Tembok yang Dibangun di Tengah Jalan Akhirnya Dibongkar

Mochammad Angga
Monday, 24 Jan 2022 13:32 WIB

AKSES: Pembongkaran tembok setinggi 2 meter itu dibantu oleh aparat TNI dan Polri. Kini, dua warga di RT 2 dan 3, Rw 6 Kelurahan Mangunharjo kembali bisa melewati jalan di Gang Kusuma Bakti tersebut.
PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Tembok setinggi 2 meter yang dibangun menutupi jalan Gg. Kusuma Bakti, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, akhirnya dibongkar. Pembongkaran yang dilakukan pada Senin (24/1) pagi itu, setelah warga yang berseteru akhirnya berdamai melalui mediasi yang digelar Pemerintah Kota Probolinggo.
Pembongkaran itu disaksikan oleh Wali Kota Probolinggo, Hadi Zainal Abidin, sekira pukul 07.00 WIB. Politisi PKB itu bersyukur karena tembok di badan jalan itu telah dibongkar, buntut perseteruan warga RT 3 dan RT 2. “Alhamdulillah, tembok pembatas yang sebelumnya dibangun dapat dibongkar,”ujarnya.
Selain itu, orang nomor 1 di kota berjuluk mangga-anggur ini mengimbau agar persoalan serupa tidak terjadi kembali. Ia menyarankan, jika warga ada masalah sekiranya dapat mendahulukan musyawarah terlebih dahulu. “Saling memaafkan merupakan hal penting," katanya.
Sementara itu, Plt. Camat Mayangan, Mochammad Abbas mengatakan, selain kedua belah pihak sudah berdamai, permintaan warga terkait pembuatan drainase akan diwujudkan. “Sehingga saat hujan, air hujan dapat mengalir," ujarnya.

Abbas menyampaikan bahwa, pembangunan drainase masih akan dibahas dalam rapat musyawarah rencana pembangunan.
Sementara, salah satu warga setempat, Ainun mengaku bersyukur setelah tembok tersebut dibongkar. Sehingga, ia kembali bisa mengakses jalan tersebut dan tidak berputar lagi. "Selama sebulan tembok berdiri, saya harus memutar lewat gang kecil,” tuturnya.
Sebelumnya, tembok yang dibangun pada 9 Desember 2021 lalu, itu bermula dari masalah genangan air saat hujan di lingkungan tersebut. Seorang warga RT 3 kemudian membangun polisi tidur di depan rumahnya, agar air tidak masuk ke rumahnya.
Namun sayang, keberadaan polisi tidur itu justru disesalkan oleh warga warga RT 2 yang menganggap air hujan tidak bisa mengalir dan menggenangi area RT 2. Karena kekesalan itulah, warga RT 2 pun membangun tembok di jalan gang yang saban harinya dilalui warga RT 2 dan RT 3. (ang/don)
.jpg)


Share to
 (lp).jpg)