Tadatodays


Wartawan Tadatodays.com | 2021-10-04 15:44:47

Walisongo Kalimosodo: Daul Syiar Shalawat

SYIAR: Daul Walisongo Kalimosodo yang eksistensinya menjadi media syiar shalawat.

KESENIAN bisa menjadi media syiar dan dakwah. Inilah yang menjadi karakter kelompok daul Walisongo Kalimosodo. Kelompok yang bermarkas di Jalan Asahan RT 4 – RW 2, Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo ini didirikan dengan salah satu tujuan, yaitu sebagai media syiar shawalat. Maka,  lagu-lagu yang diusung daul Walisongo Kalimosodo adalah shalawat yang diiringi musik tradisional.  

Baca Juga : Lembu Ireng: Perwujudan Pemuda Berkarya

Senin (27/9/21) malam, Tadatodays.com mengunjungi markas daul Walisongo Kalimosodo di markasnya di Jalan Asahan. Tadatodays.com ditemui pembina daul walisongo kalimosodo yaitu ustadz Ahmad Kusnadi dan ketuanya, yaitu Gamyos Lawado.   

Baca Juga : Lembu Ireng: Wujud Pemuda Berkarya

Daul Walisongo Kalimosodo berdiri tahun 2019. Meskipun terbilang baru, kelompok musik daul ini sudah memiliki semua yang dibutuhkan. Daul Walisongo Kalimosodo dibentuk oleh Jam’iyah Shalawat Nariyah Walisongo, yang mengikuti garis Pondok Pesantren Walisongo Situbondo pimpinan Kiai Haji Kholil As’ad.  

Dalam jam’iyah shalawatan itu ada kelompok hadrah. Anggotanya adalah anak-anak putus sekolah dari daerah setempat. Dari kelompok hadrah ini kemudian dikembangkan menjadi kelompok musik daul. “Jadi, anak-anak putus sekolah itu datang sendiri ke sini. Ada banyak jumlahnya. Mereka kami bina, main musik hadrah,” kata Gamyos dengan peci merah putih menutupi kepalanya.    

Hadrah Walisongo terbilang unik, karena menggabungkan alat musik hadrah dengan gamelan. “Kira-kira tiga tahun setelah kelompok hadrah berdiri, muncul ide. Kala itu,  setiap malam Sabtu, hadrah Walisongo berkeliling mengikuti kegiatan jam’iyah shalawat. Dari hal itu kemudian muncul ide untuk mendirikan daul,” timpal ustadz Ahmad Kusnadi.  

Meskipun kini sudah berkembang besar menjadi daul, hadrah Walisongo tetap eksis. Para personel hadrah sekaligus menjadi personel daul. “Jadi kalau yang diundang hadrah, daul tidak main. Begitu pula sebaliknya, kalua yang diundang daul, maka hadrah tidak main,” terang Gamyos.  

DITERIMA MASYARAKAT: Selain musik dan shalawatnya, Walisongo Kalimosodo juga diterima masyarakat karena mengarahkan anak muda ke kegiatan positif.

Hingga sekarang, kelompok daul Walisongo Kalimosodo juga memiliki ragam seni jaran bodhag. Tak hanya varian penampilannya yang berkembang, jumlah personel daul Walisongo Kalimosodo juga berkembang.  Dari semula hanya ada 11 anggota, sekarang sudah ada 35 sampai 40 anak. “Mereka itu ya anak sekolah,  anak putus sekolah dan anak yatim.  Rata-rata usianya 16 sampai 21 tahun,” kata Gamyos merinci.

Menurut Gamyos Lawado, para pemusiknya belajar secara otodidak. “Malah dulu itu waktu masih awal belajar, yang ditabuh itu ya gallon, ya panci,” kenang Gamyos.   

Soal koleksi lagu, kelompok daul Walisongo Kalimosodo sudah mengaransemen lebih dari 10 lagu. Lagu yang diaransemen dominan shalawatan. “Pokoknya shalawat nariyah menjadi ciri khasnya,” kata ustadz Ahmad Kusnadi.

Meskipun daul Walisongo Kalimosodo kental nuansa Islam, tetapi tetap mengusung karakter Probolinggo.  Gamyos Lawado menyebut alat musik kenong telok tetap digunakan sebagai penanda karakter Probolinggo.  “Selain itu, kami juga juga mencoba untuk melestarikan zikir saman,” katanya.   

