Alvi Warda


Wartawan Tadatodays.com | 2022-05-13 12:23:40

Telenan Dilukis, Nilai Jual Meningkat

KREATIF: Ledda Azadinnas Haque, perempuan asal Desa Sumurmati, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo yang membuat produk lukisan di atas permukaan telenan.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Media lukis kini tidak hanya berupa kanvas. Di Probolinggo, ada dua bersaudara yang menggunakan permukaan telenan sebagai media lukis. Adalah Ledda Azadinnas Haque dan Ledy Fitra Ramadadhani, dua bersaudara yang melukis di atas permukaan telenan. Barang yang berfungsi sebagai alas untuk memotong di dapur itu disulap menjadi barang estetik.

Ini berawal saat Ledda masih berada di pondok pesantren di Jogjakarta pada 2010 silam. Saat itu ia tak sengaja masuk ke dapur umum ponpesnya. Ia melihat telenan yang ada di dapur itu. Ledda lantas berpikir, telenan yang dipandang bukan benda yang berharga, bisa menjadi bernilai apabila dilukis. Namun saat itu, ia masih belum mewujudkan ide tersebut.

Baca Juga : Telenan Dilukis, Nilai Jual Jadi Meningkat

“Waktu itu saya masuk dapur umum di ponpes, itu tahun 2010. Saya lihat telenan di sana. Terus saya berpikir, telenan yang kita anggap biasa saja bisa jadi indah kalau dilukis,” ungkapnya.

Baru di tahun 2020, saat terjadi pandemi, Ledda bersama adiknya, Ledy, menggarap ide cemerlangnya. Karena saat itu, kedua bersaudara ini praktis tidak memiliki kegiatan apapun.

Tadatodays.com menemui Ledda di rumahnya, di Desa Sumurmati, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Senin (9/05/2022) sore. Terlihat ia melukis di atas telenan, karena ada pesanan.

Ya, hobinya sejak kecil kini telah menjadi bisnis. Produksi telenan lukis ini diberi nama “Kukadokau”. Pelanggannya tak hanya dari kalangan lokal. Ada yang dari Aceh, Makassar, Riau, Padang, Kalimantan Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Menurut Ledda, melukis di atas kanvas dan di atas telenan itu sejatinya memiliki teknik yang sama. Bedanya cuma di bagian awal dan finishing. Jika melukis di atas telenan, Ledda harus memberi warna putih sebagai dasar.

Sedangkan di bagian finishing, harus diberi varnish agar lukisan terlihat indah. “Kalau di telenan itu, harus diwarnai putih dulu. Beberapa warna kadang ndak timbul di kayu,” ujar Ledda.

TELENAN: Produk lukisan di atas permukaan telenan yang memiliki nilai jual tinggi. 

Seperti bisnis lainnya, Ledda juga menyampaikan ada rintangan selama ia menjalani bisnisnya. Di awal pandemi, lukisan di atas telenan memang memiliki respon baik dari pembeli. Namun, ternyata dua bersaudara itu sempat kewalahan. Banyaknya pemesanan, tidak seimbang dengan tersedianya bahan baku.

Ledda menyuplai telenan dari orang lain. Namun, beberapa supplier ada yang tidak bersedia. Alhasil, ledda harus mencari supplier lain, dan itu memakan waktu baginya. Bahkan di tahun 2020 ledda pernah sampai menutup order. 

Kukadokau kini tak hanya menyediakan lukisan di atas telenan. Segala macam woodcraft ada di Kukadokau. Seperti woodbox, frame, gantungan kunci, dan huruf timbul.

Dengan suksesnya bisnis yang dibangun atas dasar hobi ini, Ledda bisa memberikan motivasi untuk anak muda lainnya. Ia berharap pemuda-pemuda indonesia bisa melihat peluang yang ada di depan matanya untuk bisa dijadikan usaha. Sehingga tercipta lapangan pekerjaan untuk orang lain juga. “Semoga anak muda Indonesia bisa meniru, bisa berbisnis dari peluang di depan mata,” kata Ledda.

Ledda pun meluaskan sayap bisnisnya ke Subang. Tepatnya karena di akhir  tahun 2021, ia menikah dan mengharuskannya pindah ke Subang, Jawa Barat. Ia kini dibantu oleh suaminya, Khotibul Umam, bahkan sudah memiliki workshop sendiri.

Suaminya melihat, apa yang Ledda lakukan ini adalah hal yang sangat berharga. Ia yang tak memiliki basic di woodworking sampai harus ikut belajar, meski secara otodidak. “Saya mendukung penuh apa yang istri saya lakukan, selama itu positif,” tutur Umam.

Kini, Ledda tak lagi membeli telenan di luar. Sudah ada suaminya yang siap menyuplai. Umam berharap, kedepannya, usaha woodcraft yang ditekuni bersama istrinya ini bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. (alv/why)