Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2022-01-12 15:09:29

Wage, Mantan Sopir yang Kini Jadi Perajin Layangan Naga

KREATIF: Dalam proses pembuatan layangan naga, Wage cukup teliti dan kreatif. Karyanya itupun tak hanya diminati warga Probolinggo, tapi juga diminati pembeli dari luar daerah.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Namanya Wage Sudiono. Pria tiga anak ini banting setir dari pekerjaannya sebagai sopir menjadi pembuat layangan naga. Sebelumnya, selama 4 tahun bekerja sebagai sopir dari Tulungagung menuju Jakarta, tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Apalagi, jika ia harus menunggu barang di Jakarta sampai 15 hari lamanya.

Ongkos yang diberi perusahaan tempat ia bekerja sekitar Rp 900 ribu untuk satu kali perjalanan, dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. “Jika sampai menginap, tidak cukup. Jadi untuk cari tambahanya masih merepotkan istri untuk cari pinjaman," ucapnya.

Baca Juga : Wage, Mantan Sopir yang Kini Menjadi Perajin Layangan Naga

Nah, karena kebutuhan di jalan saja tidak cukup, apalagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya yang tinggal di Gg Mangga, RT 3 RW 4, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo. Dari situlah, Wage memikirkan bagaimana bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan tetap berkumpul bersama istri dan anaknya.

Mulanya, pria 34 tahun ini berniat akan berhenti sebagai sopir. Tapi ia masih kebigungan karena tak punya bakat lain. Untuk melamar pekerjaan pun dirasa sangat susah, sebab ia hanya memiliki ijazah SMP.

Akan tetapi, takdir berkata lain. Ia justru mendapat kehidupan baru dengan bekerja sebagai pembuat layangan naga.

Ceritanya, saat ia pulang ke rumahnya setelah sekian hari bekerja sebagai sopir. Wage bersama keluarga ingin menghilangkan penat dengan pergi menuju Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan. Pria yang sempat sekolah SMA namun tak sampai lulus ini, kemudian melihat layang-layang naga mengudara di PPP Mayangan.

Melihat layang-layang itu, Wage terbesit untuk mencoba membuatnya. Dengan modal yang sangat minim, Wage mencoba membuatnya layangan dengan bahan plastik. Setelah layangan jadi, ia kemudian menerbangkannya di area sawah timur rumahnya.

SENI: Layangan naga buatan Wage bernilai tinggi. Tingkat kesulitannya membuat harga layangan naga itu mencapai jutaan rupiah.

Ternyata layangan itu terbang. Dan, yang tak disangka, ada warga yang tertarik membeli layangan plastik buatan Wage. Nah, uang yang didapat dari penjualan layangan plastik itu selanjutnya ia gunakan untuk membuat layangan naga dari bahan kain. "Dari sana inspirasi membuat layangan naga dimulai," terangnya saat di temui di rumahnya.

Dengan tekad kuat, ia mengajak para pemuda di lingkungannya agar membantu dirinya membuat layangan naga. Mulai dari pembuatan kepala naga berbahan bambu dan besi, hingga pembuatan ekor.

Wage mengakui, bahwa kemampuannya bikin layangan naga belajar melalui YouTube. “Pelan-pelan akhirnya saya bisa, dan layangan (naga) itu juga bisa terbang,"ujarnya.

Sementara terkait bahan dasar layangan yang dibuatnya, untuk rangka ia menggunakan bambu. Lalu untuk pewarnaan dan bentukan layang dibuat beragam. "Kain yang saya gunakan seperti kain payung. Sehingga jika digunakan pada saat hujan juga tidak masalah dan tetap bisa terbang," katanya.

Kini, Wage semakin mantap untuk menjadi pengrajin layangan naga. Bahkan, saat musim hujan pun ia tetap saja memproduksi layangan naga. Wajar saja. Sebab, saat ini pengahsilan Wage hanya bertumpu pada layang-layang naga. itu. "Empat bulan terakhir ini saya fokus buat layang-layang naga ini," tuturnya.

Untuk proses pembuatan satu layangan naga memakan waktu antara dua minggu hingga satu bulan. Tergantung tingkat kesulitannya. Untuk harganya sendiri, Wage mematok 2 juta rupiah untuk ukuran 100 ekor atau pendukung kepala naga.

Kini, layang-layang naga karya Wage sudah banyak mendapat pesanan. Termasuk dari luar daerah. "Paling jauh dari Situbondo, Tapi mayoritas dari dalam kota sendiri,” katanya.

Jika mendapat pesanan dari luar kota, Wage masih terkendala biaya transport karena ia tidak menerapkan biaya DP. “Makananya saya kesulitan," tuturnya.

Dalam hal penjualan ia dibantu olah teman serta anaknya, baik melalui media sosial ataupun dari mulu ke mulut. Terlepas laku tidaknya, Wage tak terlalu memikirkannya. Sebab membuat layangan naga, menurutnya adalah bagian dari pekerjaan seni. Tak heran, terkadang ia hanya duduk terdiam sambil melihat karyanya itu.

Ia percaya, jika keringat yang saban hari ia keluarkan demi menafkahi dan mencukupi kebutuhan keluarga, maka pasti ada saja jalan dari Tuhan untuk menjawabanya. (ang/don)