Selain itu, daul Walisongo Kalimosodo juga memiliki inovasi sendiri. Dalam tampilannya, mereka kini melibatkan sosok dalang. “Jadi, dalang ini yang menyampaikan pembuka sebelum tampil. Ya pakai Bahasa Jawa seperti dalang,” terang Gamyos. Sedangkan tugas dalang itu dijalankan oleh personel daul Walisongo Kalimosodo yang saat ini sedang menempuh pendidikan pedalangan di Surabaya. 

Mulanya, eksistensi daul Walisongo Kalimosodo masih tergantung pada Jam’iyah Shalawat Nariyah Walisongo. Tetapi, lambat laun, seiring seringnya kelompok daul Walisongo Kalimosodo diundang tampil di berbagai acara hajatan, mereka kini sudah tidak lagi terlalu bergantung pada jam’iyah shalawat. Daul Walisongo Kalimosodo sudah bisa menyisihkan uang hasil tanggapan untuk pengadaan peralatan dan operasionalnya.  

Tentang tarif tanggapan, daul Walisongo Kalimosodo tidak mematok harga. Sebab, misi utama daul Walisongo Kalimosodo adalah syiar dan dakwah. “Kami tidak pasang tarif. Tujuan utama kami kan syiar dan dakwah,” kata ustadz Kusnadi.   

Tempat latihan Walisongo Kalimosodo di Jalan Asahan terbilang luas. Dekorasi Walisongo Kalimosodo terpasang lengkap di pojok halaman ini. Musala dan pendapa dengan atap rumah joglo juga berdiri kokoh.  Selain itu, ada pula gong raksasa yang tertutup kain juga menyambut siapapun yang berkunjung ke tempat tersebut.  

Mengenai respon masyarakat atas aktivitas daul Walisongo Kalimosodo, menurut Gamyos, selama ini tidak ada masalah.  “Warga justru banyak datang untuk melihat kalau daul Walisongo Kalimosodi sedang berlatih,” katanya. 

Yang menarik dari daul Walisongo Kalimosodo adalah barong yang menjadi kepala keretanya. Barongnya berupa hewan mitologi, gabungan naga dan singa. Nah, ternyata  ada cerita mistis di baliknya.

Ustadz Ahmad Kusnadi bercerita, dulu di pemakaman daerah Jalan Asahan ini terkenal angker. Ketika ada orang yang mengubur mayat, orang tersebut ikut meninggal. “Ini kejadian di luar nalar. Tetapi terjadi sampai tiga kali,” kata ustadz Kusnadi.

Setelah itu, baru diketahui kalau di pemakaman itu ada makam tersembunyi yang tidak terawat. Nah, makam tokoh ulama itu ditunggui oleh sesosok naga. Makam tersembunyi itu kemudian dibersihkan.

Ketika daul Walisongo Kalimosodo dibentuk, makhluk naga itu disusupkan ke dalam ikon kepala kereta daul. Itu dilakukan berdasar perintah kiai, saat ustad Ahmad Kusnadi minta izin untuk membentuk daul Walisongo Kalimosodo. Dekorasi barong gabungan naga dan singa itu kemudian dibuat oleh Ahmad Suyuti, si vokalis daul Walisongo Kalimosodo. “Visual kepalanya mirip. Hanya bagian belakangnya yang tidak,” ujar ustadz Kusnadi.  

Soal pengalaman tampil memenuhi undangan, kelompok daul Walisongo Kalimosodo tidak perlu diragukan. Sejak dibentuk, kelompok daul ini sudah banyak diundang tampil di berbagai daerah di kota dan kabupaten Probolinggo. Bahkan untuk November 2021, jadwal tampil Walisongo Kalimosodo disebutkan sudah penuh.

Ditanya tentang masa depan musik daul di Kota Probolinggo, Gamyos berharap agar ada semakin banyak kelompok daul yang terbentuk. “Semakin banyak muncul kelompok musik daul di Probolinggo tentunya semakin baik,” katanya.

Sedangkan ustadz Ahmad Kusnadi memiliki harapan lain. “Kalau saya berharapnya, syiar shalawat ada  di mana-mana. Kalau perlu, Kota Probolinggo menjadi Kota Shalawat,” ucapnya. (sal/why)