10 Ribu Ton Lebih Gula Petani Menumpuk di PG Semboro, Rembesan Gula Rafinasi Bikin Serapan Macet

Dwi Sugesti Megamuslimah
Wednesday, 27 Aug 2025 07:11 WIB

Aktivitas panen petani tebu di wilayah Semboro, Jember.
JEMBER, TADATODAYS.COM - Ribuan ton gula milik petani tebu di wilayah Jember kini menumpuk di gudang Pabrik Gula (PG) Semboro. Setidaknya ada 10.000 ton gula sejak Juni 2025 yang mengendap dan tidak kunjung terserap pasar. Maraknya peredaran gula rafinasi di pasaran dituding menjadi penyebab utama lesunya penyerapan gula rakyat.
Manajer Keuangan dan Umum PG Semboro Diputra Risman menjelaskan bahwa kondisi ini sudah terjadi sejak awal Juni. Padahal, biasanya gula yang keluar dari pabrik langsung ludes terserap melalui sistem lelang yang difasilitasi Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR).
“Sejak Juni sampai sekarang, stok masih belum terserap. Kalau istilahnya bukan mengendap, tapi belum ada yang mengambil,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (26/8/2025) sore.
Risman memastikan gula yang disimpan di gudang dalam kondisi aman. Namun, ia mengingatkan bahwa kapasitas gudang tidak bisa menampung terus-menerus. “Insyaallah aman sampai dua bulan ke depan. Tapi giling masih berjalan sampai November, artinya stok akan terus bertambah. Kalau tidak ada pembeli, gudang jelas akan penuh,” terangnya.
Menurut Risman, permasalahan bukan pada kualitas gula rakyat. Justru sebaliknya, gula petani dinilai memenuhi standar. Kendala terbesar muncul saat proses lelang.
Pedagang enggan membeli dengan harga sesuai Harga Acuan Pemerintah (HAP) Rp14.500 per kilogram. Mereka hanya berani menawar di bawah harga tersebut. “Petani menolak, akhirnya deadlock. Jadi bukan karena gulanya jelek, tapi karena pasar diserbu gula rafinasi,” kata Risman.
Biasanya, saat harga di lelang macet, pemerintah biasanya turun tangan melalui Bulog untuk menyerap gula petani dengan harga acuan.
Faktor utama serapan tersendat adalah gula rafinasi. Seharusnya, produk ini hanya dipakai oleh industri makanan, minuman, dan farmasi. Namun kenyataannya, gula rafinasi merembes ke pasar konsumsi rumah tangga. “Pedagang lebih memilih gula rafinasi karena harganya lebih murah. Inilah yang jadi kendala utama,” jelas Risman.
Dibanding gula petani, harga gula rafinasi memang jauh lebih rendah. Hal ini membuat posisi gula lokal semakin terdesak. Jika kondisi tersebut dibiarkan, petani tebu sulit bertahan.
Ketua APTRI PG Semboro, Sutrisno, menegaskan bahwa menumpuknya gula petani berimbas langsung pada keberlangsungan usaha tani. Pasalnya, setelah musim tebang selesai, petani harus kembali mengeluarkan biaya besar untuk menggarap lahan.
“Banyak petani yang akhirnya mencari talangan ke bank, karena dana dari hasil penjualan gula belum cair,” ungkap Sutrisno.
Ia menambahkan, jika dihitung dengan HAP Rp14.500/kg, total nilai gula yang menumpuk di gudang PG Semboro mencapai sekitar Rp145 miliar. Dana sebesar itu seharusnya sudah kembali ke kantong petani untuk biaya tanam, tebang, hingga pemeliharaan lahan.

“Petani sangat butuh modal segar. Kalau gula tidak terjual, otomatis mereka kesulitan untuk musim berikutnya,” lanjutnya.
Truk berisi tebu hasil perkebunan milik rakyat di Wilayah Semboro, Jember.
Janji Beli lewat Danantara
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Pemerintah telah menyiapkan skema penyerapan gula petani. Melalui PT Danantara dan BUMN pangan ID Food, pemerintah berencana membeli gula rakyat sebagai bagian dari cadangan pangan nasional.
Kesepakatan terakhir menyebutkan, Danantara akan menyerap 80 persen dari stok gula petani, sementara sisanya diharapkan bisa diambil pedagang. “Rencananya mulai Rabu minggu depan pembayaran bisa direalisasikan. Mudah-mudahan tidak molor lagi,” harap Sutrisno.
Namun, hingga kini realisasi pembayaran belum juga terlihat. “Petani hanya bisa berharap pembayaran segera dilakukan. Gulanya memang aman tersimpan di gudang, tapi kebutuhan biaya penggarapan tidak bisa ditunda,” tegasnya.
Menurut Sutrisno, kasus gula yang mengendap di gudang sebenarnya bukan hal baru. Namun, tahun ini kondisinya jauh lebih parah. “Kalau dulu paling lama seminggu, sekarang sudah dua bulan gula belum laku,” ujarnya.
Hal ini dinilai sebagai kondisi darurat bagi masa depan perkebunan tebu rakyat. Jika rembesan gula rafinasi tidak segera ditangani, swasembada gula nasional akan semakin sulit tercapai. "Kalau kondisi ini dibiarkan, petani bisa tidak mampu lagi menanam tebu. Swasembada gula akan semakin jauh,” sambung Sutrisno.
Gula Rafinasi
Gula rafinasi adalah gula hasil pemurnian lanjutan dari gula mentah (raw sugar) yang umumnya diimpor. Produk ini berwarna putih bersih, memiliki tingkat kemurnian tinggi, dan minim nutrisi. Karena sifatnya, gula rafinasi hanya diperuntukkan bagi industri makanan, minuman, dan farmasi.
Dari sisi kesehatan, gula rafinasi dinilai kurang baik jika dikonsumsi langsung. Sutrisno menegaskan, gula petani seharusnya lebih diutamakan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. “Kalau gula rafinasi dibiarkan masuk terus, sulit bagi gula lokal untuk laku. Padahal kualitas gula rakyat lebih baik,” kata Sutrisno. (dsm/why)

Share to
 (lp).jpg)