Alvi Warda


Wartawan Tadatodays.com | 2022-04-19 16:33:56

Thrifting; Produk Branded, Tapi Aman di Kantong

BERKUALITAS: Baju yang dijual di outlet "Oribiya Cloth" memang produk bekas. Tapi kualitas baju tetap terjamin dari merek terkenal.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Budaya thrifting atau membeli produk bekas, ternyata cukup digemari di Kota Probolinggo. Salah satu outlet produk thrifting di Kota Probolinggo berlokasi di JL. Semeru Gang 3, No. 3, Kelurahan Triwung Lor, Kec. Kademangan Kota Probolinggo.

Outlet itu namanya Oribiya Cloth atau Toko Baju Thrift Story. Pemiliknya Olivia Ayu Satningtrias dan Ufitri Dwi Restiny. Mereka kakak beradik, asli Probolinggo.

Saat ditemui tadatodays.com pada Kamis (31/03/2022), Olivia mengatakan bahwa saat ia masih kecil, orang tuanya sudah mendirikan usaha thrifting. Saat itu mereka tinggal di daerah Wisata Gunung Bromo. Namun di waktu yang tak bisa ia pastikan, bisnis orang tuanya itu akhirnya berhenti.

Nah, di tahun 2019, setelah lulus kuliah, Olivia mendirikan lagi bisnis thrifting melalui online. Alasannya, selain pernah melihat orang tuanya berjualan dan sukses, ia ingin membuat suatu usaha di tengah pandemi.

“Lapangan pekerjaan itu minim, saat pandemi. Mulai tumbuh ide aku mendirikan usaha, dengan modal minim,” ungkapnya.

Tak disangka, berawal dari sedikit modal pemberian kakaknya, mampu membuat Olivia impor pakaian, bahkan tas dari berbagai negara. Hingga saat ini, Olivia memiliki outlet permanen.

Di Oribiya Cloth, tersedia pakaian untuk atasan, celana, dan rok untuk dewasa. Selain pakaian, ada juga boneka dan tas segala model. Harganya pun terjangkau, yaitu mulai dari Rp 20 ribu saja.

Produk-produk itu diimpor langsung oleh olivia dari Korea dan Jepang. Karena menurutnya, style mereka masih bisa menyesuaikan dengan style orang Probolinggo. Namun, pembeli Oribiya Cloth tak hanya orang Probolinggo. Olivia mengaku pernah melayani pembeli dari seluruh indonesia, melalui e-commerce atau pemesanan online.

Setelah sukses melakukan pemasaran digital dan membangun outlet, ia juga pernah menyicipi rintangan dan tantangan. Olivia bercerita, masih saja ada orang yang berfikir, produk thrift itu tidak layak dipakai.

Padahal sebenarnya, produk thrift adalah produk yang satu atau dua kali dipakai oleh orang luar. Ia bahkan pernah mencuci atau sekedar menyetrika produk yang membutuhkan dicuci atau disetrika.

Olivia menyarankan masyarakat yang menyukai brand terkenal, untuk membeli produk thrift saja. Sebab, dengan harga tak sampai Rp 100 ribu, sudah bisa memakai pakaian dengan brand-brand terkenal.

Namun, Olivia juga berpesan agar pelaku thrift lebih teliti lagi saat belanja baju perbalnya. Tak jarang ia menemukan pelaku thrift yang sering tertipu. Ia sangat mensyukuri kondisi itu tak dialaminya. Dari 100 persen, mungkin selama ini ia hanya mengalami kerugian 10 persen saja.

“Jangan mudah tergoda dengan barang yang murah. Misalkan kita ngulak dengan bal-balan, karena murah jangan tergiur, harus tetap selektif. Banyak banget penipuan,” ujarnya.

Sementara, sang kakak, Ufitri Dwi Restiny, menceritakan di awal mula ia menyetujui memberikan modal untuk adiknya saat itu karena merasa sakit hati pada sebuah brand. Ufitri mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, akibat mengonsumsi brand yang harganya sangat mahal. Pikirnya, hal itu terkesan hedon atau terlalu foya-foya. “Awalnya karena rasa sakit hati. Produk tertentu itu mahal. Akhirnya terkesan hedon dan berimbas ke keluarga,” tutur Ufi.

Akhirnya ia setuju membuat usaha thrift seperti orang tuanya dulu. Dengan modal yang tak seberapa, mereka mampu belanja produk dengan berat 20 Kg. Namun, seiring berjalannya waktu, kini usahanya membuahkan hasil. Ia senang, kini ia tak lagi terpuruk dalam masalah karena usahanya yang sukses. (alv/don)