Alvi Warda


Wartawan Tadatodays.com | 2022-04-21 13:40:29

Unik, Musala di Probolinggo Berdiri di Tengah Jalan Kampung

UNIK: Letak Musala Kiai Mugi di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, tidak seperti bangunan pada umumnya. Sebab, musala yang dibangun tahun 1965 itu berdiri di tengah jalan.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Bukan hanya Klenteng Sumbernaga, bangunan di Kota Probolinggo yang lokasinya berada di tengah jalan, atau dikelilingi badan jalan. Ada juga sebuah musala yang berada di lokasi serupa, yaitu di Jl. Kiai Mugi, Kelurahan Mangunharjo, Kec. Mayangan, Kota Probolinggo. Nama musala itu diambil dari jalan lokasinya berdiri, yaitu Musala Kiai Mugi.

Rabu malam (6/04/2022), tadatodays.com menemui Irfan Fauzi selaku Ketua Takmir Musala Kiai Mugi. Ia bercerita, Musala Kiai Mugi cukup lama berdiri. Irfan memperkirakan, pembangunannya terjadi sekitar tahun 1965. Irfan mendapatkan referensi itu dari prasasti tertulis tahun berdirinya Musala Kiai Mugi.

Kemudian, Irfan menceritakan riwayat berdirinya Musala Kiai Mugi. Awalnya, ada taman milik pemerintah di jalan yang berbentuk bundaran itu. Di sisi selatan berdiri sebuah musala, milik Mbah Maksum. Kemudian di utara di daerah sekitar Kali Banger juga ada musala milik Kiai Mugi. Namun musala itu sudah tidak layak digunakan.

Akhirnya, semua masyarakat memilih mushala Mbah Maksum untuk ibadah salat dan mengaji. Di Mangunharjo, kata irfan, hanya ada dua musala itu pada awalnya.

Masyarakat kemudian berinisiatif untuk menyatukan saja kedua musala itu. Maka dipilihlah ketua panitia, yakni Muhammad Syarif Hadi, untuk melancarkan inisiatif itu. Sehingga berdirilah Musala Kiai Mugi, sebagai musala pertama di Kelurahan Mangunharjo. “Awalnya itu, inisiatif masyarakat. Jadi dibentuk ketua panitia untuk menyatukan musala,” ujarnya.

Gaya bangunan Musala Kiyai Mugi, juga sangat menarik. Bentuknya seperti roket. Irfan menuturkan, dari awal berdiri, musala ini hanya direnovasi empat kali.

Mulanya, Musala Kiai Mugi bahkan tak memiliki teras. Depan musala ada sumur tempat wudlu masyarakat. Kemudian di tahun 1970, ada pemasangan jaringan air PDAM untuk efisiensi tempat wudlu. Maka ditutuplah sumur itu, kemudian dibuat teras.

Irfan menuturkan, jamaah Musala Kiai Mugi memang tidak banyak. Namun ada keunikan tersendiri. Irfan menceritakan, jika jamaah dari awal ada sepuluh, maka seterusnya akan ada sepuluh. Setiap jamaah yang tidak lagi salat di musala, pasti akan ada pengganti baru.

Irfan pun sampai sekarang, masih merasa heran dengan hal itu. “Misal ada sepuluh jamaah dari awal, kalau ada dua orang yang ndak lagi sholat di musala, pasti ada gantinya. Jadi terus genap sepuluh jamaah,” ungkapnya.

Irfan berharap, jamaah terus istikamah menjalankan ibadah di Mushala Kiai Mugi. Terutama dengan memanfaatkan momen bulan suci ramadan ini, dengan salat tarawih dan tadarus di musala. “Harapnya, jamaah tetap terus istikamah dan bisa jaamahnya bisa bertambah,” tuturnya. (alv/don)