Aksi Para Dalang Cilik di Sahati Fest

Iqbal Al Fardi
Iqbal Al Fardi

Sunday, 15 Jan 2023 17:42 WIB

Aksi Para Dalang Cilik di Sahati Fest

CILIK: Salah seorang dalang cilik sedang mendalang di Sahati Fest.

Pemerintah Kabupaten Jember menggelar pesta rakyat Sahati Fest di Alun-alun Jember yang berlangsung selama 10 hari sejak Jumat (23/12/2022). Dalam pembukaan pesta rakyat tersebut, terdapat sejumlah kegiatan. Satu di antaranya diisi oleh pagelaran wayang kulit oleh anak-anak muda dari Sanggar Sasono Budoyo.

--------------------

SUARA gamelan terdengar hingga seberang jalan di timur Alun-alun Jember pada Jumat pagi itu. Panggung besar berdiri megah di tengah menghadap ke sisi utara. Tampak pula sejumlah orang sedang mementaskan wayang kulit, meski masih pagi.

Pagelaran wayang kulit yang biasa digelar pada malam hari, berbanding 180 derajat dengan agenda di Alun-alun Jember, pagi itu. Namun, yang tampak begitu berbeda ialah formasi pemainnya. Dalang, pengiring musik latar dan sinden pun terlihat masih muda dan energik.

GURU: Ki Eddy Sabet Alap-alap saat mendampingi muridnya.

Mereka berasal dari pinggir selatan wilayah Jember, tepatnya di Jalan Kopral Sutomo 75, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu. Mereka adalah kelompok dari Sanggar Sasono Budoyo asuhan Eddy Siswanto atau juga dikenal sebagai Ki Eddy Sabet Alap-alap.

Penonton berkumpul di tenda sembari berteduh terlihat begitu antusias. Beberapa anak seumuran siswa SD mendekat ke panggung. Mereka pun naik dan memperhatikan lebih dekat pagelaran itu, tanpa ada yang melarang.

Beberapa anak bergantian untuk menjadi dalang. Tidak hanya cekatan memainkan alat musik tradisional, anak-anak itu pun begitu menguasai materi pendalangan. Menurut Ki Eddy, cerita yang dibawakan oleh anak didiknya ialah Gatot Kaca.

“Cerita yang dibawakan itu berurutan, mulai Gatot Koco lahir, menjadi kesatria melawan angkara, mendapat anugerah, dan menjadi raja. Karena yang memainkakn anak-anak, ceritanya tidak sampai ke Gatot Koco berperan sebagai panglima yang membunuh lawan sehingga mencetak anak-anak untuk tidak bersikap anarkis,” jelasnya kepada tadatodays.com usai pagelaran wayang.

Dalam pentas tersebut, Ki Eddy mengatakan, ceritanya dirombak lebih dulu sehingga dirasa cocok untuk usia anak. “Yang dipotong itu cerita terakhir karena saat Gatot Koco menjadi senopati, ia berani mati demi negaranya,” ujarnya saat beristirahat di atas panggung.

PENONTON: Para penonton anak-anak menyimak jalannya pagelaran dari dekat.

Tidak hanya bertujuan untuk mencocokkan cerita Gatot Koco untuk usia anak, Ki Eddy juga menginginkan Gatot Koco selalu terbang dan menjadi idola. “Jadi tidak sampai idola itu mati meskipun di pertempuran,” terangnya.

Pemain di pagelaran wayang kulit tersebut, lanjutnya, berusia dari sekitar umur kelas 3 SD hingga 1 SMA pada umumnya. Sebanyak dua anak berumur SMA kelas 1, tiga anak berumur kelas 3 SMP, tiga anak berumur kelas 3 SD. “Sindennya itu SMA, tapi penabuhnya itu ada dua orang yang kelas 5 SD,” jelasnya.

Rata-rata dalang, Ki Eddy menjelaskan, bisa menabuh alat musik latar. Dalang bermain saat itu hanya sebagian kecil saja. Hanya 9 orang dan mereka mendalang secara bergantian. “Jadi sembilan orang itu dibagi mulai dari yang kecil, kamu lahirnya Gatot Koco, agak besar Gatot Koco mulai jadi kesatria, sesuai tingkat umurnya,” katanya.

