggunakan air dingin. "Rasanya panas banget," terangnya, Sabtu (11/12/2021), di Desa Sumberwuluh.

Namun hal itu tidak mematahkan semangatnya. Ia terus mengikuti Operasi SAR dengan tim lainnya guna mencari keberadaan korban Semeru.

Ia mengaku sudah senang jika membantu orang lain yang tertimpa bencana. Sehingga hal itu tidak menghalangi niatnya untuk terus berjuang mencari para korban. "Sudah tertanam dalam jiwa," katanya.

TANTANGAN: Tak mudah bagi relawan saat bekerja mencari korban erupsi gunung api setinggi 3676 mdpl itu. Selain kemungkinan erupsi susulan, panasnya abu vulkanik di Tempat Kejadian Musibah juga harus dihadapi setiap relawan.

Sementara, relawan dari organisasi Yanmas Karanganyar, Jawa Tengah, Yetno, menceritakan pengalaman pertamanya menggali abu vulkanik. Sedangkan sebelumnya, ia pernah menjadi relawan saat bencana gempa bumi di Lombok, dan gempa bumi di Palu, Sulawesi Tenggara.

Nah, karena baru pertama kali menjadi relawan erupsi gunung api, ia mengaku sangat kelelahan bahkan terkadang sesekali mengalami sesak nafas akibat menggali abu vulkanik yang masih panas. Padahal, abu yang menimbun di bagian atas terasa dingin. "Kedalaman sekitar satu setengah meter, itu sudah panas sekali," ujar Yetno.

OPERASIONAL: Relawan yang datang ke lokasi erupsi Gunung Semeru berasal dari sejumlah organisasi di beberapa daerah. Tapi ketika akan melakukan proses pencarian korban mereka bergerak secara terkoordinir, termasuk menggunakan kendaraan milik Basarnas dan BPBD.

Pengalaman lainnya turut disampaikan oleh anggota relawan dari Indonesia Off Road Federation (IOF) Solo, Mujio. Ia menyebutkan, bahwa menjadi relawan erupsi Gunung Semeru perlu semangat yang ekstra.

Dimana relawan ini kadang tidak terpikirkan oleh pemerintah. Sehingga semuanya mandiri, mulai dari makan dan transportasinya. "Tujuan memang untuk kemanusian," ujarnya. (zr/don)