The Kick Sabet 2 Emas, 7 Perak, 1 Perunggu di Kejurnas Airlangga Cup V 2023

Imam Wahyudi
Tuesday, 05 Dec 2023 16:31 WIB

THE KICK: Para atlet The Kick Taekwondo Probolinggo peraih medali bersama sabeom Islach Rizqi Amalia (tengah) di arena Kejurnas Taekwondo Airlangga Cup V 2023 di Multifunction Hall Kampus C Unair Surabaya.
SURABAYA, TADATODAYS.COM - The Kick Taekwondo Probolinggo kembali mengguratkan prestasi. Dalam event Kejurnas Taekwondo Airlangga Cup V yang digelar pada 2-3 Desember 2023, atlet-atlet The Kick berhasil menyabet 2 medali emas, 7 perak, dan 1 perunggu.
Kejurnas Taekwondo Airlangga Cup V 2023 digeber di Multifunction Hall Kampus C Unair Surabaya. Sejumlah nomor kyorugi dipertandingkan pada Sabtu dan Minggu (2-3/12/2023). Tujuh belas klub taekwondo dari berbagai daerah turut serta.
Dalam kejuaraan ini The Kick Taekwondo Probolinggo menurunkan 10 atlet. Masing-masing adalah
Manun Adibatul 'Ula asal TK Kemala Bhayangkari 16 Kota Probolinggo yang turun di Kelas ICTU A.
Aisyah Ayu Adn Nia dari SMPN 2 Kota Probolinggo turun di kelas Cadet U-40 kg. Near Natha Putra F dari SDN Mangunharjo 1 Kota Probolinggo turun di nomor ICTU B U-28 kg.
Salsabila Ayu Hanifa dari SDN Mangunharjo 1 Kota Probolinggo turun di kelas ICTU B U-26 kg. Mahammadou Kanz Kafka dari SMP IT Permata Kota Probolinggo turun di kelas Cadet U-61 kg. Dahman Rahma Wahyuni dari SMPN 10 Kota Probolinggo turun di kelas Cadet U-36 kg.
Berikutnya, Raya Rabbani dari SMP Negeri 10 Kota Probolinggo turun di kelas Cadet U-44 kg. Nafisah Iftitah El Hammy dari SMP Negeri 5 Kota Probolinggo turun di kelas Cadet U-47 kg. Mawar Habibie Aziziah asal SMPN 2 Dringu Kabupaten Probolinggo turun di kelas Cadet U-51 kg. Renata Rabbani dari SDN Sukabumi VI Kota Probolinggo turun di kelas ICTU B.
Menghadapi lawan-lawannya, para atlet The Kick menunjukkan kegigihan luar biasa. Hasil berlatih selama berbulan-bulan, sudah saatnya dihadapkan dengan hasil latihan masing-masing lawan tandingnya. Kalah ataupun menang pun disambut dengan haru.
Hasilnya, dua atlet The Kick berhasil meraih juara 1 atau berhasil meraih medali emas. Tujuh atlet berhasil meraih juara 2 atau mendapat medali perak, dan 1 atlet berhasil meraih juara 3 atau mendapat medali perunggu (selengkapnya lihat tabel).
Atas hasil ini, founder dan pelatih The Kick Taekwondo Probolinggo Islach Rizqi Amalia menyebut para atletnya sudah menunjukkan usaha luar biasa. “Sebenarnya hasilnya sedikit melenceng dari ekspektasi. Tetapi, para atlet sudah berusaha luar biasa untuk mencapai titik ini. Insyaallah tetap legowo dan terus tingkatkan latihan,” kata sabeom Kiki, sapaannya.
Menurutnya, evaluasi yang terpenting tetap pada latihan fisik dan mental. “Karena di Kejuaraan Airlangga Cup kemarin memang ketahanan dan stamina fisik dihajar habis-habisan. Semoga di Kejuaraan Airlangga Cup tahun depan, juga kejuaraan-kejuaraan selanjutnya kita dapat hasil yang lebih dari ini lagi,” harap sabeom Kiki.
PERAK: Mahammadou Kanz Kafka, atlet The Kick Taekwondo Probolinggo meraih medali perak di kejuaraan pertama yang diikutinya ini.
Ibu Menangis

Menyaksikan putra-putrinya berlaga di arena kejuaraan taekwondo ternyata bukan perkara mudah. Terlebih bagi orang tua yang anaknya baru kali pertama mengikuti kejuaraan. Sensasi rasa yang ditimbulkan sangat beragam. Dari perut mulas, cemas, bahkan sampai menangis.
Situasi itu dirasakan Yunita Reny, orang tua salah satu atlet The Kick Taekwondo Probolinggo Mahammadou Kanz Kafka. Begitu memasuki arena tempat anaknya akan beradu skill taekwondo, ibu itu langsung disuguhi beberapa pertarungan yang tersaji. Melihat pertarungan-pertarungan itu, perutnya langsung mulas.
Menjelang waktu anaknya menjalani pertandingan pertama di kelas Cadet U-61 kg, perasaan Yunita Reny semakin campur aduk. Perut mulas masih ditambahi rasa cemas. Lalu saat anaknya bertanding, ibu itu benar-benar tidak berani melihat. Matanya malah basah oleh tangis.
Mayla el Kharirina, kakak perempuan Kaka, sapaan Mahammadou Kanz Kafka, semula berniat merekam pertandingan adiknya. Tetapi Mayla ternyata juga menangis, sehingga jadi tidak fokus merekam.
Pertandingan pertama berakhir. Kaka dikalahkan lawan yang memiliki tubuh lebih tinggi dan gerakan lebih gesit. Kekalahan itu masih ditambahi dengan sesak nafas yang dirasakan Kaka sejak pertengahan pertandingan sampai berakhir.
“Anak itu (Kaka, red) punya penyakit asma lho…” kata Yunita Reny cemas melihat anaknya berulang kali menghirup tabung oxygen.
“Tenang. Dia bisa mengatasi…” timpal suami Yunita yang duduk di sebelahnya.
“Ini (Kaka, red) masih tanding lagi?” tanya Yunita masih dengan air muka cemas.
“Iya, satu pertandingan terakhir, penentu,” jawab suaminya.
Setelah mengembalikan stamina selama jeda, Kaka kembali memasuki arena untuk melakoni pertandingan kedua. Kali ini Kaka menghadapi lawan yang postur tubuhnya hampir imbang.
Yunita Reny tetap tidak berani melihat. Ia hanya menoleh sesekali, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Perolehan angka Kaka dan lawannya saling kejar. Tetapi tahu-tahu saja pertandingan berakhir. Satu tendangan Kaka mengenai bagian kepala lawan, hingga membuatnya tidak bisa meneruskan pertandingan.
“Kaka menang?” tanya Yunita.
“Menang,” jawab suaminya.
“Alhamdulillah….” kata Yunita, baru kemudian melihat penuh ekspresi senang anaknya yang seakan telah hilang semua beban, lelah dan sakitnya. (why)

Share to
 (lp).jpg)