Bagaimanapun juga, menurut Ki Eddy, terdapat perbedaan kualitas antara pemain dalam cara merangkai atau nyeblake wayang. “Beda antara anak SD dan SMP, ototnya lebih kuat anak SMP. Cara pikirnya ketika diberi materi pun lebih cerdas yang SMP,” ungkapnya.

Selama ini, tambahnya, pihaknya selalu latihan tiga kali dalam satu pekan yaitu pada Selasa, Jumat dan Minggu. Untuk melatih anak-anak itu, yang dilakukan awal ialah memberi naskah cerita dulu. “Dibacakan oleh dalangnya sendiri atau pembinanya dan diberi gambaran peragaan, kamu harus gini harus ini. Dibeda-bedakan semua,” jelasnya.

Tidak hanya itu, pihakya juga memanfaatkan gawai sebagai media latihan. Ki Eddy mengirimkan hasil rekaman suara naskah yang dibacakan untuk anak didiknya. “Anak-anak kan tahunya itu dari perekam suara, seperti suara Bima seperti ini, Bagong, Arjuna,” tuturnya.

Kesulitan yang dihadapinya saat melatih anak-anak, Ki Eddy menjelaskan, ialah ketika anak tersebut tidak berbahasa Jawa atau berasal dari keluarga dengan adat Jawa yang kental. Ia juga menilai bahwa naluri seni seorang anak turut berpengaruh. “Anak jadi dalang itu, tidak semua bisa. Karena naluri seninya tinggi, akhirnya gampang diarahkan,” ungkapnya.

Pernah sekali Ki Eddy memiliki anak didik yang menggunakan bahasa Madura dalam kesehariannya. Anak yang bernama Sufi dan memiliki keinginan besar untuk mendalang itu berasal dari Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo. “Akhirnya, saya memberikan naskah berbahasa Indonesia,” kisah Ki Eddy.

MUSIK: Para pemain musik latar yang masih muda.

Terkadang, Ki Eddy menceritakan, ia mendapatkan murid berumur kelas 2 SD yang masih belum bisa membaca. Sebabnya, pengajarnya menuntun anak tersebut dengan sabar dan lama. Namu, Ki Eddy memilih caranya sendiri untuk mengatasi hal itu. “Akhirnya dia hafalan dari suara yang didengar,” jelasnya.

Selain itu, Ki Eddy mengatakan, untuk melatih muridnya, ia ajak mereka untuk menonton pagelaran wayang kulit. “Kalau untuk anak-anak, kita didik dulu 15 menit, 30 hingga 1 jam, itu terus menerus. Kami ingin anak itu tangguh,” katanya.

Sementara, salah satu pendalang cilik sanggar Sasono Budoyo, Satria mengaku senang saat mendalang sebab dirinya memiliki kemauan tinggi. “Dari dulu ketika masih kecil, umur TK suka lihat wayangnya romo (Ki Eddy, red). Lama-lama suka dan menjadi dalang,” jelasnya yang sudah belajar dalang dua tahun lamanya.

Untuk cerita yang sudah dihafalnya, Satria mengaku ada 12 cerita yang dihafal.  Dalang cilik yang memiliki nama panggung Ki Satria itu menjelaskan bahwa kesulitas yang ditemuinya saaat belajar ialah suluk. “Suluk itu lagu vokal dalam jawa, kan harus menyesuaikan dengan gamelan itu, supaya tidak fals,” jelas siswa kelas 1 SMP Negri Gumukmas 1 itu.

Bukan hanya hafal 12 cerita, Satria mengatakan juga bisa menirukan suara dari 10 karakter. Selain itu, ia dapat memainkan alat musik latar. Dalam persiapan untuk pentas itu, ia tidak menjalankan latihan khusus. “Langsung jadi, soalnya biasa latihan,” katanya. (iaf/why)


Share to