Warga Pasuruan Berburu Janur untuk "Kupatan", Pedagang Raup Omzet Jutaan

Amal Taufik
Amal Taufik

Friday, 27 Mar 2026 18:30 WIB

Warga Pasuruan Berburu Janur untuk "Kupatan", Pedagang Raup Omzet Jutaan

KUPAT: Pedagang janur di Pasar Besar Kota Pasuruan

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Menjelang tradisi "kupatan" di hari ke-7 lebaran, suasana Kota Pasuruan mulai ramai. Warga berburu janur untuk membuat ketupat. Sementara pedagang justru kebanjiran pembeli dan meraup omzet hingga jutaan rupiah dalam sehari.

Pemandangan itu terlihat di kawasan Pasar Besar, Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Panggungrejo, Jumat (27/03/2026). Sejak pagi buta, lapak penjual janur dan ketupat sudah dipadati warga yang datang silih berganti.

Para pedagang mengaku momen ini menjadi salah satu puncak penjualan dalam setahun. Dalam sehari, mereka bisa menjual hingga 1.000 sampai 1.500 bungkus janur maupun ketupat kosong. “Kalau lagi ramai seperti sekarang, sehari bisa sampai jutaan. Pembeli datang terus dari pagi,” ujar Musrifah, salah satu pedagang.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Satu ikat ketupat kosong dijual sekitar Rp12 ribu per 10 buah, sedangkan janur dibanderol Rp 10 ribu per 10 lembar. Para pedagang yang membuka lapak sejak subuh bisa mengantongi omzet hingga Rp 3 juta sehari.

Lonjakan pembeli ini tak lepas dari tradisi kupatan yang masih kuat di masyarakat. Ketupat menjadi hidangan wajib saat keluarga berkumpul dan saling berkunjung setelah Lebaran.

Salah satu pembeli, Musdalifah, mengaku sengaja membeli janur untuk membuat ketupat sendiri di rumah. Ia menyiapkan hidangan tersebut untuk keluarga dan tamu yang datang bersilaturahmi. “Tahun ini coba bikin sendiri. Biasanya beli yang sudah jadi, sekarang beli janurnya langsung,” katanya.

Tradisi kupatan sendiri merupakan budaya masyarakat Jawa yang biasanya digelar sekitar sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Dalam tradisi ini, warga membuat dan menyajikan ketupat sebagai simbol kebersamaan, saling memaafkan, sekaligus mempererat silaturahmi antar keluarga dan tetangga.

Tradisi ini pun menjadi berkah tersendiri bagi pedagang musiman. Di tengah meningkatnya kebutuhan warga, mereka bisa mengantongi omzet lebih besar dibanding hari-hari biasa. (pik/why)


Share to